
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
DI TENGAH gemuruh perang antara Amerika-Israel dan Iran, ada satu hal sederhana yang membuat penasaran, seberapa nyata sebenarnya ancaman Iran bagi Amerika Serikat?
Untuk menulis artikel ini, saya mencoba melacak beberapa referensi, baik dari media maupun tulisan ilmiah.
Ingin tahu persis, minimalnya dalam 20 tahun terakhir, apakah Iran melakukan penyerangan terhadap wilayah AS secara langsung? Apakah Iran melakukan upaya penghancuran ekonomi AS?
Kalau Iran benar-benar ancaman besar, maka harus ada rekam jejak konkret yang membuat Amerika rugi besar dalam 20 tahun terakhir.
Pertanyaan ini penting, karena dari sanalah harusnya legitimasi perang dibangun oleh pemerintahan Donald Trump kalau memang demi kepentingan rakyat Amerika.
Selama dua dekade terakhir, Iran memang terlibat dalam konflik regional, mendukung kelompok milisi, dan sering berseberangan dengan kepentingan Amerika.
Jika ditelusuri secara jujur, hampir tidak ada satu pun kejadian yang menunjukkan bahwa Iran pernah benar-benar menjadi ancaman nyata bagi Amerika dan membawa kerugian besar bagi masyarakatnya.
Baca juga: Unilateralisme Narsistik ala Trump dan Terancamnya Hegemoni AS
Amerika, terutama pemerintahan Trump, terus mengulang narasi besar bahwa Iran adalah ancaman global; Iran adalah musuh utama, Iran adalah sumber ketidakstabilan dunia.
Narasi ini diglorifikasi melampaui realitasnya sebagai politik ketakutan.
Politik ketakutan tersebut menggema bahwa ada musuh, ada ancaman, dan ada kebutuhan untuk bertindak cepat.
Dalam suasana seperti ini, publik tidak lagi diajak berpikir panjang, tetapi didorong untuk merasa cemas dan menerima keputusan yang sudah disiapkan.
Retorika Donald Trump terhadap Iran memperlihatkan pola ini dengan jelas. Ancaman demi ancaman dilontarkan—bahkan dengan bahasa yang ekstrem.
Iran digambarkan sebagai kekuatan yang harus segera dihentikan, seolah-olah jika tidak, konsekuensinya akan fatal bagi Amerika.
Namun, realitas di lapangan tidak sepenuhnya mendukung gambaran itu. Ancaman Iran dibesar-besarkan untuk membenarkan perang. Tetapi perang itu sendiri tidak menjawab ancaman secara tuntas.
Malah, Amerika Serikat merasakan ancaman besarnya hari ini, ketika perang dimulai.