Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jannus TH Siahaan
Doktor Sosiologi

Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.

Pertemuan Puncak Trump-Xi, Upaya Menyulap Jurang Jadi Jembatan

Kompas.com, 16 Mei 2026, 13:35 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PERTEMUAN puncak antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei 2026, berlangsung pada saat kondisi dunia sedang kritis.

Di tengah lanskap global yang carut-marut oleh perang Iran dan blokade Selat Hormuz, pertemuan ini menyerupai sidang "Dewan Direktur Dunia".

Ketika dua pemimpin dengan kekuatan ekonomi terbesar di planet ini duduk bersama di Balai Besar Rakyat, mereka tidak hanya sedang membicarakan tarif dagang, tapi juga sedang merancang arsitektur baru tatanan dunia yang semakin transaksional.

Beijing memberikan sambutan luar biasa megah, sebuah "diplomasi karpet merah" yang dirancang khusus untuk membuai ego seorang Donald Trump.

Namun, di balik dentuman meriam penyambutan, terdapat kalkulasi “dingin” tentang bagaimana mencegah keruntuhan ekonomi global akibat disrupsi energi belakangan ini.

Krisis Hormuz yang bermula pada Februari 2026, setelah Operasi Epic Fury Amerika Serikat dan Israel menjadi hantu yang membayangi setiap jabat tangan di Beijing.

Bagi China, penutupan urat nadi energi dunia oleh Iran adalah ancaman eksistensial terhadap pertumbuhan domestiknya.

Bagi Trump, lonjakan harga minyak yang memicu inflasi hingga 3,8 persen di Amerika Serikat adalah beban politik yang sangat berat menjelang pemilihan umum paruh waktu.

Inilah yang memaksa kedua seteru ini untuk sejenak mengesampingkan permusuhan ideologis dan beralih ke meja negosiasi.

Dengan kata lain, ketidakpastian global telah menciptakan titik temu pragmatis yang tidak terelakkan antara kedua pihak.

Baca juga: Di Balik Rupiah yang Rapuh

Trump datang dengan membawa rombongan yang lebih mirip delegasi korporat papan atas daripada staf diplomatik tradisional.

Kehadiran Elon Musk dan Jensen Huang dari Nvidia di dalam Air Force One mengirimkan pesan yang sangat jelas bahwa diplomasi Amerika Serikat di bawah Trump tetaplah "diplomasi bisnis".

Trump ingin menunjukkan kepada konstituennya bahwa ia adalah negosiator ulung yang mampu membuka pintu pasar China yang selama ini terkunci rapat.

Sebaliknya, Xi Jinping menggunakan momen ini untuk memproyeksikan China sebagai kekuatan dunia yang stabil dan bertanggung jawab, kontras dengan persepsi volatilitas kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Namun, di balik optimisme yang dicitrakan lewat senyum dan pernyataan "sahabat baik", jurang perbedaan antara Washington dan Beijing tetaplah dalam.

KTT ini merupakan upaya stabilisasi taktis, jeda di tengah kompetisi panjang yang melelahkan. Karena itu, keberhasilan KTT Beijing tidak bisa lagi diukur dari kemegahan jamuan makan malam di Kota Terlarang, tapi dari sejauh mana mekanisme baru yang dibentuk mampu meredam gesekan-gesekan di masa depan.

Dan dunia sedang menyaksikan lahirnya normalitas baru yang kompetitif, tapi terkendali, di mana setiap kesepakatan adalah hasil dari barter kepentingan yang sangat kental di antara kedua pihak.

Latar belakang paling krusial yang mempercepat pertemuan ini adalah kegagalan sistem keamanan energi di Timur Tengah. Perang Iran 2026 telah mengubah Selat Hormuz menjadi zona kematian bagi perdagangan energi global.

Ketika Iran merespons serangan Amerika Serikat dengan menanam ranjau laut dan menyerang kapal-kapal tanker, harga minyak Brent melonjak hingga 126 dolar per barel.

Fenomena ini menghantam jantung ekonomi China yang sangat bergantung pada impor minyak mentah, sekaligus menggerus daya beli warga Amerika Serikat. Artinya, KTT Beijing secara fundamental adalah respons terhadap kegawatdaruratan energi ini.

Amerika Serikat menginginkan China menggunakan pengaruh ekonominya yang besar terhadap Teheran untuk memaksa Iran membuka kembali navigasi secara penuh.

Sebagai pembeli terbesar minyak Iran, Beijing memegang kunci yang memang tidak dimiliki Washington.

Trump secara eksplisit meminta Xi Jinping untuk tidak sekadar menjadi penonton dalam krisis ini.

Halaman:

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Pertemuan Puncak Trump-Xi, Upaya Menyulap Jurang Jadi Jembatan
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat