Memuat...

Trump Ancam Serang Iran, AS Pertimbangkan Kembali Operasi Militer

Zarah Amala
Selasa, 1 September 2026 / 20 Rabiulawal 1448 11:01
Trump Ancam Serang Iran, AS Pertimbangkan Kembali Operasi Militer
Donald Trump berjalan di dekat Gedung Putih pada 28 Agustus 2026. [Getty]

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan para pejabat senior pemerintahannya mempertimbangkan untuk melanjutkan perang terhadap Iran guna mencegah Teheran menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz. Hal itu dilaporkan Axios dengan mengutip tiga pejabat AS.

Pertimbangan tersebut muncul beberapa jam setelah Trump mengancam akan menyerang Iran dengan lebih keras, menyusul pertukaran serangan antara kedua negara yang terjadi untuk pertama kalinya dalam lebih dari sebulan.

Setelah enam bulan perang, AS dan Iran masih berada dalam kebuntuan. Iran mempertahankan penutupan Selat Hormuz, sementara AS terus menjalankan blokade laut terhadap Iran.

Menurut Axios, rencana serangan baru itu disusun Komando Pusat AS (CENTCOM) dan mendapat dukungan Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Operasi tersebut disebut tidak akan berupa perang berskala penuh, melainkan serangkaian serangan terbatas terhadap fasilitas rudal dan radar Iran.

Seorang pejabat AS menggambarkan rencana tersebut dengan istilah "mowing the lawn", istilah yang kerap digunakan pejabat militer 'Israel' untuk menggambarkan serangan berkala ke Gaza.

"Presiden tetap memiliki semua opsi yang tersedia," kata seorang pejabat Gedung Putih kepada Axios. Ia juga menyatakan bahwa Iran menginginkan kesepakatan, tetapi dinilai selalu terlambat mengambil langkah.

Pada Ahad malam (30/8/2026), AS mengakui telah menyerang Pulau Larak di Selat Hormuz. Washington mengatakan serangan tersebut menargetkan peluncur roket Iran yang diduga dipersiapkan untuk menanam ranjau di jalur pelayaran strategis tersebut.

Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap sasaran militer AS di Timur Tengah.

"Kami akan menghantam mereka dengan keras. Akan ada respons," kata Trump, menurut laporan Fox News.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim serangan rudal balistiknya terhadap dua pangkalan udara AS di Yordania menyebabkan "kerusakan berat". Namun, militer Yordania mengatakan telah mencegat delapan rudal tanpa menyebut asalnya.

Trump mengatakan kepada Fox News bahwa seluruh rudal yang ditembakkan ke pasukan AS berhasil dicegat, kecuali satu rudal yang dinilai tidak menimbulkan ancaman.

Iran juga mengklaim menyerang personel AS di sebuah pangkalan udara di Uni Emirat Arab (UEA) serta menembak jatuh drone Amerika di atas Selat Hormuz. Abu Dhabi mengonfirmasi telah mencegat sebuah drone di wilayah perairannya, tetapi membantah bahwa Pangkalan Udara Al Minhad menjadi sasaran dan menyebut klaim tersebut "tidak berdasar".

Pertukaran serangan itu terjadi setelah beberapa pekan relatif tenang. Pemerintahan Trump sebelumnya mengalihkan fokusnya pada apa yang disebut sebagai perang ekonomi terhadap Iran.

Pada Senin, Trump melalui media sosial menyebut Iran sebagai negara gagal. Ia mengklaim militer Iran telah dihancurkan, kondisi keuangannya memburuk, dan kepemimpinannya berada dalam kekacauan.

Perselisihan AS dan Iran juga berpusat pada penguasaan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.

Sebelum perang, sekitar seperlima minyak dunia yang dikonsumsi melewati selat tersebut. Konflik bermula setelah serangkaian serangan mendadak AS dan 'Israel' terhadap Iran pada 28 Februari.

Enam bulan kemudian, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz masih sangat terbatas. Trump mengklaim Angkatan Laut AS telah memiliki "kendali penuh" atas selat tersebut dan bahkan menyebutnya sebagai wilayah AS.

Washington juga menyatakan pekan lalu bahwa operasi pembersihan bahan peledak di jalur pelayaran telah selesai.

Iran membantah klaim tersebut. IRGC pada Senin (31/8) mengatakan sebuah kapal tanker minyak "nakal" terbakar di dekat selat setelah menabrak dua ranjau ketika menggunakan jalur yang disebut Iran sebagai jalur ilegal.

Militer AS membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai disinformasi. "Tidak ada kapal yang menabrak ranjau di Selat Hormuz," kata militer AS.

Upaya mediasi untuk mengakhiri perang telah berlangsung selama berbulan-bulan, tetapi gencatan senjata dan nota kesepahaman sebelumnya akhirnya gagal. Serangan sporadis kembali terjadi sebelum mereda.

AS terakhir kali menyerang Iran pada 29 Juli, setelah sebelumnya melancarkan serangan terhadap Iran selama 13 malam berturut-turut pada bulan yang sama.

Di tengah mandeknya diplomasi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu telah memengaruhi Washington untuk berperang dengan Iran demi kepentingan Israel.

"Dalam bahasa Ibrani, Netanyahu secara terbuka membanggakan bahwa dia menipu pemerintahan AS agar berperang dengan Iran demi 'Israel'," tulis Araghchi melalui X. (zarahamala/arrahmah.id)