
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
SELAMA setahun terakhir, Indonesia menikmati posisi yang jarang tersedia bagi negara berkembang mana pun.
Ketika AS dan China saling menaikkan tarif, rantai pasok global bergerak mencari jalan lain — dan Indonesia ada di jalur itu.
Impor Amerika Serikat dari Indonesia melonjak 24 persen sepanjang 2025, angka yang belum pernah tercatat sebelumnya dalam sejarah hubungan dagang kedua negara.
Namun, momentum itu sekarang menghadapi ujian pertamanya. Summit Trump-Xi di Beijing pekan ini, bukan sekadar pertemuan diplomatik biasa, ini negosiasi yang hasilnya, baik atau buruk, akan menentukan berapa lama lagi selisih tarif yang menguntungkan Indonesia masih berlaku.
Apakah kita sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan itu?
Peterson Institute for International Economics (PIIE) menempatkan Indonesia di antara enam negara dengan kenaikan pangsa dagang terbesar bersama AS pada 2025.
Vietnam, Thailand, Indonesia — ketiganya muncul berulang dalam diskusi tentang reshoring (pemindahan produksi ke luar China). Angka-angka itu konsisten dengan pola yang terlihat di data pelabuhan dan laporan kargo sepanjang tahun 2025 lalu.
Baca juga: Menakar Daya Tahan Rupiah
Kuncinya ada pada selisih tarif. Barang China kena rata-rata 48 persen, sementara produk Indonesia hanya 19 persen — hampir 30 poin lebih rendah.
Selisih sebesar itu cukup besar untuk membuat manajer pembelian di Ohio atau Texas memilih Surabaya daripada Shenzhen, bahkan ketika kapasitas produksinya belum tentu lebih efisien.
Selisih ini paling terasa di sektor mesin dan elektronik. Dua kategori itu sebelumnya hampir sepenuhnya dikuasai suplai China, dan tiba-tiba ada celah yang terbuka.
Dan Indonesia, bersama Vietnam dan Thailand, masuk ke celah itu — sebagian karena memang kompetitif, sebagian lagi karena kebetulan berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat.
Namun, ada bagian dari cerita ini yang jarang dibicarakan di ruang rapat pemerintah. Data pelacakan kargo memperlihatkan bahwa lonjakan ekspor Indonesia ke AS berjalan beriringan dengan kenaikan impor barang setengah jadi dari China.
Pola yang sama muncul di Vietnam, Malaysia, Thailand — hampir semua negara yang tengah bersorak atas kenaikan ekspor mereka ke negeri Paman Sam.
Sebagian dari ekspor Indonesia itu sebenarnya barang yang lahir di pabrik China, melintasi Selat Karimata atau Selat Malaka, lalu keluar dari pelabuhan kita dengan dokumen yang berbeda.
Ini yang disebut transshipment (perpindahan barang melalui negara ketiga), dan ini bukan fenomena kecil.