Editor Travel & Food
Penulis: Dhimas Ari Yudha Pratama
Mahasiswa S1 Universitas Palangka Raya
KOMPAS.com - Di tengah ancaman banjir yang setiap tahun membayangi warga Desa Tewang Panjang, sekelompok mahasiswa hadir membawa harapan baru.
Melalui kolaborasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum dan Fakultas Teknik Universitas Palangka Raya (UPR), mahasiswa menggerakkan program pemberdayaan yang tidak hanya memperkenalkan teknologi rumah amfibi, tetapi juga menguatkan kesiapsiagaan warga dan pemuda desa untuk menghadapi bencana.
Program ini terlaksana lewat hibah Program Mahasiswa Berdampak (PM-BEM) yang didanai penuh oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Sebanyak 21 mahasiswa terlibat dalam program ini, terdiri atas 11 mahasiswa Fakultas Hukum dan 10 mahasiswa Fakultas Teknik.
Baca juga: Sinergi Akademisi dan UMKM Dongkrak Produk Pangan Magelang Tembus Pasar Lebih Luas
Mereka bekerja bersama sejak tahap edukasi mitigasi bencana, perakitan fondasi amfibi Ark’a Modulam, hingga pendampingan pembentukan organisasi pemuda desa. Kolaborasi dua rumpun keilmuan ini membuat program berjalan lebih menyeluruh, mencakup aspek teknis, sosial, hingga hukum.
Dosen pembimbing utama, Dr. Thea Farina, S.H., M.Kn, menjelaskan bahwa inovasi Ark’a Modulam merupakan hasil riset dosen UPR yang dikembangkan untuk merespons banjir ekstrem di Kalimantan Tengah. Ia menilai teknologi ini sangat relevan untuk masyarakat yang tinggal di sepanjang Daerah Aliran Sungai.
“Inovasi Ark’a Modulam bukan hanya soal teknologi konstruksi, tetapi juga tentang bagaimana kita menghadirkan solusi adaptif yang dapat mengurangi kerentanan masyarakat terhadap banjir tahunan. Sistem ini bekerja mengikuti naik-turunnya air, sehingga rumah dapat tetap aman tanpa harus dibongkar apabila terjadi peningkatan muka air,” ujarnya.
Dosen pembimbing lainnya, Nuraliah Ali, S.Pd.I, M.Pd.I., M.H, memberikan apresiasi atas keberhasilan tim PM-BEM FH & FT UPR yang lolos pendanaan nasional. Ia menegaskan bahwa capaian ini menjadi bukti kapasitas inovatif mahasiswa UPR.
Baca juga: Beasiswa bagi Guru SD-PAUD Kuliah D4-S1, Simak Cara dan Kriteria
“Lolosnya tim ini dalam pendanaan Kemendiktisaintek menjadi kebanggaan tersendiri. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa kita mampu merancang program yang relevan, berdampak, dan berorientasi pada solusi. Keterlibatan mereka di lapangan membuktikan bahwa pendidikan tinggi tidak berhenti pada teori, tetapi benar-benar hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Satriya Nugraha, S.H., M.Hum, menyoroti pentingnya pembentukan organisasi pemuda desa yang berfokus pada mitigasi bencana. Menurutnya, penguatan kelembagaan pemuda menjadi langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan program.
“Pemuda memiliki energi besar untuk menjadi garda terdepan dalam mitigasi bencana. Dengan legalitas dan struktur organisasi yang jelas, mereka dapat bekerja lebih efektif, mendapatkan pelatihan lanjutan, bahkan menjalin kemitraan dengan lembaga-lembaga seperti Kesbangpol, BPBD, dan instansi lainnya. Inilah fondasi kelembagaan yang akan mendukung desa menjadi lebih tangguh,” jelasnya.
Pada aspek teknis, program menghadirkan narasumber utama Wijanarka, dosen Fakultas Teknik UPR sekaligus pengembang teknologi Ark’a Modulam—rumah amfibi berbasis drum apung dan rel vertikal.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan fungsi, manfaat, dan nilai adaptif teknologi ini, serta bagaimana masyarakat dapat memahami mekanismenya untuk penggunaan jangka panjang.
Baca juga: Sinergi Kampus dan Generasi Muda: Bangun Ekonomi Lokal lewat Budidaya Lobster
Selain itu, narasumber dari BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah turut memberikan pelatihan mitigasi bencana, mulai dari identifikasi risiko, sistem peringatan dini, hingga teknik evakuasi saat banjir.