Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ija Suntana
Dosen

Pengajar pada Program Studi Hukum Tata Negara UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Kegagalan Negosiasi dan Aktor Konflik yang Kurang Waras

Kompas.com, 13 April 2026, 07:10 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KALAU para aktor konflik di Selat Hormuz masih waras, melakukan eskalasi militer di kawasan itu—termasuk kawasan Timur Tengah lainnya—ibarat orang yang sedang duduk di atas pohon, lalu menggergaji dahan yang sedang dia pijak sendiri. Cukup berkapasitas, tapi kurang waras.

Kawasan itu betul bukan pusat teknologi dunia, bukan juga pusat budaya global paling dominan saat ini. Namun, ada satu hal yang membuatnya sangat penting, yaitu energi.

Dunia modern saat ini berjalan dengan minyak dan gas, dan salah satu jalur paling vital untuk itu adalah Selat Hormuz. Lewat jalur sempit ini, sebagian besar pasokan energi dunia mengalir setiap hari.

Kita tahu jika kawasan ini tidak stabil, kapal terganggu, pengiriman logistik tersendat, harga minyak melonjak. Dampaknya bukan hanya di Timur Tengah, tetapi juga sampai ke dapur-dapur rumah tangga di seluruh dunia.

Harga transportasi naik, harga barang ikut naik, dan ujung-ujungnya rakyat biasa yang paling merasakan. Memicu konflik di kawasan ini seperti menekan tombol yang mengguncang ekonomi global.

Ketika negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan gagal mencapai kesepakatan, memang dunia tidak langsung panik. Namun, juga tidak bisa santai.

Baca juga: Ketika Superioritas Militer Gagal Menentukan Hasil Perang

Situasinya seperti rudal yang belum meledak. Tidak ada ledakan sekarang, tetapi semua orang tahu potensi bahayanya masih ada.

Kebuntuan diplomasi tersebut bisa bergerak ke mana saja. Bisa membaik, bisa memburuk. Bisa tenang, bisa tiba-tiba panas. Tidak ada kepastian. Dan ketidakpastian itulah yang paling membuat dunia global gelisah.

Kalau konflik meningkat kembali, salah satu titik paling sensitif tetap Selat Hormuz. Sedikit saja gangguan di sana, efeknya langsung terasa ke seluruh dunia.

Jadi, ketika ada pihak yang bermain api di kawasan ini, itu seperti orang yang sengaja mengacaukan sumber air yang dia sendiri butuhkan untuk hidup.

Di sinilah para aktor konflik itu tidak warasnya. Tindakan mereka merugikan semua pihak, termasuk pelakunya sendiri.

Negara-negara yang terlibat mungkin ingin menunjukkan kekuatan, ingin menang secara politik, atau ingin menjaga gengsi. Namun, kalau ujungnya adalah instabilitas besar, semua itu menjadi tidak sebanding.

Ibarat dua orang berebut kemudi di dalam mobil yang sedang melaju kencang. Keduanya menarik setir ke arah berlawanan. Mobil itu tidak akan dimenangkan oleh salah satu—yang ada justru kecelakaan. Dan semua penumpang ikut jadi almarhum.

Pemenang negosiasi dan pengemudi mabuk

Mungkin, sebagian besar negara di dunia tidak terlalu peduli siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam negosiasi kemarin.

Mereka tidak sibuk menghitung siapa yang unggul secara diplomatik. Yang mereka inginkan jauh lebih sederhana, yaitu jangan sampai kawasan ini meledak.

Baca juga: Jalur Formal di Islamabad Gagal, Jalur Belakang Layar Masih Bekerja

Halaman:

Terkini Lainnya
Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel dan Hizbullah, Selamatkan Negosiasi dengan Iran?
Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel dan Hizbullah, Selamatkan Negosiasi dengan Iran?
Internasional
Iran Setop Sementara Perundingan dengan AS, Salahkan Israel
Iran Setop Sementara Perundingan dengan AS, Salahkan Israel
Internasional
Trump Sesumbar Negosiasi dengan Iran Makin Cepat, Teheran Malah Ancam Perluas Perang
Trump Sesumbar Negosiasi dengan Iran Makin Cepat, Teheran Malah Ancam Perluas Perang
Internasional
[POPULER GLOBAL] Iran Punya Kartu As Baru | Alarm Kelaparan di AS
[POPULER GLOBAL] Iran Punya Kartu As Baru | Alarm Kelaparan di AS
Global
Diplomasi di Tengah Asap Perang AS-Iran
Diplomasi di Tengah Asap Perang AS-Iran
Global
'Jurassic Park' Jadi Nyata, Peneliti Swedia Garap Proyeknya
"Jurassic Park" Jadi Nyata, Peneliti Swedia Garap Proyeknya
Global
Rekor, Rusia Gempur Ukraina dengan 8.150 Drone dan 211 Rudal
Rekor, Rusia Gempur Ukraina dengan 8.150 Drone dan 211 Rudal
Global
Netanyahu Bangga Israel Sangat Dicintai di India, Klaim Dapat Dukungan Besar-besaran
Netanyahu Bangga Israel Sangat Dicintai di India, Klaim Dapat Dukungan Besar-besaran
Internasional
Trump Minta Imbalan atas Bantuan Kesehatan, Negara Afrika Menolak
Trump Minta Imbalan atas Bantuan Kesehatan, Negara Afrika Menolak
Internasional
AS-Iran Jual-Beli Serangan Lagi, Situasi Kian Tak Terkendali
AS-Iran Jual-Beli Serangan Lagi, Situasi Kian Tak Terkendali
Internasional
Ledakan di Pabrik Perusahaan Ruang Angkasa Korea Selatan, 5 Tewas
Ledakan di Pabrik Perusahaan Ruang Angkasa Korea Selatan, 5 Tewas
Global
Bukan AS atau Iran, Turkiye Justru Bisa Jadi Pemenang Perang Timur Tengah
Bukan AS atau Iran, Turkiye Justru Bisa Jadi Pemenang Perang Timur Tengah
Internasional
Presiden Iran Dilaporkan Ajukan Resign, Teheran Langsung Buka Suara
Presiden Iran Dilaporkan Ajukan Resign, Teheran Langsung Buka Suara
Internasional
AS-Iran Bentrok Lagi, Trump ke Warga Amerika: Santai, Semua Akan Baik-baik Saja
AS-Iran Bentrok Lagi, Trump ke Warga Amerika: Santai, Semua Akan Baik-baik Saja
Internasional
2 Negara ASEAN Bersatu Jaga Laut China Selatan, Teken Pakta Pertahanan
2 Negara ASEAN Bersatu Jaga Laut China Selatan, Teken Pakta Pertahanan
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Kegagalan Negosiasi dan Aktor Konflik yang Kurang Waras
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat