Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ija Suntana
Dosen

Pengajar pada Program Studi Hukum Tata Negara UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Politik Ketakutan Donald Trump

Kompas.com, 8 April 2026, 09:03 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DI TENGAH gemuruh perang antara Amerika-Israel dan Iran, ada satu hal sederhana yang membuat penasaran, seberapa nyata sebenarnya ancaman Iran bagi Amerika Serikat? 

Untuk menulis artikel ini, saya mencoba melacak beberapa referensi, baik dari media maupun tulisan ilmiah.

Ingin tahu persis, minimalnya dalam 20 tahun terakhir, apakah Iran melakukan penyerangan terhadap wilayah AS secara langsung? Apakah Iran melakukan upaya penghancuran ekonomi AS?

Kalau Iran benar-benar ancaman besar, maka harus ada rekam jejak konkret yang membuat Amerika rugi besar dalam 20 tahun terakhir.

Pertanyaan ini penting, karena dari sanalah harusnya legitimasi perang dibangun oleh pemerintahan Donald Trump kalau memang demi kepentingan rakyat Amerika. 

Selama dua dekade terakhir, Iran memang terlibat dalam konflik regional, mendukung kelompok milisi, dan sering berseberangan dengan kepentingan Amerika.

Jika ditelusuri secara jujur, hampir tidak ada satu pun kejadian yang menunjukkan bahwa Iran pernah benar-benar menjadi ancaman nyata bagi Amerika dan membawa kerugian besar bagi masyarakatnya.

Baca juga: Unilateralisme Narsistik ala Trump dan Terancamnya Hegemoni AS

Amerika, terutama pemerintahan Trump, terus mengulang narasi besar bahwa Iran adalah ancaman global; Iran adalah musuh utama, Iran adalah sumber ketidakstabilan dunia.

Narasi ini diglorifikasi  melampaui realitasnya sebagai politik ketakutan.

Politik ketakutan tersebut menggema bahwa ada musuh, ada ancaman, dan ada kebutuhan untuk bertindak cepat.

Dalam suasana seperti ini, publik tidak lagi diajak berpikir panjang, tetapi didorong untuk merasa cemas dan menerima keputusan yang sudah disiapkan.

Retorika Donald Trump terhadap Iran memperlihatkan pola ini dengan jelas. Ancaman demi ancaman dilontarkan—bahkan dengan bahasa yang ekstrem.

Iran digambarkan sebagai kekuatan yang harus segera dihentikan, seolah-olah jika tidak, konsekuensinya akan fatal bagi Amerika.

Namun, realitas di lapangan tidak sepenuhnya mendukung gambaran itu.  Ancaman Iran dibesar-besarkan untuk membenarkan perang. Tetapi perang itu sendiri tidak menjawab ancaman secara tuntas.

Ketakutan yang jadi kenyataan

Malah, Amerika Serikat merasakan ancaman besarnya hari ini, ketika perang dimulai.

Halaman:

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Politik Ketakutan Donald Trump
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat