Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Alkohol dalam Buah, Simpanse Ternyata Minum Setara Dua Gelas Sehari

Kompas.com, 19 September 2025, 21:45 WIB
Wisnubrata

Penulis

Sumber Earth.com

KOMPAS.com - Di hutan-hutan tropis Afrika, simpanse ternyata “minum alkohol” setiap hari — tanpa pernah memegang gelas. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa buah-buahan yang mereka makan mengandung etanol (alkohol) dalam kadar rendah, cukup untuk setara dengan satu hingga hampir dua minuman beralkohol standar per hari.

Namun, jangan bayangkan mereka berjalan sempoyongan. “Tidak ada tanda-tanda simpanse menjadi mabuk,” kata Aleksey Maro, peneliti dari University of California, Berkeley. Sebaliknya, paparan alkohol dosis rendah ini tampaknya menjadi bagian alami dari kehidupan mereka di alam liar.

Baca juga: Kesukaan Manusia Mengonsumsi Alkohol Menurun dari Kera?

Buah yang Memabukkan: Berapa Banyak Alkoholnya?

Tim peneliti yang dipimpin oleh Maro dan Profesor Robert Dudley meneliti buah yang dimakan simpanse di dua lokasi terkenal: Ngogo di Uganda dan Taï di Pantai Gading.

Hasilnya mengejutkan: dari 21 jenis buah yang dianalisis, kadar alkohol rata-rata adalah 0,26% berdasarkan berat. Jika dihitung berdasarkan frekuensi konsumsi, kadarnya meningkat menjadi 0,32% di Ngogo dan 0,31% di Taï.

Sekilas angka itu kecil. Tapi simpanse mengonsumsi buah matang dalam jumlah besar — sekitar 75% dari diet mereka, setara dengan beberapa kilogram per hari. Hasil akhirnya? Sekitar 14 gram etanol murni per hari, setara dengan satu gelas minuman standar di AS.

“Kalau disesuaikan dengan berat badan, karena simpanse rata-rata berbobot 40 kilogram sedangkan manusia 70 kilogram, konsumsi mereka setara hampir dua gelas,” jelas Maro.

Baca juga: Burung Ternyata Mengonsumsi Alkohol Lebih Sering dari Dugaan

Apakah Simpanse Mencari Alkohol – atau Hanya Gula?

Pertanyaan menarik pun muncul: apakah simpanse sengaja mencari alkohol? Atau mereka hanya mengincar buah paling manis?

Buah yang semakin matang memang semakin manis — dan semakin banyak mengandung etanol hasil fermentasi. Profesor Dudley menjelaskan, “Jika simpanse memilih buah yang lebih matang atau kaya gula, angka ini justru konservatif — kemungkinan konsumsi etanol mereka lebih tinggi dari yang kita hitung.”

Dengan kata lain, simpanse mungkin mendapatkan bonus alkohol hanya karena mereka mengejar kalori dan rasa manis.

Baca juga: Benarkah DNA Manusia dan Simpanse 99% Sama?

Jejak Evolusi: Mengapa Manusia Suka Alkohol

Meski tak terlihat mabuk, pola konsumsi ini memberi petunjuk evolusi. “Simpanse mengonsumsi alkohol dalam jumlah yang mirip dengan apa yang kita dapatkan jika makan makanan fermentasi setiap hari,” kata Maro.

Profesor Dudley sudah lama mengajukan hipotesis bahwa ketertarikan manusia pada alkohol adalah warisan dari nenek moyang pemakan buah. Bukti pendukung terus bertambah: monyet laba-laba liar juga memakan buah fermentasi, aye-aye dan slow loris yang hidup di penangkaran memilih nektar dengan kadar alkohol lebih tinggi, bahkan burung pun ditemukan memiliki metabolit alkohol di bulunya.

“Fenomena ini bukan hanya pada primata,” ujar Dudley. “Ini karakteristik umum hewan pemakan buah, dan sebagian peminum nektar.”

Baca juga: Simpanse Tahu Tanaman Mana yang Bisa Digunakan untuk Obat

Riset Lapangan yang Menantang

Untuk mengukur kadar etanol, Maro harus bekerja langsung di lapangan. Ia mengumpulkan buah utuh yang baru saja dimakan simpanse, lalu membekukannya di kamp untuk menghentikan proses pematangan.

Di laboratorium darurat, ia menggunakan tiga metode berbeda — mirip alat tes napas, kromatograf gas portabel, dan uji warna kimia — untuk memastikan hasil yang akurat.

Penelitian ini bahkan melibatkan pengumpulan urin simpanse di pagi hari. “Itu berarti saya harus berdiri di bawah sarang mereka saat fajar dengan payung, menunggu apa pun yang jatuh,” kata Maro sambil tertawa.

Baca juga: 3 Fakta Mengejutkan Simpanse, dari Penghasut Perang dan Suka Daging

Alkohol Adalah Bagian dari Alam

Temuan ini memperkuat ide bahwa paparan alkohol adalah bagian alami dari ekosistem. Simpanse liar hidup dengan “tetesan” alkohol konstan setiap hari — dan kemungkinan nenek moyang kita juga demikian.

Hal ini bisa menjelaskan mengapa makanan dan minuman fermentasi terasa “memuaskan” bagi manusia hingga kini. Memahami keterkaitan biologis dan budaya ini dapat membantu kita meneliti lebih jauh penyebab kecenderungan konsumsi alkohol di masyarakat modern.

Studi ini dipublikasikan di Science Advances dan membuka bab baru tentang bagaimana alkohol, buah, dan evolusi saling terhubung.

Baca juga: Kenapa Simpanse Sangat Cerdas?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau