Penulis
KOMPAS.com – Sebuah fenomena astronomi langka kembali terjadi di wilayah udara Indonesia.
Asteroid berukuran mini yang diberi nama 2026 JN4 dilaporkan jatuh di perairan Laut Arafura, Indonesia, pada Jumat (15/5/2026) pukul 20.44 WIB.
Meskipun sempat menembus atmosfer, masyarakat tidak perlu khawatir.
Sebagian besar massa asteroid berdiameter sekitar 1 meter ini telah teruapkan selama fase gesekan dengan atmosfer Bumi.
Hanya sebagian kecil, dalam orde beberapa kilogram saja, yang menyentuh paras Bumi. Namun karena jatuh di perairan laut, mustahil untuk bisa menemukannya.
Baca juga: Senin Depan, Asteroid 2026 JH2 Akan Melintas Sangat Dekat dengan Bumi
Sebelum jatuh, asteroid 2026 JN4 memasuki atmosfer Bumi pada suatu titik di selatan garis perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini dengan sudut lintasan 18 derajat.
Gesekan ekstrem dengan lapisan udara pelindung Bumi ini mengubah asteroid mini tersebut menjadi meteor superterang (fireball) yang membelah langit malam.
Astronom amatir dari Lembaga Ekuivalensi Ekliptika, Marufin Sudibyo, menjelaskan bahwa hanya sebagian sangat kecil dari asteroid ini yang berhasil mencapai permukaan Bumi.
"Sebagian besar massa asteroid sudah teruapkan di atmosfer karena panas yang ekstrem saat bergesekan. Hanya sebagian kecil saja, dalam orde beberapa kilogram, yang berhasil menyentuh paras Bumi sebagai meteorit. Namun, karena jatuh di perairan dalam seperti Laut Arafura, secara teknis mustahil bagi kita untuk bisa menemukan atau mengevakuasi sisa batuan tersebut," ungkap Marufin Minggu (17/5/2026).
Penemuan asteroid 2026 JN4 tergolong sangat dramatis. Karena ukurannya yang kecil, objek luar angkasa ini baru berhasil dideteksi oleh para astronom dunia hanya 3,5 jam sebelum menumbuk Bumi.
Selama waktu yang singkat itu, pergerakannya hanya sempat dipantau dari enam titik pengamatan di seluruh dunia.
Berdasarkan data pelacakan, asteroid 2026 JN4 masuk ke dalam kelompok asteroid kelas Apollo. Ini adalah gerombolan asteroid dekat-Bumi (Near-Earth Asteroids) yang memiliki lintasan orbit memotong orbit Bumi dan Mars.
Baca juga: Sempat Ditakuti, Asteroid Dewa Kehancuran Bakal Melintas Dekat Bumi
Karakteristik Orbit 2026 JN4Sebelum takdirnya berakhir di perairan Indonesia, asteroid ini mengelilingi Matahari pada orbit yang tidak stabil.
Karakteristik orbitnya terpantau cukup lonjong dengan tingkat kelonjongan (eksentrisitas) sebesar 0,3.
Selain lonjong, bidang edar asteroid ini juga miring atau tidak sejajar dengan bidang edar Bumi, dengan sudut kemiringan (inklinasi) sebesar 12 derajat.
Orbitnya merentang dari jarak dekat Bumi hingga sejauh 1,98 Satuan Astronomi (SA), yang merupakan sisi dalam dari Sabuk Asteroid utama. Saat terakhir kali menyusuri jalurnya, asteroid ini diketahui memiliki periode orbital selama 620 hari untuk sekali mengelilingi Matahari.
Peristiwa jatuhnya 2026 JN4 menjadi pengingat penting bagi komunitas astronomi global mengenai pentingnya meningkatkan sistem pemantauan objek dekat-Bumi, terutama untuk mendeteksi asteroid-asteroid berukuran mini yang sering kali datang tanpa peringatan lama.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang