
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
KALAU para aktor konflik di Selat Hormuz masih waras, melakukan eskalasi militer di kawasan itu—termasuk kawasan Timur Tengah lainnya—ibarat orang yang sedang duduk di atas pohon, lalu menggergaji dahan yang sedang dia pijak sendiri. Cukup berkapasitas, tapi kurang waras.
Kawasan itu betul bukan pusat teknologi dunia, bukan juga pusat budaya global paling dominan saat ini. Namun, ada satu hal yang membuatnya sangat penting, yaitu energi.
Dunia modern saat ini berjalan dengan minyak dan gas, dan salah satu jalur paling vital untuk itu adalah Selat Hormuz. Lewat jalur sempit ini, sebagian besar pasokan energi dunia mengalir setiap hari.
Kita tahu jika kawasan ini tidak stabil, kapal terganggu, pengiriman logistik tersendat, harga minyak melonjak. Dampaknya bukan hanya di Timur Tengah, tetapi juga sampai ke dapur-dapur rumah tangga di seluruh dunia.
Harga transportasi naik, harga barang ikut naik, dan ujung-ujungnya rakyat biasa yang paling merasakan. Memicu konflik di kawasan ini seperti menekan tombol yang mengguncang ekonomi global.
Ketika negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan gagal mencapai kesepakatan, memang dunia tidak langsung panik. Namun, juga tidak bisa santai.
Baca juga: Ketika Superioritas Militer Gagal Menentukan Hasil Perang
Situasinya seperti rudal yang belum meledak. Tidak ada ledakan sekarang, tetapi semua orang tahu potensi bahayanya masih ada.
Kebuntuan diplomasi tersebut bisa bergerak ke mana saja. Bisa membaik, bisa memburuk. Bisa tenang, bisa tiba-tiba panas. Tidak ada kepastian. Dan ketidakpastian itulah yang paling membuat dunia global gelisah.
Kalau konflik meningkat kembali, salah satu titik paling sensitif tetap Selat Hormuz. Sedikit saja gangguan di sana, efeknya langsung terasa ke seluruh dunia.
Jadi, ketika ada pihak yang bermain api di kawasan ini, itu seperti orang yang sengaja mengacaukan sumber air yang dia sendiri butuhkan untuk hidup.
Di sinilah para aktor konflik itu tidak warasnya. Tindakan mereka merugikan semua pihak, termasuk pelakunya sendiri.
Negara-negara yang terlibat mungkin ingin menunjukkan kekuatan, ingin menang secara politik, atau ingin menjaga gengsi. Namun, kalau ujungnya adalah instabilitas besar, semua itu menjadi tidak sebanding.
Ibarat dua orang berebut kemudi di dalam mobil yang sedang melaju kencang. Keduanya menarik setir ke arah berlawanan. Mobil itu tidak akan dimenangkan oleh salah satu—yang ada justru kecelakaan. Dan semua penumpang ikut jadi almarhum.
Mungkin, sebagian besar negara di dunia tidak terlalu peduli siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam negosiasi kemarin.
Mereka tidak sibuk menghitung siapa yang unggul secara diplomatik. Yang mereka inginkan jauh lebih sederhana, yaitu jangan sampai kawasan ini meledak.
Baca juga: Jalur Formal di Islamabad Gagal, Jalur Belakang Layar Masih Bekerja