Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mohammad Nur Rianto
Dosen dan Peneliti

Al Arif merupakan dosen dan peneliti di UIN Syarif Hidayatullah dan CSEAS Indonesia

Mengejar Pertumbuhan Tinggi, Menjaga Keadilan Sosial

Kompas.com, 24 Mei 2026, 09:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DI TENGAH optimisme pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi hingga menembus 6–8 persen dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia sesungguhnya sedang berada di persimpangan sejarah.

Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi tinggi dibutuhkan agar Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Namun di sisi lain, pertumbuhan yang terlalu berorientasi pada angka statistik semata berisiko melahirkan ketimpangan sosial yang semakin tajam.

Pertanyaan besarnya kemudian sederhana, tetapi mendasar ialah apakah pertumbuhan ekonomi yang tinggi otomatis menghadirkan keadilan sosial?

Pengalaman banyak negara menunjukkan jawabannya tidak selalu demikian. Ada negara yang tumbuh cepat tetapi melahirkan jurang kaya-miskin yang menganga. Ada pula negara yang berhasil menyeimbangkan pertumbuhan dengan pemerataan.

Indonesia kini sedang diuji: mampukah mengejar pertumbuhan tinggi tanpa mengorbankan keadilan sosial?

Persoalan ini menjadi penting karena ekonomi pada hakikatnya bukan sekadar urusan angka Produk Domestik Bruto (PDB), melainkan juga soal kualitas hidup manusia. Pertumbuhan ekonomi yang tidak dirasakan mayoritas rakyat hanya akan menciptakan ilusi kemajuan.

Indonesia sebenarnya memiliki modal besar. Bonus demografi masih berlangsung. Konsumsi domestik kuat. Sumber daya alam melimpah. Stabilitas politik relatif terjaga.

Namun, modal tersebut hanya akan menjadi potensi kosong bila tidak diiringi distribusi kesejahteraan yang lebih adil.

Baca juga: Jerat Ganda Masyarakat Digital: Judol dan Pinjol

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah memang cukup berhasil menjaga stabilitas makroekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 berada di kisaran 5 persen lebih, bahkan triwulan IV 2025 dan triwulan I tahun 2026 tercatat tumbuh sekitar 5,39 persen dan 5,61 persen (year-on-year).

Namun, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan kualitas kesejahteraan masyarakat.

Di banyak daerah, masyarakat masih merasakan tekanan biaya hidup, sulitnya memperoleh pekerjaan formal berkualitas, hingga stagnasi pendapatan.

Di perkotaan, fenomena kelas menengah rentan semakin terlihat. Sementara di desa, produktivitas ekonomi masih tertahan oleh keterbatasan infrastruktur, akses pasar, dan kualitas sumber daya manusia.

Di sinilah paradoks pembangunan Indonesia muncul. Ekonomi tumbuh, tetapi rasa aman ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih.

Pertumbuhan ekonomi yang terlalu terkonsentrasi pada sektor tertentu juga dapat menciptakan ketimpangan baru.

Misalnya, pertumbuhan yang ditopang oleh sektor padat modal sering kali menghasilkan keuntungan besar bagi pemilik modal, tetapi tidak menyerap tenaga kerja secara optimal. Akibatnya, pertumbuhan terjadi tanpa pemerataan pendapatan.

Fenomena ini tampak dalam dinamika ekonomi digital dan hilirisasi industri. Kedua sektor memang menjadi motor pertumbuhan baru Indonesia. Namun, manfaat ekonominya belum sepenuhnya tersebar merata.

Sebagian besar nilai tambah masih terkonsentrasi pada kelompok ekonomi besar dan kawasan tertentu, terutama di Jawa dan kota-kota besar.

Padahal, cita-cita pembangunan Indonesia sejak awal bukan sekadar pertumbuhan, tetapi juga keadilan sosial. Sila kelima Pancasila secara tegas menempatkan keadilan sosial sebagai tujuan akhir pembangunan nasional.

Hal ini berarti pertumbuhan ekonomi seharusnya menjadi instrumen untuk memperluas kesejahteraan, bukan hanya memperbesar akumulasi kekayaan.

Karena itu, ukuran keberhasilan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari pertumbuhan PDB. Kita perlu melihat indikator lain seperti tingkat kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, akses pendidikan, kualitas kesehatan, dan mobilitas sosial masyarakat.

Data terbaru menunjukkan bahwa ketimpangan Indonesia memang mengalami perbaikan, tetapi masih menyisakan pekerjaan rumah yang besar.

Badan Pusat Statistik mencatat rasio gini Indonesia pada September 2025 berada di angka 0,363, turun dibandingkan Maret 2025 sebesar 0,375.

Angka ini menunjukkan ketimpangan mulai menurun, tetapi tetap berada pada level yang mengingatkan bahwa distribusi kesejahteraan belum sepenuhnya merata.

Fakta yang menarik, ketimpangan di perkotaan masih jauh lebih tinggi dibandingkan pedesaan. Rasio gini perkotaan tercatat sekitar 0,383, sementara di desa sekitar 0,295.

Hal ini menunjukkan bahwa modernisasi ekonomi perkotaan justru melahirkan kesenjangan yang lebih besar.

Baca juga: Blackout Sumatera dan Rapuhnya Infrastruktur Publik

Kota-kota besar menjadi pusat pertumbuhan sekaligus pusat ketimpangan. Harga properti melambung, biaya pendidikan meningkat, dan akses ekonomi semakin kompetitif.

Masyarakat dengan modal pendidikan dan aset yang kuat menikmati pertumbuhan lebih besar, sedangkan kelompok rentan semakin tertinggal.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Ekbis
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
Cuan
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
Cuan
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Energi
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Keuangan
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Keuangan
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Keuangan
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Ekbis
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Energi
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Keuangan
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
Industri
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
Ekbis
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Ekbis
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Ekbis
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau