
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
CUKUP lama sudah rupiah terus melemah. Sebelum libur Idul Adha, media memberitakan sejumlah bank menjual dolar AS di atas Rp 18.000.
Rupiah juga tunduk di hadapan dolar Singapura dan ringgit Malaysia. Bahkan terhadap baht Thailand yang sedang dalam tekanan berat, rupiah terkoreksi 2,42 persen dalam sebulan.
Boleh jadi, pasar mulai meyakini bahwa persoalan rupiah bukan sekadar akibat kuatnya dolar AS.
Indonesia juga dipersepsikan lebih rapuh dibanding tetangganya. Perubahan persepsi ini tak bisa dianggap enteng. Biasanya, di saat persepsi mulai memburuk, para spekulan yang bakal mencuri kesempatan.
Betul, Indonesia belum berada dalam situasi krisis. Fundamental Indonesia lebih baik ketimbang era 1997-1998.
Rezim kurs mengambang bisa menjadi shock absorber bagi perekonomian. Sistem perbankan lebih sehat dan cadangan devisa memadai.
Rasio utang terhadap PDB juga masih oke. Namun, spekulasi selalu bergerak lebih cepat dibanding angka resmi.
Baca juga: Perjalanan Presiden, Rupiah, dan Kepercayaan Publik
Pasar juga tidak hanya membaca angka. Mereka memaknai perilaku pemerintah, kualitas komunikasi, psikologi, dan risiko. Dari sana mereka menyusun ekspektasinya sendiri.
Maurice Obstfeld (1996) menjelaskan, krisis mata uang sering bersifat self-fulfilling. Ketika mata uang dianggap rentan, anggapan itu sendiri dapat mempercepat tekanan terhadap mata uang tersebut.
Krisis mata uang, menurut Jeffrey Frankel dan Andrew Rose (1996), juga sering didahului pelemahan fundamental, pertumbuhan kredit yang tinggi, dan tekanan eksternal.
Kini tekanan global mulai nyata. Suku bunga The Fed bertahan lama di level tinggi. Harga energi meningkat akibat kemelut geopolitik. Investor internasional juga mengurangi eksposur terhadap emerging market.
Di sisi domestik, kerentanan juga tampak. Defisit transaksi berjalan melebar, utang pemerintah mendekati Rp 10.000 triliun, dan beban bunga hampir menyentuh Rp 600 triliun.
Kebutuhan refinancing 2026 juga sangat besar. Selain itu, defisit APBN membesar dan BI terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas.
Dalam situasi normal, cadangan devisa memang lazim dipakai untuk mengontrol gejolak kurs dan suku bunga bisa dikerek untuk menahan capital outflow.
Namun sulit menemukan instrumen yang mampu melawan hilangnya kepercayaan jika pasar melihat kebijakan ekonomi semakin tidak pasti.