Muharram adalah bulan yang identik dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekkah menuju Madinah. Oleh karena itu, momen Muharram mengandung pesan yang sangat dalam sebagai refleksi bagi kehidupan kaum muslimin hari. Namun, kita tidak boleh memaknai hijrah sebatas pindah tempat, namun lebih dari itu.
Rasulullah saw bersabda:
"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah Swt." (HR.Bukhari)
Dari hadis tersebut jelaslah bahwa hijrah bermakna pindah dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kebodohan menuju ilmu, dan dari kehidupan yang jauh dari syariat menuju kehidupan yang tunduk pada syariat. Dengan demikian dapat dipahami bahwa momentum hijrah merupakan momentum kebangkitan umat Islam.
Sebagaimana disampaikan oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Syakhsiyyah Islamiyah jilid 2 bahwa hijrah adalah al-khuruju min daril kufri ila daril Islam, yakni keluar dari darul kufur menuju darul Islam. Artinya, hijrah bukan semata perpindahan secara fisik, tetapi perpindahan secara sistemis. Sebagaimana kita tahu dalam sejarah bahwa Rasul meninggalkan sistem hidup jahiliah di Makkah menuju sistem Islam kaffah yang diterapkan di Madinah. Di sana lah kemudian Rasulullah SAW membangun negara Islam dan beliau sendirilah sebagai kepala negaranya. Inilah titik awal berdirinya sebuah peradaban gemilang yang mengeluarkan manusia dari kegelapan sistem kufur jahiliah.
Sebagaimana firman Allah Swt dalam Surah Al-Baqarah: 257, "Allah adalah pelindung orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya."
Islam adalah Sistem Kehidupan
Allah menurunkan Islam lewat perantara Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi semesta alam. Artinya, Islam akan menjadi sumber kebaikan bagi dunia. Maka, ketika Islam menjadi asas satu-satunya dalam kehidupan, niscaya akan lahir kebaikan bagi manusia di dalamnya. Ini terbukti ketika daulah Islam tegak di Madinah sebagai sebuah institusi, umat bangkit dan berubah menjadi umat yang mulia dan berada, dinaungi keadilan dan jauh dari kezaliman. Bahkan umat Islam tampil menjadi sebaik-baiknya umat bagi dunia.
Peradaban Islam memimpin dunia dan mengungguli berbagai kemajuan. Dari peradaban Islam itulah lahir berbagai ilmuwan hebat yang kelak akan menjadi landasan pengembangan ilmu bagi para ilmuwan Barat era modern. Misalnya saja Ibnu Sina atau dikenal di Barat dengan nama Avicenna. Beliau menulis Menulis kitab Al-Qanun fi at-Tibb (Canon of Medicine) yang menjadi buku teks kedokteran di universitas-universitas Eropa selama ratusan tahun.
Betikutnya ada Al-Khawarizmi yang dijuluki Bapak Al-Jabar. Istilah "algoritma" berasal dari pelafalan nama Al-Khawarizmi dalam bahasa Latin. Karyanya menjadi dasar perkembangan matematika modern dan ilmu komputer.
Ada juga Ibnu Haitsam atau dikenal juga dengan Al-Hazen. Karyanya tentang optik memengaruhi perkembangan fisika dan astronomi di Eropa. Selain itu, ada Al-Biruni yang mengukur keliling bumi dengan tingkat ketelitian yang sangat mengagumkan untuk zamannya. Karyanya menjadi referensi bagi ilmuwan Eropa dalam geografi dan astronomi.
Demikianlah orang-orang hebat dan luar biasa yang dicetak oleh peradaban Islam. Mereka dididik dengan akidah Islam kokoh dan hidup di dalam masyarakat islami.
Dunia Tanpa Sistem Islam
Dalam realita hari ini, dunia diliputi kegelapan akibat jauhnya umat dari aturan Islam. Islam hanya menjadi agama ruhiyah semata, namun ditinggalkan sebagai agama siyasi (politik). Sebaliknya, umat Islam mengadopsi ideologi kapitalisme sekuler liberal ala Barat. Akibatnya, umat Islam kian terperosok dalam kemunduran. Peradaban Barat memimpin dunia dan menjadikan umat Islam sebagai objek penderita. Akibatnya, bisa kita lihat fakta umat Islam hari ini di berbagai negeri muslim, misalnya Palestina mereka dizalimi dengan sangat membabi-buta oleh Zionis laknatullah. Sementara itu dunia hanya sibuk mengecam dan berdiplomasi. Belum lagi di Xinjiang, Myanmar, India, umat Islam mengalami diskriminasi dan penganiayaan dari penguasanya. Tak hanya itu, berbagai negeri muslim menjadi ladang imperialisme para kapitalis Barat. Miris!
Inilah wajah buram ketika Islam tidak memiliki satu kepemimpinan dalam bingkai Khilafah Islamiah. Oleh karena itu, Muharram harusnya menjadi momentum bagi kita untuk menyatukan visi perjuangan demi mengembalikan kehidupan Islam yang mulia. Umat Islam harus bersatu untuk tegaknya kembali Khilafah Islamiah, institusi warisan Nabi, setelah runtuhnya pada 1924 silam. Sungguh kemenangan Islam adalah janji Allah, maka sudah menjadi tugas kita untuk menjemputnya dengan berupaya mendakwahkan Islam kepada umat sebagai sebuah sistem kehidupan.
"Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman..." (QS. An-Nur:51)
Wallahu'alam bis shawab
