Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Jannus TH Siahaan
Doktor Sosiologi

Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.

Mengapa ASEAN Pilih Bungkam di Tengah Bara Teluk?

Kompas.com, 14 Mei 2026, 10:38 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KTT ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina, yang berakhir pada 9 Mei 2026, menyajikan pemandangan kontradiktif.

Di bawah pendar lampu Mactan Expo Center dan dentum perkusi penari jalanan Cebu, para pemimpin Asia Tenggara berkumpul dengan beban sejarah yang cukup berat.

Prahara di Timur Tengah yang dipicu oleh Operation Epic Fury sejak akhir Februari 2026 lalu, telah menjelma menjadi gempa tektonik yang meruntuhkan fondasi ekonomi dan keamanan energi kawasan Indo-Pasifik, terutama ASEAN.

Sejak blokade Selat Hormuz diberlakukan pada Maret 2026, denyut nadi ekonomi dunia seakan berhenti berdetak, meninggalkan negara-negara pengimpor energi dalam kondisi sekarat strategis.

Guncangan ini bermula ketika eskalasi militer terbuka antara Iran dan Amerika Serikat melumpuhkan Selat Hormuz, arteri utama yang menyalurkan seperlima pasokan minyak dan sepertiga gas alam cair (LNG) dunia.

Bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara, blokade ini adalah ancaman eksistensial. Kawasan ini bergantung pada Timur Tengah untuk 55 persen hingga 60 persen kebutuhan minyak mentahnya, kerentanan yang kini bertransformasi menjadi keadaan darurat energi akut.

Ketika harga minyak mentah Brent menembus angka 120-an dollar AS per barel, stabilitas domestik negara-negara anggota mulai retak di bawah tekanan inflasi yang hebat, dengan tambahan biaya impor energi mencapai 3,36 miliar dollar AS setiap bulannya di seluruh kawasan.

Namun, di tengah urgensi yang mencekik tersebut, hasil KTT Cebu justru menampilkan pemandangan yang ganjil.

ASEAN memilih untuk membatasi agendanya pada program inti (bare-bones program), fokus pada mitigasi dampak ekonomi dan perlindungan warga negara, sembari menutup rapat pintu bagi peran mediasi perdamaian yang lebih aktif.

Keheningan kolektif ini menimbulkan pertanyaan kritis, mengapa blok yang secara ekonomi paling terdampak oleh krisis ini justru membiarkan Pakistan dan Oman mengambil alih panggung diplomasi perdamaian?

Mengapa ASEAN, dengan modalitas uniknya, tidak tampil sebagai mediator global untuk meredam api peperangan di Timur Tengah?

Jawaban atas pertanyaan tersebut mengungkap lapisan kompleksitas yang selama ini tersembunyi di balik retorika "Sentralitas ASEAN."

Pengabaian peran mediasi global di Cebu bukan terjadi karena ketidaksengajaan, tapi hasil dari kalkulasi politik yang pelik dan kelumpuhan strategis yang bersumber dari fragmentasi internal.

ASEAN sedang berada dalam kondisi "limbo geopolitik", meminjam istilah Presiden Ferdinand Marcos Jr., di mana kemampuan untuk bertindak secara kolektif tergilas oleh kepentingan nasional yang saling bertabrakan dan tekanan hebat dari kekuatan besar luar kawasan.

Ketiadaan langkah diplomasi perdamaian ASEAN di tengah krisis Iran-AS 2026 berakar pada belenggu institusional yang dikenal sebagai "ASEAN Way."

Prinsip konsensus dan non-intervensi, yang selama ini dipuja sebagai penjaga harmoni, kini justru menjadi "pagar" yang membatasi imajinasi diplomatik kawasan.

Di Cebu, energi para pemimpin habis terserap untuk merumuskan pernyataan bersama yang cukup netral agar tidak menyinggung faksi mana pun.

Ketidakhadiran otoritas pusat yang kuat membuat ASEAN tidak memiliki mandat untuk bertindak sebagai penengah dalam konflik militer yang terjadi di luar batas geografisnya, sehingga lebih memilih untuk bersembunyi di balik perisai teknokrasi ekonomi dianggap sebagai pilihan yang paling aman secara politis.

Fragmentasi internal di antara negara anggota semakin memperlemah posisi tawar regional. Krisis di Teluk telah mengekspos garis retakan ideologis yang cukup tajam.

Negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim seperti Indonesia dan Malaysia secara konsisten menyuarakan solidaritas terhadap Teheran dan mengutuk agresi AS-Israel.

Halaman:

Terkini Lainnya
Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel dan Hizbullah, Selamatkan Negosiasi dengan Iran?
Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel dan Hizbullah, Selamatkan Negosiasi dengan Iran?
Internasional
Iran Setop Sementara Perundingan dengan AS, Salahkan Israel
Iran Setop Sementara Perundingan dengan AS, Salahkan Israel
Internasional
Trump Sesumbar Negosiasi dengan Iran Makin Cepat, Teheran Malah Ancam Perluas Perang
Trump Sesumbar Negosiasi dengan Iran Makin Cepat, Teheran Malah Ancam Perluas Perang
Internasional
[POPULER GLOBAL] Iran Punya Kartu As Baru | Alarm Kelaparan di AS
[POPULER GLOBAL] Iran Punya Kartu As Baru | Alarm Kelaparan di AS
Global
Diplomasi di Tengah Asap Perang AS-Iran
Diplomasi di Tengah Asap Perang AS-Iran
Global
'Jurassic Park' Jadi Nyata, Peneliti Swedia Garap Proyeknya
"Jurassic Park" Jadi Nyata, Peneliti Swedia Garap Proyeknya
Global
Rekor, Rusia Gempur Ukraina dengan 8.150 Drone dan 211 Rudal
Rekor, Rusia Gempur Ukraina dengan 8.150 Drone dan 211 Rudal
Global
Netanyahu Bangga Israel Sangat Dicintai di India, Klaim Dapat Dukungan Besar-besaran
Netanyahu Bangga Israel Sangat Dicintai di India, Klaim Dapat Dukungan Besar-besaran
Internasional
Trump Minta Imbalan atas Bantuan Kesehatan, Negara Afrika Menolak
Trump Minta Imbalan atas Bantuan Kesehatan, Negara Afrika Menolak
Internasional
AS-Iran Jual-Beli Serangan Lagi, Situasi Kian Tak Terkendali
AS-Iran Jual-Beli Serangan Lagi, Situasi Kian Tak Terkendali
Internasional
Ledakan di Pabrik Perusahaan Ruang Angkasa Korea Selatan, 5 Tewas
Ledakan di Pabrik Perusahaan Ruang Angkasa Korea Selatan, 5 Tewas
Global
Bukan AS atau Iran, Turkiye Justru Bisa Jadi Pemenang Perang Timur Tengah
Bukan AS atau Iran, Turkiye Justru Bisa Jadi Pemenang Perang Timur Tengah
Internasional
Presiden Iran Dilaporkan Ajukan Resign, Teheran Langsung Buka Suara
Presiden Iran Dilaporkan Ajukan Resign, Teheran Langsung Buka Suara
Internasional
AS-Iran Bentrok Lagi, Trump ke Warga Amerika: Santai, Semua Akan Baik-baik Saja
AS-Iran Bentrok Lagi, Trump ke Warga Amerika: Santai, Semua Akan Baik-baik Saja
Internasional
2 Negara ASEAN Bersatu Jaga Laut China Selatan, Teken Pakta Pertahanan
2 Negara ASEAN Bersatu Jaga Laut China Selatan, Teken Pakta Pertahanan
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Mengapa ASEAN Pilih Bungkam di Tengah Bara Teluk?
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat