Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bahaya Mikroplastik: dari Sampah di Laut hingga Masuk ke Tubuh Manusia

Kompas.com, 11 Mei 2026, 20:39 WIB
Gloria Setyvani Putri

Penulis

Sumber BRIN

KOMPAS.com – Ancaman mikroplastik di lingkungan laut Indonesia kini berada pada level yang mengkhawatirkan.

Partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter ini tidak lagi hanya mengapung di permukaan air, tetapi telah menyebar ke daratan, udara, hingga masuk ke dalam rantai makanan manusia.

Pakar kelautan dari BRIN, Prof. Muhammad Reza Cordova, menegaskan bahwa laut sebenarnya bukan sumber pencemaran, melainkan titik akhir dari sistem pengelolaan sampah yang belum optimal.

Mikroplastik bukan lagi sekadar sampah plastik berukuran kecil, melainkan pencemar yang telah menyebar ke daratan, laut, udara, hingga masuk ke rantai makanan manusia,” ujar Prof. Reza dalam Webinar ISOI, Sabtu (9/5/2026).

Baca juga: Teluk Jakarta Tercemar 5 Logam Berat, Awas Kerang dan Kepiting

Fragmentasi yang Tak Pernah Usai

Berdasarkan data yang dipaparkan, produksi plastik dunia pada 2022 telah menyentuh angka 460 juta ton.

Masalahnya, plastik di alam tidak pernah benar-benar terurai sempurna secara biologis. Sebaliknya, benda ini hanya mengalami fragmentasi menjadi partikel yang lebih kecil, yakni mikroplastik hingga nanoplastik.

Prof. Reza merinci dua jenis mikroplastik yang kini mengepung perairan kita:

  • Mikroplastik Primer: Sengaja diproduksi dalam ukuran kecil, seperti pelet plastik industri atau bahan pembersih dalam kosmetik (microbeads).
  • Mikroplastik Sekunder: Berasal dari pecahan benda plastik besar yang hancur akibat paparan sinar matahari dan hantaman gelombang laut.

Mengendap hingga Laut Dalam Indonesia

Hasil riset menunjukkan fakta memilukan: mikroplastik telah ditemukan di hampir seluruh wilayah perairan Indonesia, mulai dari sungai, waduk, danau, hingga laut lepas. Partikel ini terbawa melalui sungai, saluran limbah, bahkan atmosfer.

Proses oseanografi seperti arus laut dan perubahan musim di Indonesia turut memengaruhi distribusi polutan ini. Pada wilayah perairan tertutup seperti teluk dan estuari, sirkulasi air yang lambat menjadikannya hotspot atau titik penumpukan mikroplastik.

Bahkan, pencemaran ini telah mencapai palung laut terdalam.

"Partikel mikroplastik dapat mengalami proses pengendapan dan terbawa ke dasar laut melalui agregasi dengan partikel organik maupun proses biologis lainnya," jelas Prof. Reza.

Akibatnya, laut dalam menjadi gudang akumulasi jangka panjang yang sangat sulit dipulihkan.

Baca juga: Bukan dari Makanan, Mikroplastik Ternyata Sudah Ada di Tubuh Ikan Sejak Lahir

Bahaya bagi Biodiversitas dan Manusia

Dampak mikroplastik terhadap organisme laut sangat kompleks. Selain menyebabkan gangguan fisik seperti penyumbatan saluran pencernaan, partikel ini juga bertindak sebagai "magnet" bagi zat berbahaya lainnya.

Mikroplastik diketahui dapat membawa logam berat, bahan kimia toksik, dan mikroorganisme patogen. Saat tertelan oleh ikan atau kerang, zat-zat tersebut dapat terlepas di dalam tubuh organisme dan akhirnya sampai ke meja makan manusia.

Menghadapi ancaman yang semakin nyata ini, Prof. Reza menekankan pentingnya penanganan sistematis. Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, perbaikan tata kelola sampah dari hulu, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama.

"Laut yang bersih bukan hanya penting bagi kehidupan saat ini, tetapi juga merupakan warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang," pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau