JAKARTA, KOMPAS.com - Emiten pengelola restoran KFC Indonesia, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) melaporkan total liabilitas atau utang senilai Rp 3,97 triliun hingga semester I-2025.
Jumlah ini naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai 3,40 triliun.
Direktur Fast Food Indonesia (FAST) Wachjudi Martono menjelaskan, peningkatan utang perseroan terjadi lantaran FAST melakukan pembiayaan kembali (refinancing) dari pinjaman.
"Kami di tahun 2025 sampai dengan Juni, kami melakukan refinancing terhadap fasilitas (pinjaman) yang ada," kata dia dalam Public Expose, Kamis (2/10/2025).
Baca juga: KFC Indonesia Beberkan Rencana Bisnis Usai Anak Haji Isam Beli 35 Persen Saham Anak Usaha
Ia menjelaskan, FAST memperpanjang tenor untuk pinjaman jangka pendek menjadi pinjaman dengan tenor yang lebih panjang.
"Fasilitas yang ada di tahun 2024 itu dibayarkan secara penuh kewajibannya, tapi di-rollover fasilitas yang sifatnya lebih panjang. Atau dari short term facility ke long term facility," imbuh dia.
Lebih lanjut, Wachjudi bilang, FAST telah menutup 19 gerai hingga September 2025. Imbas penutupan gerai membuat perusahaan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 400 karyawan.
Ia menjelaskan penutupan gerai dilakukan karena ada dua faktor utama. Pertama, adanya kontrak sewa yang telah berakhir sehingga restoran harus ditutup.
Kedua, sejumlah gerai tidak menunjukkan pemulihan kinerja yang signifikan sejak 2020.
Baca juga: KFC Indonesia Rugi Rp 138,75 Miliar Semester I-2025, Tutup 19 Gerai demi Efisiensi
Secara umum, restoran KFC telah menghadapi berbagai tantangan kinerja dalam beberapa tahun terakhir.
"Tentu saja kalau dilihat dari tantangan yang ada, perseroan mengalami tantangan mulai dari Covid-19 di tahun 2020, sampai boikot dari 2023 sampai 2024," tutur dia.
"Kami merasakan adanya penurunan daya beli masyarakatyang menyebabkan transaksi kami mengalami penurunan yang cukup besar," timpal dia.
Dilihat dari laporan keuangannya, FAST meraih pendapatan Rp 2,4 triliun per semester I-2025.
Realisasi itu menurun 3,21 persen dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp 2,48 triliun.
FAST juga masih membukukan kerugian di sepanjang Januari-Juni 2025 sebesar Rp 138,75 miliar, menyusut dari rugi di periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp 348,83 miliar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang