Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pilu Anak-anak Gaza, Kehilangan Kemampuan Bicara karena Terlalu Menderita

Kompas.com, 30 Mei 2026, 13:01 WIB
BBC News Indonesia,
Danur Lambang Pristiandaru

Tim Redaksi

GAZA CITY, KOMPAS.com - Kekerasan, kehancuran, dan kematian di Gaza membuat sejumlah anak merespons penderitaan yang luar biasa itu dengan diam.

Salah satunya adalah Adam. Sebelum perang terjadi, Adam adalah anak yang ceria dan banyak bicara. Namun saat usianya menginjak lima tahun, dia mendadak berhenti berinteraksi dengan dunia.

"Tidak ada satu pun anak di Gaza yang tidak trauma," kata psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, ke BBC Mundo.

Baca juga: Ingkari Gencatan Senjata, Netanyahu Perintahkan Militer Israel Kuasai 70 Persen Gaza

"Ada lebih dari satu juta anak yang telah menderita trauma parah."

Katrin telah melakukan dua misi kemanusiaan ke Gaza pada 2024 dan 2025 bersama Medecins Sans Frontieres (MSF), untuk melayani anak-anak yang kehilangan kemampuan berbicara akibat konflik.

Katrin tak mengetahui dengan pasti berapa banyak anak di Gaza yang berhenti berkomunikasi. Namun, Katrin mengaku menemukan puluhan kasus serupa di Gaza.

Dokter-dokter setempat mengatakan kepada jaringan Al Jazeera bahwa kasus seperti itu jumlahnya terus meningkat.

Enam bulan pengumuman gencatan senjata di Gaza terlewati. Namun, kekerasan masih berlanjut dan serangan-serangan Israel terus berlanjut secara rutin, kata Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia, Volker Turk, April silam.

Sedikitnya 846 orang, yang mencakup perempuan dan anak-anak, tewas di Gaza dalam rentetan serangan Israel sejak gencatan itu, menurut kementerian kesehatan setempat.

Baca juga: BoP Dapat Miliaran Dollar dari Anggota, Dana Rekonstruksi Gaza Justru Masih Kosong

Israel, yang mengklaim melakukan serangan untuk membela pasukannya dan menghadapi ancaman dari milisi Hamas, menyatakan lima dari tentaranya tewas dalam periode itu.

Hamas dan Israel saling menuduh satu sama lain melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Sejak Oktober 2023, pasukan Israel dilaporkan telah membunuh lebih dari 20.000 anak di Gaza dan menyebabkan lebih dari 41.000 terluka, menurut UNICEF.

Secara total, serangan-serangan Israel menewaskan lebih dari 72.000 orang yang mayoritas warga sipil, dan melukai lebih dari 172.000, menurut kementerian kesehatan Gaza.

BBC Mundo mewawancarai Katrin Glatz Brubakk tentang trauma yang menyebabkan anak-anak Gaza kehilangan kemampuan berbicara.

Lalu, dampak-dampak kekerasan pada otak mereka, dan mengapa jalan menuju pemulihan terkadang dimulai dengan meniup gelembung sabun.

Berikut petikan wawancaranya.

Baca juga: Nestapa Idul Adha di Gaza, Tak Ada Hewan Kurban, Harga Domba Capai Rp 124 Juta

Mengapa ada anak-anak di Gaza berhenti berbicara?

Katrin Glatz Brubakk meniup gelembung bersama Maria, bocah tiga tahun, di Rumah Sakit Nasser di Gaza selatan.MSF via BBC INDONESIA Katrin Glatz Brubakk meniup gelembung bersama Maria, bocah tiga tahun, di Rumah Sakit Nasser di Gaza selatan.

Di Gaza, anak-anak hidup dalam trauma parah di kondisi yang penuh ketidakpastian dam berlangsung lama. Anak-anak itu mengkhawatirkan nyawa mereka, hidup keluarga mereka, teman-teman dan orang yang mereka kasihi.

Faktor-faktor itu membuat tingkat stres dan dampak pada sistem saraf anak-anak sangat luar biasa.

Reaksi dari tekanan itu berbeda di masing-masing anak. Beberapa menunjukan sikap gelisah, susah tidur, emosi, hingga berteriak. Dan, penderitaan seperti itu bisa dideteksi.

Namun, ada anak-anak yang bereaksi dengan membisu sepenuhnya. Seolah-olah sistem saraf mereka berkata: "Saya tidak kuat lagi".

Akhirnya, cara yang dilakukan untuk melindungi diri mereka adalah dengan menarik diri. Dan, bahasa adalah bagian dari hal itu.

Bagi anak-anak itu, diam menjadi cara untuk tidak berinteraksi dengan dunia, yang tidak berhenti membuat mereka menderita dan sakit.

Jadi diam bukan pilihan yang disadari, melainkan respons neurologis terhadap stres dan trauma ekstrem.

Banyak orang sulit memahami penderitaan yang telah dan sedang dialami oleh anak-anak di Gaza.

Baca juga: Pengakuan Aktivis Flotilla Gaza yang Ditangkap Israel, Ada yang sampai Patah Tulang

Bisakah Anda memberi kami gambaran tentang trauma ekstrem yang mereka derita?

Tidak ada satu pun anak di Gaza yang tidak trauma. Ada lebih dari satu juta anak yang telah mengalami trauma parah.

Mereka harus mengungsi, mereka kehilangan rumah, mereka mustahil pergi ke sekolah karena sekolah-sekolah dibom.

Semua anak-anak merasakan kehilangan, seperti anggota keluarga, teman sekolah, guru, seorang tetangga. Banyak anak-anak melihat tubuh-tubuh yang terpotong-potong dan mencium bau darah yang tumpah.

Beberapa anak bercerita kepada saya bahwa mereka membantu mengumpulkan sisa-sisa tubuh manusia atau bagian-bagian otak di jalan. Itu adalah trauma ekstrem.

Dan itu tidak terjadi hanya sekali, melainkan berkali-kali dialami sebagian besar anak-anak.

Selain itu, mereka juga telah kehilangan seluruh rasa aman. Untuk memiliki perkembangan yang baik, anak-anak perlu memiliki kepercayaan di tingkat tertentu pada dunia, keyakinan bahwa dunia bisa menjadi baik, bahwa orang-orang tidak ingin menyakiti Anda.

Rasa aman ini telah hilang sepenuhnya karena besarnya kehancuran, yang berdampak pada semua orang di Gaza. Tidak ada anak di Gaza yang bisa tidur dengan kepastian bahwa mereka akan bangun keesokan harinya.

Mereka tidak memiliki kamar yang bisa mereka masuki, menutup pintu, dan tahu bahwa tidak ada yang bisa menjangkau mereka.

Jadi perang ini tidak hanya menyebabkan trauma, tetapi juga memengaruhi seluruh pandangan dunia mereka.

Baca juga: Aktivis Flotilla Gaza Dipaksa Israel Berlutut dengan Tangan Diikat, Menlu RI Buka Suara

Bisakah Anda bercerita tentang anak-anak yang Anda tangani di Gaza?

Katrin Glatz Brubakk melakukan dua misi ke Gaza bersama Médecins Sans Frontières. Psikoterapis anak ini adalah profesor di Universitas Sains dan Teknologi Norwegia, NTNU.MSF via BBC INDONESIA Katrin Glatz Brubakk melakukan dua misi ke Gaza bersama Médecins Sans Frontières. Psikoterapis anak ini adalah profesor di Universitas Sains dan Teknologi Norwegia, NTNU.

Saya ingin berbicara kepada Anda tentang Adam, seorang anak laki-laki berusia lima tahun. Dia adalah anak yang sangat lincah, ceria, banyak bicara, dan aktif. Dia senang berada di luar ruangan dan bermain.

Setelah pertikaian dimulai pada 2023, keluarganya dipaksa mengungsi dan pindah ke sebuah tenda. Kakek dan neneknya tinggal sedikit lebih jauh, juga di sebuah tenda.

Suatu hari, Adam dan ayahnya ingin mengunjungi kakek dan neneknya, di sebuah daerah yang tidak ada perintah evakuasi dan seharusnya aman.

Tetapi tanpa peringatan sebelumnya, sebuah proyektil jatuh sangat dekat dengan mereka dan melukai Adam serta ayahnya dengan parah.

Mereka dibawa dengan segera ke rumah sakit. Tetapi seperti yang biasa terjadi ketika ada serangan-serangan ini, ada begitu banyak korban sehingga tidak ada ranjang rumah sakit yang kosong. Banyak orang ditempatkan di lantai.

Adam dan ayahnya berada di lantai ruang gawat darurat menunggu untuk diobati. Dan, anak itu melihat dan mendengar bagaimana ayahnya, di sampingnya, mengembuskan napas terakhirnya.

Halaman:

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Pilu Anak-anak Gaza, Kehilangan Kemampuan Bicara karena Terlalu Menderita
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat