Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Asteroid Apophis "God of Chaos" Dekati Bumi 2029, Bisa Dilihat Mata Telanjang

Kompas.com, 20 April 2026, 11:33 WIB
Gloria Setyvani Putri

Penulis

Sumber ABC

KOMPAS.com - Sebuah fenomena langit yang sangat langka akan segera terjadi dan dapat disaksikan langsung oleh mata manusia tanpa bantuan alat optik.

Asteroid 99942 Apophis, yang dijuluki sebagai "Dewa Kekacauan" (God of Chaos), dipredikso akan melintas sangat dekat dengan Bumi pada 13 April 2029.

Menurut NASA, ini adalah salah satu objek terdekat yang pernah tercatat untuk objek sebesar ini dalam sejarah astronomi modern.

Baca juga: Asteroid Ryugu Simpan Semua Bahan Pembentuk DNA dan RNA

Nama Apophis diambil dari dewa kegelapan, kekacauan, dan api dalam mitologi Mesir kuno.

Asteroid ini sempat memicu kekhawatiran global saat pertama kali ditemukan pada tahun 2004 karena diprediksi memiliki peluang menabrak Bumi pada tahun 2029, 2036, atau 2068.

Namun, berkat pelacakan intensif selama bertahun-tahun menggunakan teleskop optik dan radar berbasis darat, para astronom kini bernapas lega.

NASA secara resmi menyatakan bahwa tidak ada risiko tabrakan setidaknya untuk 100 tahun ke depan.

Lebih Dekat dibanding Satelit

Dikutip ABC News, pada puncaknya di tanggal 13 April 2029, Apophis diperkirakan akan melintas dalam jarak sekitar 20.000 mil atau 32.000 kilometer dari permukaan Bumi. Jarak ini hampir 12 kali lebih dekat dibandingkan jarak rata-rata Bulan ke Bumi.

Bahkan, lintasan ini berada lebih dekat daripada banyak satelit yang berada di orbit geosinkron. Karena jaraknya yang sangat dekat, pengamat di belahan Bumi Timur akan dapat melihat asteroid ini sebagai titik cahaya yang bergerak cepat hanya dengan mata telanjang, tanpa perlu bantuan teropong atau teleskop.

“Jarak ini menjadikannya salah satu pendekatan terdekat yang pernah tercatat untuk objek sebesar ukurannya dan merupakan peristiwa yang sangat langka,” tulis NASA dalam pernyataannya.

Relik Purba Tata Surya

Asteroid ini merupakan sisa-sisa material mentah dari masa awal pembentukan Tata Surya sekitar 4,6 miliar tahun lalu.

Meskipun bentuk pastinya belum diketahui secara detail, Apophis memiliki diameter rata-rata sekitar 1.115 kaki (340 meter) dengan poros panjang mencapai 1.480 kaki (450 meter).

Permukaan Apophis telah mengalami pelapukan selama jutaan tahun akibat paparan cuaca antariksa, termasuk angin surya dan sinar kosmik.

Saat melintas nanti, gravitasi Bumi kemungkinan akan sedikit mengubah orbit asteroid ini di sekitar Matahari, serta memengaruhi periode orbitnya.

Baca juga: Komet PanSTARRS Capai Titik Terang Minggu Ini, Pakar Jelaskan Cara Melihatnya

Misi Penyelidikan Internasional

Kedatangan Apophis dipandang sebagai peluang emas bagi komunitas sains dunia.

NASA telah mengarahkan ulang pesawat ruang angkasanya untuk melakukan pertemuan (rendezvous) dengan Apophis segera setelah ia melintas. Sementara itu, Badan Antariksa Eropa (ESA) juga mengirimkan misi khusus untuk mempelajarinya.

Setelah terbang lintas pada April 2029 nanti, Apophis akan dikategorikan ke dalam kelompok asteroid "Apollo". Ini adalah keluarga asteroid yang memotong orbit Bumi, namun memiliki orbit mengelilingi Matahari yang lebih lebar daripada orbit Bumi.

Melalui observasi jarak dekat ini, para ilmuwan berharap dapat memahami lebih dalam mengenai sifat fisik dan komposisi asteroid, yang pada gilirannya akan membantu manusia meningkatkan sistem pertahanan planet di masa depan.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau