Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mohammad Nur Rianto
Dosen dan Peneliti

Al Arif merupakan dosen dan peneliti di UIN Syarif Hidayatullah dan CSEAS Indonesia

Bonus Demografi di Tengah Krisis Lapangan Kerja Berkualitas

Kompas.com, 26 Mei 2026, 06:20 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

INDONESIA sedang berada di persimpangan sejarah. Dalam banyak forum ekonomi dan pembangunan, istilah bonus demografi terus digaungkan sebagai peluang emas yang hanya datang sekali dalam perjalanan suatu bangsa.

Pada periode 2030–2045, Indonesia diproyeksikan akan menikmati komposisi penduduk usia produktif yang jauh lebih besar dibandingkan usia nonproduktif. Hal ini berarti bahwa mayoritas penduduk berada dalam rentang usia kerja.

Dalam teori ekonomi pembangunan, situasi ini seharusnya menjadi mesin akselerasi pertumbuhan ekonomi, peningkatan produktivitas, dan lompatan kesejahteraan nasional.

Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah bonus demografi secara otomatis menghadirkan kemakmuran?

Banyak negara justru gagal memanfaatkan momentum tersebut karena tidak mampu menyediakan lapangan kerja berkualitas bagi generasi produktifnya.

Alih-alih menjadi berkah, bonus demografi dapat berubah menjadi beban sosial yang memicu pengangguran massal, kemiskinan urban, kriminalitas, ketimpangan, hingga instabilitas sosial-politik.

Indonesia kini mulai menunjukkan gejala ke arah itu. Jumlah angkatan kerja terus bertambah, tetapi kualitas pekerjaan yang tersedia belum mampu mengimbangi ledakan tenaga kerja muda.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2025 tercatat sebesar 4,17 persen, mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Di balik angka tersebut, persoalan yang lebih serius sebenarnya bukan hanya soal pengangguran terbuka, melainkan juga kualitas pekerjaan yang rendah, dominasi sektor informal, dan minimnya pekerjaan bernilai tambah tinggi.

Baca juga: Menata Ulang Status PPPK Paruh Waktu

Dengan kata lain, masalah Indonesia hari ini bukan semata-mata kurangnya pekerjaan, tetapi kurangnya pekerjaan yang layak, produktif, dan mampu memberikan masa depan.

Fenomena ini menjadi ironi besar. Di satu sisi, Indonesia memiliki jutaan anak muda dengan energi, kreativitas, dan semangat tinggi.

Di sisi lain, ekonomi nasional belum cukup mampu menciptakan ruang kerja yang sesuai dengan kapasitas dan aspirasi generasi muda tersebut.

Akibatnya, banyak lulusan perguruan tinggi bekerja di sektor yang tidak sesuai dengan kompetensi, terjebak dalam pekerjaan informal, atau bahkan menganggur dalam waktu lama.

Kondisi tersebut menciptakan apa yang disebut sebagai underutilized demographic dividend atau bonus demografi yang tidak dimanfaatkan secara optimal.

Persoalan ini perlu diteliti lebih mendalam. Selama ini, ukuran keberhasilan ketenagakerjaan sering kali hanya dilihat dari rendahnya tingkat pengangguran. Padahal, seseorang yang bekerja belum tentu memiliki pekerjaan yang layak.

Sejumlah pengemudi ojek daring menunggu penumpang di kawasan Halte BRT Pancoran, Jakarta, Rabu (13/5/2026). Badan Pusat Statistik DKI Jakarta mencatat presentase penduduk yang bekerja pada kegiatan informal di Jakarta sebanyak 1,98 juta orang atau 38,13 persen pada Februari 2026, meningkat sebesar 0,18 persen dibandingkan Februari 2025 seiring bertambahnya jumlah pekerja dengan status berusaha sendiri. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan Sejumlah pengemudi ojek daring menunggu penumpang di kawasan Halte BRT Pancoran, Jakarta, Rabu (13/5/2026). Badan Pusat Statistik DKI Jakarta mencatat presentase penduduk yang bekerja pada kegiatan informal di Jakarta sebanyak 1,98 juta orang atau 38,13 persen pada Februari 2026, meningkat sebesar 0,18 persen dibandingkan Februari 2025 seiring bertambahnya jumlah pekerja dengan status berusaha sendiri.
Banyak pekerja Indonesia hidup dalam kondisi rentan: pendapatan rendah, tanpa jaminan sosial, kontrak tidak pasti, dan perlindungan tenaga kerja yang minim.

Dalam banyak kasus, pekerja muda akhirnya masuk ke sektor informal seperti ojek daring, pekerja lepas digital, buruh harian, hingga pekerjaan serabutan yang tidak memberikan kepastian karier jangka panjang.

Di media sosial dan forum publik, muncul istilah generasi “survive”, yakni generasi yang bekerja sekadar untuk bertahan hidup, bukan untuk membangun masa depan.

Diskusi publik di media sosial bahkan memperlihatkan keresahan terhadap kualitas pasar tenaga kerja di Indonesia.

Banyak diskusi di media sosial menyoroti bahwa hampir 60 persen pekerja Indonesia masih berada di sektor informal dengan tingkat kerentanan tinggi dan upah rendah.

Meskipun bukan sumber statistik resmi, percakapan publik tersebut mencerminkan keresahan sosial yang nyata di tengah masyarakat.

Masalah ketenagakerjaan di Indonesia sesungguhnya bersifat struktural. Pertumbuhan ekonomi nasional selama ini belum sepenuhnya berkualitas dan produktif, serta padat karya.

Baca juga: Senyum Menkeu dan Rupiah yang Tidak Ikut Tersenyum

Pertumbuhan ekonomi memang terjadi, tetapi penciptaan lapangan kerja formal berkualitas tidak tumbuh secepat pertumbuhan angkatan kerja.

Ekonomi Indonesia masih terlalu bergantung pada sektor berbasis komoditas, perdagangan informal, dan aktivitas ekonomi bernilai tambah rendah. Industrialisasi belum berkembang secara optimal.

Padahal, sejarah menunjukkan bahwa negara-negara yang sukses memanfaatkan bonus demografi, seperti Korea Selatan, Jepang, dan China, mampu melakukannya karena berhasil membangun industri manufaktur yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sekaligus meningkatkan produktivitas.

Indonesia justru mengalami gejala deindustrialisasi dini. Kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto terus mengalami tekanan dalam beberapa tahun terakhir.

Akibatnya, penciptaan pekerjaan formal dengan produktivitas tinggi menjadi terbatas. Padahal, sektor industri memiliki dampak berganda yang sangat besar.

Industri tidak hanya menciptakan lapangan kerja langsung, tetapi juga menggerakkan rantai pasok, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan mendorong inovasi teknologi. Ketika industrialisasi melemah, kesempatan kerja berkualitas juga ikut melemah.

Lebih jauh lagi, tantangan bonus demografi Indonesia diperberat oleh ketidaksesuaian antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.

Banyak lulusan perguruan tinggi tidak memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri modern.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Ekbis
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
Cuan
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
Cuan
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Energi
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Keuangan
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Keuangan
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Keuangan
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Ekbis
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Energi
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Keuangan
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
Industri
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
Ekbis
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Ekbis
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Ekbis
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau