Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengkaji Ulang Rencana BUMN Kuasai Impor Gula Rafinasi dari Sisi Akademisi

Kompas.com, 26 April 2026, 11:00 WIB
Suparjo Ramalan ,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana pemerintah mengalihkan impor bahan baku gula rafinasi dari industri swasta kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diminta untuk dikaji lebih mendalam. Rencana itu dinilai berpotensi menciptakan praktik monopoli.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Hermanto Siregar, menyebut kegiatan ekonomi harus bertumpu pada prinsip produktivitas dan efisiensi. Artinya, setiap kebijakan, termasuk impor bahan baku gula rafinasi, seharusnya diarahkan untuk menghasilkan biaya yang lebih rendah dengan output yang optimal.

Dalam konteks ini, mengalihkan impor bahan baku gula rafinasi kepada BUMN dinilai tidak menjadi masalah, selama perseroan mampu menjalankan proses impor secara lebih efisien dibandingkan dengan pihak swasta.

Baca juga: Sugar Co Rugi Rp 680 Miliar, Masalah Tak Hanya Gula Rafinasi

Kendati begitu, rencana tersebut tetap diawali dengan kajian mendalam sebelum kebijakan diterapkan. Perlu diuji secara objektif apakah mekanisme impor BUMN akan memberikan efisiensi yang lebih baik dibandingkan sistem yang berjalan saat ini. Tanpa dasar kajian yang kuat, kebijakan tersebut berisiko tidak tepat sasaran.

“Kalau memang BUMN mampu melakukan proses produksi dalam hal ini gula rafinasi, ya impor, lebih efisien dibandingkan dengan swasta silahkan aja gitu. Tetapi yang sangat penting itu adalah kajian,” ujar Hermanto Siregar kepada Kompas.com, Sabtu (25/4/2026).

“Jadi kaji dulu, sebetulnya dengan pelaksanaan importasi oleh BUMN itu nanti akan lebih efisien atau enggak dibandingkan dengan yang saat ini?,” paparnya.

Ia mencatat bahwa kebijakan menjadikan BUMN sebagai satu-satunya pelaku impor bahan baku gula rafinasi, maka dalam perspektif ekonomi, aturan itu dikategorikan sebagai monopoli pemerintah.

“Apakah, misalnya, itu satu-satunya opsi importasi pokoknya oleh BUMN? misalnya, yang berarti apa? Kalau dalam ilmu ekonomi itu kan berarti kan monopoli, ya monopoli pemerintah,” beber Hermanto.

Baca juga: Impor Gula Rafinasi Bakal Dialihkan ke BUMN, Harga Bakal Naik?

Persoalan utama industri gula nasional

Dalam perspektif teori ekonomi, struktur pasar monopoli umumnya dinilai kurang ideal, jika dibandingkan dengan sistem persaingan yang sehat.

Hal itu karena dalam kondisi monopoli, hanya ada satu pelaku yang menguasai pasar sehingga tekanan kompetisi menjadi sangat minim. Ketika tidak ada pesaing, insentif untuk meningkatkan efisiensi, menekan biaya produksi, maupun memperbaiki kualitas produk atau layanan cenderung melemah.

“Kalau menurut teori, ini kan kita akademik, ya, kalau menurut teori, monopoli itu kurang bagus dalam hal, katakanlah, efisiensi dan sebagainya itu dibandingkan dengan kompetisi yang sehat gitu. Bersaing yang sehat,” lanjutnya.

Ia menekankan bahwa persoalan utama industri gula nasional bukan semata pada skema impor, melainkan pada struktur produksi yang belum efisien, baik di sektor hulu maupun hilir.

Dari sisi hulu, produktivitas kebun tebu masih menjadi tantangan utama. Menurut Hermanto, peningkatan produktivitas harus dilakukan melalui penerapan teknologi budidaya, termasuk penggunaan bibit unggul yang mampu meningkatkan hasil panen.

Baca juga: Mendag Budi Santoso Bantah Gula Rafinasi Bocor Ke Pasar

Halaman:


Terkini Lainnya
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Ekbis
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
Cuan
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
Cuan
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Energi
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Keuangan
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Keuangan
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Keuangan
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Ekbis
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Energi
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Keuangan
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
Industri
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
Ekbis
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Ekbis
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Ekbis
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau