Memuat...

Jauhi Ulama Penguasa

Prince of Jihad
Sabtu, 28 Maret 2009 / 2 Rabiulakhir 1430 00:57
Jauhi Ulama Penguasa
Jauhi Ulama Penguasa

Berikut adalah beberapa riwayat yang seharusnya membantu menyadarkan umat akan adanya perbedaan antara ulama yang benar dan ulama yang palsu. Kebanyakan dari ulama yang benar pada hari ini tidak lain berada di dalam tahanan atau di barisan depan pada medan pertempuran.

Abdullah Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"Akan ada penguasa yang kamu kenal, dari mereka ada yang baik dan ada yang jahat. Siapa saja yang menentangnya akan selamat. Siapa saja yang berlepas diri darinya akan selamat. Dan siapa saja yang bersama dengan mereka akan binasa."

(Dikoleksi oleh Ibnu Abi Syaibah dan At-Tabarani; Al-Albani dalam "Shahih Al-Jaami'", Hadits No. 3661).

Abul A'war As-Sulami berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"Hati-hati terhadap pintu-pintu penguasa; di sana ada kesukaran dan kehinaan."

(Dikoleksi oleh Ad-Dailami dan At-Tabarani; Al-Albani dalam "As-Silsilah As-Shahiihah", Hadits No. 1253).

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"Siapa saja yang mendekati pintu-pintu penguasa akan menderita. Siapa dari seorang hamba yang semakin mendekati penguasa, dia hanya memperbesar jarak dari Allah."

(Dikoleksi oleh Ahmad; Al-Albani dalam "Shahiih at-Targhiib wat-Tarhiib", Hadits No. 2241).

Jabir Ibnu Abdillah berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ka'ab Ibnu Ujrah:

"Wahai Ka'ab Ibnu Ujrah, aku mencari lindungan Allah untukmu dari kepemimpinan orang bodoh. Akan ada penguasa; siapa saja yang datang kepada mereka, kemudian membantu mereka dalam kezaliman dan membenarkan kebohongan mereka, maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, serta tidak akan datang kepadaku di Haud (Telaga Rasulullah ﷺ di surga). Barang siapa tidak membantu mereka dalam kezaliman mereka dan tidak pula membenarkan kebohongan mereka, maka dia dari golonganku dan aku dari golongannya. Dia akan diizinkan menuju ke Haud."

(Dikoleksi oleh Ahmad, Al-Bazzar, dan Ibnu Hibban; Al-Albani dalam "Shahih At-Targhib wat Tarhib", Hadits No. 2243).

Selain itu, ada berbagai riwayat dari perkataan para sahabat. Dalam hal ini, As-Suyuthi telah mengumpulkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas'ud, Hudzaifah Ibnu Al-Yaman, dan Abu Dzar yang memperingatkan agar tidak mendekati penguasa atau pintu-pintu penguasa. Lihatlah "Maa Rawahul Asaatiin Fii 'Adam Al-Majii' Ilas Salaatin".

Ada begitu banyak riwayat dengan pengertian yang sama. Berikut beberapa contohnya.

Ibnu Mas'ud berkata:

"Siapa saja yang menginginkan kemuliaan diennya, maka dia seharusnya tidak datang kepada penguasa."

(Dikoleksi oleh Ad-Darimi).

Ibnu Mas'ud juga berkata:

"Seorang pria datang kepada penguasa, membawa diennya bersamanya, lalu pergi tanpa membawa apa pun."

(Dikoleksi oleh Al-Bukhari dalam "Taarikh"-nya dan Ibnu Sa'ad dalam "At-Tabaqaat").

Hudzaifah Ibnu Al-Yaman berkata:

"Sungguh! Seharusnya tidak ada di antara kalian yang berjalan walaupun satu hasta ke arah penguasa."

(Dikoleksi oleh Ibnu Abi Syaibah).

As-Suyuthi juga mengumpulkan riwayat yang sama dari para ulama setelah Salaf, yaitu Sufyan Ats-Tsauri, Sa'id Ibnu Al-Musayyib, Hammad Ibnu Salamah, Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Al-Mubarak, Abu Hazim, Al-Auza'i, dan Al-Fudhail Ibnu 'Iyadh.

Beberapa contoh dari Ulama Salaf

Sufyan Ats-Tsauri berkata:

"Jangan pergi, walaupun jika mereka memintamu untuk mengunjungi mereka hanya untuk membacakan Qul Huwallahu Ahad."

(Dikoleksi oleh Al-Baihaqi).

Malik Ibnu Anas berkata:

"Aku bertemu lebih dari sepuluh tabi'in. Semua dari mereka berkata: jangan pergi kepada mereka, jangan menegur mereka, dan jangan mendekati penguasa."

(Dikoleksi oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam "Ruwah Malik").

Sufyan Ats-Tsauri berkata:

"Memandang penguasa adalah sebuah dosa."

(Dikoleksi oleh Abu Ali Al-Amudi dalam "Ta'liq"-nya).

Bisyr Al-Hafi berkata:

"Betapa menjijikkan apabila seseorang meminta untuk bertemu seorang ulama, tetapi kemudian mendapat jawaban bahwa dia berada di pintu penguasa."

(Dikoleksi oleh Al-Baihaqi dalam "Syu'ab Al-Iman").

Hal yang masih tersisa adalah pertanyaan: bukankah berbicara kebenaran di hadapan penguasa tiran adalah jihad yang paling besar?

Jawabnya adalah: ya. Namun, riwayat yang lain menjelaskan mengapa hal itu disebut sebagai jihad yang paling besar dan pelakunya mendapatkan kedudukan syahid, yaitu karena setelah dia menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran, penguasa tersebut membunuhnya. Inilah hakikat berbicara dengan kebenaran, bukan mengikuti hawa nafsu dan mengunjungi penguasa setiap hari hingga ulama tersebut kemudian menjadi penasihat pribadinya.

Orang-orang Salaf takut bahwa kebanyakan manusia begitu lemah untuk berdiri tegak di hadapan penguasa. Mereka khawatir seseorang justru akan terpengaruh oleh kekuasaan dan kekayaan, lalu membenarkan serta mengompromikan dien demi penguasa. Inilah yang menurut penulis persis terjadi pada "ulama" di hari ini.

Betapa bijaknya orang-orang Salaf dan betapa bodohnya (sebagian besar) Khalaf (ulama masa kini).

Wallahu a'lam bish-shawab.

Sumber: almuhajirun

(Poj/arrahmah.id)