Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

KFC Indonesia Beberkan Rencana Bisnis Usai Anak Haji Isam Beli 35 Persen Saham Anak Usaha

Kompas.com, 3 Oktober 2025, 08:40 WIB
Agustinus Rangga Respati,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Emiten pengelola restoran KFC Indonesia, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) mengatakan, pihaknya telah mendapatkan dukungan dana melalui aksi korporasi yang dilakukan oleh putri dari Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam melalui PT Shankara Fortuna Nusantara (SFN).

Direktur Fast Food Indonesia (FAST) Wachjudi Martono mengatakan, saat ini SFN memang telah menjadi bagian dari pemegang saham (shareholder) di perseroan.

Ia menceritakan, perusahaan milik putri Haji Isam saat ini telah memiliki sekitar 35 persen saham dari anak usaha FAST yang bernama PT Jagonya Ayam Indonesia (JAI).

Baca juga: Anak Haji Isam Masuk Bisnis KFC, FAST Kantongi Rp54 Miliar

Perusahaan ini ditargetkan akan beroperasi penuh pada akhir 2026.

"FAST punya anak perusahaan yang sedang membangun integrasi peternakan ayam yang berada di Banyuwangi, namanya PT Jagonya Ayam Indonesia," kata dia dalam Public Expose, Kamis (2/10/2025).

Sedikit catatan, PT Shankara Fortuna Nusantara yang dikelola putri Haji Isam, Liana Saputri tersebut bergerak di bidang perdagangan besar daging ayam dan daging ayam olahan.

Lebih lanjut, Wachjudi menjelaskan, ke depan FAST tidak berencana melakukan aksi korporasi yang bersifat akuisisi. Pihaknya juga mengaku tidak akan melakukan penjualan salam FAST atau anak usahanya.

Sebagai perusahaan yang masuk kategori quick service restaurant, FAST akan fokus melakukan ekspansi usaha ke depan.

"Salah satu bisnis modal ke depannya, kami tetap melakukan ekspansi usaha dalam bentuk gerai-gerai baru yang sifatnya relokasi atau menggantikan gerai lama yang sudah tidak berponsi untuk mendapatkan nilai sales yang baik," terang dia.

Baca juga: KFC Indonesia Rugi Rp 138,75 Miliar Semester I-2025, Tutup 19 Gerai demi Efisiensi

Sebagai informasi, FAST juga terafiliasi dengan Grup Salim yang sempat menyuntikkan dana senilai Rp 40 miliar melalui induk usahanya, PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET).

Suntikan modal Anthoni Salim dilakukan melalui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement.

FAST menerbitkan sebanyak-banyaknya 533 juta saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 150 per saham yang nilainya mencapai Rp 80 miliar.

Lewat aksi korporasi tersebut, kepemilikan DNET atasu FAST naik dari sebelumnya 35,84 persen menjadi 37,51 persen.

Baca juga: Masih Rugi, KFC Indonesia (FAST) Tutup 19 Gerai dan PHK 400 Karyawan

Sementara itu, pihak lain yang juga turut dalam aksi korporasi ini adalah PT Gelael Pratama dengan jumlah yang sama.

Dilihat dari laporan keuangannya, FAST meraih pendapatan Rp 2,4 triliun per semester I-2025.

Realisasi itu menurun 3,21 persen dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp 2,48 triliun.

FAST juga masih membukukan kerugian di sepanjang Januari-Juni 2025 sebesar Rp 138,75 miliar, menyusut dari rugi di periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp 348,83 miliar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Saat Dunia Terobsesi Startup, China Membangun Pabrik
Ekbis
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
IHSG Selasa (2/6) Rawan Koreksi Jelang Data Inflasi, Cermati Saham DEWA, UNTR, BBCA, ANTM
Cuan
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
RUPST BEI Digelar 29 Juni 2026, Kapan Pengumuman Direksi Baru?
Cuan
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Trump Cuek Hasil Negosiasi dengan Iran, Harga Minyak Langsung Naik 4 Persen
Energi
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Purbaya Bakal Evaluasi DSI Jika Ekspor Satu Pintu Tak Dongkrak Penerimaan Negara
Keuangan
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Inflasi Mei Diprediksi Naik ke 2,94 Persen, Pelemahan Rupiah dan Harga Energi Jadi Pemicu
Keuangan
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Rupiah Menguat Efek Aturan DHE SDA Berlaku, Proyeksi Analis: Tak Bertahan Lama
Keuangan
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Brantas Abipraya Sertifikasi 300 Pekerja Konstruksi Sekolah Rakyat di Lampung
Ekbis
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Pertamina Patra Niaga Turunkan Harga Avtur 10 Persen Mulai Hari Ini
Energi
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Rupiah Hari Ini Menguat, Berkat DHE SDA di Tengah Gejolak Global
Keuangan
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
China Buka Keran Ekspor Urea, Krisis Pupuk Global Berpotensi Mereda
Industri
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
Ekbis
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Bulog dan PT GMM Temui Petani Tebu, Bahas Penyerapan Hasil Panen
Ekbis
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Bulog Pastikan Penyaluran Tebu Petani Blora Tetap Lancar
Ekbis
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
ASDP Tegaskan Kendaraan Listrik Boleh Naik Kapal Feri, Ini Syaratnya
Ekbis
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau