
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
MENURUT laporan IMF atau Dana Moneter Internasional 2022, aliansi BRICS, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (South Africa), telah menunjukkan kekuatan ekonomi yang signifikan. Total PDB (Produk Domestik Bruto) mereka bahkan melampaui negara-negara G-7 (Group of Seven).
Namun, meski berhasil, beberapa analis memperkirakan BRICS mungkin menghadapi tantangan yang serupa dengan yang dialami Asosiasi Kerja Sama Regional Asia Selatan (SAARC), yang kini telah mati.
Hal ini menandakan bahwa BRICS mungkin memasuki momen atau fase baru yang penuh tantangan. Tantangan tersebut berasal dari persaingan ekonomi dan politik internal, seperti konflik antara China dan India serta persaingan China dengan Amerika Serikat (AS).
Baca juga: Tantangan dan Peluang Indonesia Lakukan Dedolarisasi dan Gabung BRICS
Tambahan masalah timbul saat Afrika Selatan memberi perlindungan kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang dijadikan terpidana oleh ICC (International Criminal Court) atau Mahkamah Pidana Internasional. Perlindungan diberikan saat KTT BRICS pada 2 Juni 2023 di Afrika Selatan. Keputusan ini tentunya menimbulkan pertanyaan besar mengenai solidaritas dan integritas aliansi BRICS ke depan.
Indonesia, yang juga diundang secara virtual pada KTT BRICS, mesti melihat momen ini sebagai peluang untuk mewujudkan kepentingannya sekaligus menghindari potensi konflik dengan Barat. Namun, Indonesia harus tetap waspada terhadap dorongan strategis China dalam BRICS, seperti usulannya untuk mata uang bersama perdagangan intra-BRICS, yang merupakan tantangan langsung terhadap AS.
Namun, penting untuk diingat bahwa menjadi bagian dari keanggotaan formal adalah satu cara untuk memanfaatkan pengaruh atau keuntungan dari dinamika kelompok seperti BRICS. Kelompok ini memiliki dampak signifikan terhadap ekonomi dan geopolitik global.
Baca juga: 19 Negara Disebut Berminat Gabung BRICS, Termasuk Indonesia
Karena itu, memahami dinamikanya, meningkatkan hubungan dengan anggotanya, serta berusaha untuk berpartisipasi dalam dialog dan kegiatan terkait BRICS sangatlah bermanfaat bagi Indonesia. Namun, potensi keanggotaan Indonesia dalam BRICS dapat menjadi fondasi untuk memperdalam kemitraan bilateral dan multilateral dengan negara-negara anggota BRICS.
Hubungan bilateral yang lebih erat dengan negara-negara itu dapat memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi tantangan regional dan global. Walaupun, Indonesia harus berhati-hati untuk menjaga keseimbangan dalam hubungannya antara negara-negara Barat dan anggota BRICS.
Untuk mengelola hubungan dengan kedua kelompok itu memerlukan penilaian yang cermat dan pendekatan yang fleksibel. Kolaborasi dengan negara-negara BRICS dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin dalam isu-isu ini di tingkat global. Menguatkan hubungan dengan kelompok (India, Brasil, dan Afrika Selatan) dapat memperkuat posisi Indonesia dalam BRICS, memastikan kriteria aksesi anggota baru tidak hanya berdasarkan ketentuan China.
Jika BRICS memutuskan untuk memperluas keanggotaan, negara seperti Indonesia bisa dipertimbangkan karena ekonominya yang sedang berkembang dan posisi geopolitik yang strategis.
Keterlibatan Indonesia dalam BRICS memungkinkan Indonesia untuk mendiversifikasi keterlibatan diplomatiknya di luar Barat, memastikan pendekatan yang seimbang yang tidak mengisolasi China. Bahkan AS sedang mengevaluasi kembali hubungannya dengan China, beralih dari pendekatan "de-coupling" menjadi "de-risking".
Partisipasi Indonesia dalam BRICS juga memungkinkan Indonesia untuk mendiversifikasi keterlibatan diplomatiknya di luar Barat, menjamin pendekatan yang seimbang dan tidak mengisolasi China. Seiring dengan AS yang tengah mengevaluasi kembali hubungannya dengan China, bergerak dari "de-coupling" menjadi "de-risking", Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk mengambil posisi yang lebih strategis.
Baca juga: Menakar Kemampuan BRICS Saingi G7
Momen baru BRICS ini lebih dari sekadar peluang bagi Indonesia. Ini adalah panggilan untuk memimpin, menginspirasi, dan mengarahkan jalan menuju kerja sama multilateral dan kesetaraan global yang lebih besar. Momen ini adalah bukti dari meningkatnya pengaruh Indonesia dan potensinya untuk mendefinisikan kembali narasi global abad ke-21.
Untuk menavigasi arus geopolitik yang berubah membutuhkan lebih dari sekadar pandangan ke depan yang strategis. Hal ini menuntut tanggung jawab besar dan komitmen terhadap multilateralisme dan kesetaraan global.
Sambil memajukan kepentingan Global South, Indonesia juga dapat mengejar prioritas intinya. Momen BRICS memberikan peluang untuk pijakan yang kuat bagi Indonesia. Dengan berperan di BRICS, Indonesia dapat memfasilitasi dialog dan inisiatif untuk mengatasi masalah regional dan mendorong kerja sama South-South. Pada gilirannya, hal ini dapat berkontribusi pada stabilitas regional dan pertumbuhan yang berkelanjutan.