Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Hardy Hermawan
Peneliti Praxa Institute

Jurnalis Ekonomi, Peneliti Praxa Institute, Mahasiswa Doktoral Perbanas Institute

Ancaman Spekulan di Tengah Pelemahan Rupiah

Kompas.com, 31 Mei 2026, 08:50 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

CUKUP lama sudah rupiah terus melemah. Sebelum libur Idul Adha, media memberitakan sejumlah bank menjual dolar AS di atas Rp 18.000.

Rupiah juga tunduk di hadapan dolar Singapura dan ringgit Malaysia. Bahkan terhadap baht Thailand yang sedang dalam tekanan berat, rupiah terkoreksi 2,42 persen dalam sebulan.

Boleh jadi, pasar mulai meyakini bahwa persoalan rupiah bukan sekadar akibat kuatnya dolar AS.

Indonesia juga dipersepsikan lebih rapuh dibanding tetangganya. Perubahan persepsi ini tak bisa dianggap enteng. Biasanya, di saat persepsi mulai memburuk, para spekulan yang bakal mencuri kesempatan.

Betul, Indonesia belum berada dalam situasi krisis. Fundamental Indonesia lebih baik ketimbang era 1997-1998.

Rezim kurs mengambang bisa menjadi shock absorber bagi perekonomian. Sistem perbankan lebih sehat dan cadangan devisa memadai.

Rasio utang terhadap PDB juga masih oke. Namun, spekulasi selalu bergerak lebih cepat dibanding angka resmi.

Baca juga: Perjalanan Presiden, Rupiah, dan Kepercayaan Publik

Pasar juga tidak hanya membaca angka. Mereka memaknai perilaku pemerintah, kualitas komunikasi, psikologi, dan risiko. Dari sana mereka menyusun ekspektasinya sendiri.

Maurice Obstfeld (1996) menjelaskan, krisis mata uang sering bersifat self-fulfilling. Ketika mata uang dianggap rentan, anggapan itu sendiri dapat mempercepat tekanan terhadap mata uang tersebut.

Krisis mata uang, menurut Jeffrey Frankel dan Andrew Rose (1996), juga sering didahului pelemahan fundamental, pertumbuhan kredit yang tinggi, dan tekanan eksternal.

Kini tekanan global mulai nyata. Suku bunga The Fed bertahan lama di level tinggi. Harga energi meningkat akibat kemelut geopolitik. Investor internasional juga mengurangi eksposur terhadap emerging market.

Di sisi domestik, kerentanan juga tampak. Defisit transaksi berjalan melebar, utang pemerintah mendekati Rp 10.000 triliun, dan beban bunga hampir menyentuh Rp 600 triliun.

Kebutuhan refinancing 2026 juga sangat besar. Selain itu, defisit APBN membesar dan BI terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas.

Dalam situasi normal, cadangan devisa memang lazim dipakai untuk mengontrol gejolak kurs dan suku bunga bisa dikerek untuk menahan capital outflow.

Namun sulit menemukan instrumen yang mampu melawan hilangnya kepercayaan jika pasar melihat kebijakan ekonomi semakin tidak pasti.

Halaman:


Terkini Lainnya
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
Cuan
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
Cuan
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Energi
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Keuangan
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Keuangan
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Keuangan
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Ekbis
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Energi
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Keuangan
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
Industri
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
Ekbis
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Ekbis
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Ekbis
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
Ekbis
Ekspor Ferro Nikel Diatur, Airlangga Sebut Ekosistem EV Tetap Aman
Ekspor Ferro Nikel Diatur, Airlangga Sebut Ekosistem EV Tetap Aman
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau