Penulis
CARACAS, KOMPAS.com - Ledakan keras terdengar di Ibu Kota Caracas, Venezuela, pada Sabtu (3/1/2026) sekitar pukul 02.00 dini hari waktu setempat atau 13.00 WIB.
Suara itu disertai bunyi yang menyerupai pesawat melintas di atasnya, menurut laporan jurnalis AFP.
Bunyi ledakan masih terdengar hingga pukul 02.15, tetapi belum diketahui secara pasti lokasi sumber suara tersebut.
Baca juga: Bela Venezuela, Rusia Minta AS Setop Buru Kapal Tanker Minyak yang Kabur di Atlantik
Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan Venezuela-Amerika Serikat, menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut kemungkinan adanya serangan darat terhadap negara Amerika Selatan itu.
Trump sebelumnya mengerahkan gugus tugas angkatan laut ke wilayah Karibia, sebagai bagian dari kampanye anti-narkoba yang menyasar kapal-kapal diduga milik kartel Venezuela.
Pada Senin (29/12/2025), Trump menyatakan bahwa AS menyerang dan menghancurkan dermaga yang diklaim digunakan kapal penyelundup narkoba milik Venezuela.
"Serangan itu terjadi di sepanjang pantai," ucap Trump, tanpa menjelaskan lebih lanjut apakah serangan dilakukan oleh militer, CIA, atau lokasi pastinya.
Jika klaim tersebut benar, maka ini merupakan serangan darat pertama yang dilakukan AS di Venezuela.
Hingga kini, Presiden Venezuela Nicolas Maduro belum mengonfirmasi atau membantah adanya serangan tersebut.
Namun, dalam pernyataan pada Kamis (1/1/2026), Maduro menyebut dirinya terbuka menjalin kerja sama dengan Washington, setelah berminggu-minggu menghadapi tekanan militer dari AS.
Baca juga: Bukan Minyak, Ini Alasan Trump Ingin Gulingkan Maduro di Venezuela
Tangkapan layar dari video yang diunggah Presiden Amerika Serikat Donald Trump di platform Truth Social menunjukkan, serangan militer AS terhadap kapal yang diduga menyelundupkan narkoba melalui Laut Karibia, 15 September 2025.Sang presiden menyebut tuduhan itu upaya Washington menggulingkan kekuasaannya dan merebut cadangan minyak Venezuela, yang disebut terbesar di dunia.
Sebagai bagian dari tekanan, Washington memberlakukan sanksi tambahan, menyita kapal tanker yang mengangkut minyak Venezuela, serta menutup wilayah udara negara tersebut secara tidak resmi.
Sejak September 2025, pasukan AS juga melakukan serangkaian serangan terhadap kapal-kapal di Laut Karibia dan Samudera Pasifik bagian timur, yang diklaim menargetkan jaringan penyelundupan narkoba.
Meski demikian, Washington belum merilis bukti kuat bahwa kapal-kapal yang dihancurkan benar-benar terkait perdagangan narkoba, sehingga menimbulkan kontroversi mengenai legalitas operasi militer itu.
Menurut data yang dirilis militer AS, setidaknya 107 orang tewas dalam 30 serangan laut yang dilakukan sejak gempuran dimulai.
Baca juga: Apa yang Terjadi jika AS Kuasai Minyak Venezuela?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang