Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mirip Manusia, Simpanse Gunakan Strategi Perang Terorganisir demi Wilayah

Kompas.com, 17 April 2026, 17:30 WIB
Gloria Setyvani Putri

Editor

KOMPAS.com – Konflik sosial yang selama ini identik dengan manusia ternyata juga terjadi di dunia satwa dengan cara yang mengejutkan.

Di Taman Nasional Kibale, Uganda, sebuah fenomena "perang saudara" antarkelompok simpanse terdeteksi memicu penurunan populasi secara drastis.

Fenomena ini mengungkap sisi kelam simpanse yang memiliki kemiripan perilaku sosial sangat dekat dengan manusia, termasuk dalam hal agresi terorganisir.

Baca juga: Mengapa Manusia dan Simpanse Tertarik pada Kristal? 

Simpanse dikenal sebagai kerabat terdekat manusia dalam pohon evolusi. Namun, kedekatan ini tidak hanya mencakup kecerdasan dan empati, tetapi juga kompleksitas konflik yang menyerupai perang pada peradaban manusia.

Ahli Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, menyebutkan bahwa kemiripan ini didasari oleh profil genetik yang hampir identik.

“Penelitian menunjukkan manusia berbagi sekitar 98–99 persen DNA dengan simpanse, lebih dekat secara genetis dibanding gorila. Seperti manusia, simpanse juga memiliki perilaku sosial kompleks seperti empati, kerja sama, hingga konflik terorganisir yang menyerupai perang,” tutur Prof Ronny dikutip dari laman IPB University.

Pecahnya Komunitas Ngogo

Konflik antarkelompok simpanse di Kibale menjadi salah satu contoh paling dramatis. Prof Ronny menuturkan, penelitian The University of Texas di jurnal Science mencatat awal mula konflik.

Konflik dramatis ini terjadi di komunitas besar Ngogo yang awalnya berjumlah sekitar 200 individu.

Komunitas ini pecah menjadi dua faksi yang bermusuhan: kelompok Barat dan kelompok Tengah. Perebutan wilayah, sumber daya, serta hilangnya figur pejantan tua sebagai penyeimbang sosial menjadi pemantik utama pertikaian.

Kelompok Barat diketahui melakukan serangan yang sangat terencana terhadap kelompok Tengah. Strategi ini disebut peneliti sebagai collective raids.

“Peneliti menyebut bentuk serangan kelompok Barat secara terorganisasi ini sebagai collective raids. Simpanse bekerja sama, menyusun strategi, hingga melakukan pembunuhan sistematis terhadap kelompok lain,” ujar Prof Ronny.

Serangan tersebut tidak hanya menyasar pejantan lawan, tetapi juga menyebabkan banyak betina dan anak-anak dari kelompok Tengah menjadi korban.

Dampak bagi Kelestarian Genetik
Dampak dari "perang" ini sangat fatal bagi keberlangsungan hidup mereka. Selain penurunan jumlah individu secara signifikan, struktur sosial kelompok yang tersisa pun hancur lebur.

“Kehilangan anggota kelompok mengakibatkan runtuhnya struktur sosial, melemahkan kerja sama, dan mengurangi kemampuan kelompok untuk bertahan hidup. Dampaknya, populasi yang berkurang drastis mempersempit variasi genetik, meningkatkan kerentanan terhadap penyakit, dan mengurangi daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan,” jelas Prof Ronny.

Hal ini menjadi pengingat bagi dunia konservasi bahwa ancaman terhadap satwa liar tidak selalu datang dari luar, seperti perburuan atau deforestasi, tetapi bisa muncul dari dinamika internal mereka sendiri.

Baca juga: Simpanse “Jenius” yang Bisa Membaca Huruf Mandarin dan Alfabet Inggris Mati di Usia 49

Strategi Konservasi Baru

Untuk mencegah kepunahan akibat konflik internal, Prof Ronny menekankan pentingnya strategi konservasi yang lebih komprehensif. Melindungi simpanse kini tidak lagi sekadar menjaga luas hutan, tetapi juga memahami psikologi sosial kelompoknya.

Langkah yang diusulkan meliputi pemantauan sosial jangka panjang dan intervensi ekologis, terutama menjaga keberadaan individu dewasa atau pejantan tua yang berfungsi meredam ketegangan sosial.

“Perlindungan habitat dan sumber daya harus dijaga, termasuk memastikan ketersediaan makanan dan ruang yang cukup agar pertempuran di wilayah tersebut tidak semakin meningkat,” tambahnya.

Menutup keterangannya, Prof Ronny menegaskan bahwa fenomena di Kibale adalah cermin kompleksitas biologis yang harus direspon dengan kebijakan internasional yang terintegrasi. "Konservasi perlu menggabungkan pemantauan sosial, perlindungan habitat, dan intervensi ekologis untuk menjaga keseimbangan komunitas," pungkasnya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau