Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nenek Moyang Buaya Berusia 212 Juta Tahun Ditemukan, Punya Paruh Tanpa Gigi

Kompas.com, 28 Mei 2026, 09:06 WIB
Gloria Setyvani Putri

Penulis

KOMPAS.com - Apa yang terlintas di pikiran Anda saat mendengar kata buaya? Rahang besar? Gigi-gigi tajam yang mengerikan? Atau tubuh panjang menyerupai balok kayu yang merayap dengan empat kaki?

Jika itu yang Anda bayangkan, maka siap-siaplah dibuat terkejut oleh penemuan terbaru para ahli paleontologi.

Baru-baru ini, ilmuwan berhasil mengidentifikasi spesies baru nenek moyang buaya yang hidup 212 juta tahun lalu. Alih-alih menyeramkan, hewan purba ini justru tidak punya gigi, memiliki paruh, dan berjalan tegak dengan dua kaki. Sangat berbeda dengan buaya yang kita kenal sekarang.

Baca juga: Punah pada 1627, Auroch si Moyang Sapi Bakal Dihidupkan Lagi

Dikutip IFLscience, reptil unik ini resmi diberi nama Labrujasuchus expectatus, atau yang dijuluki sebagai "Witch Croc" (Buaya Penyihir).

Ia merupakan anggota terbaru dari keluarga Shuvosauridae, kelompok reptil punah yang sekilas justru lebih mirip dinosaurus theropoda berlengan pendek ketimbang seekor buaya.

Mengapa Disebut "Buaya Penyihir"?

Nama Labrujasuchus diambil dari kata Ranchos de los Brujos (artinya Peternakan para Penyihir). Ini merupakan nama kuno dari Ghost Ranch di New Mexico, Amerika Serikat, tempat di mana fosil unik ini ditemukan.

Menurut legenda setempat, nama bernuansa mistis itu sengaja digunakan oleh para peternak zaman dulu untuk menakut-nakuti orang agar menjauh dari lokasi pencurian ternak.

Sementara nama belakangnya, expectatus, memiliki arti "yang diharapkan."

Nama ini dipilih karena para ilmuwan memang sudah lama memprediksi adanya mata rantai yang hilang di antara dua fosil shuvosaurid yang ditemukan sebelumnya di wilayah tersebut.

Baca juga: Nenek Moyang Buaya Ini Awalnya Berjalan dengan Empat Kaki, Lalu Beralih ke Dua Kaki

Punya Paruh Tapi Bukan Burung

Kehadiran paruh pada Labrujasuchus merupakan contoh sempurna dari evolusi konvergen—sebuah fenomena di mana makhluk hidup yang tidak berkerabat dekat mengembangkan fitur tubuh yang mirip karena tuntutan lingkungan atau gaya hidup yang sama.

Lantas, digunakan untuk apa paruh tanpa gigi tersebut? Karena fosilnya baru diteliti, para ilmuwan masih terus mencari jawaban pastinya.

“Kami belum tahu pasti apa yang dilakukan Labrujasuchus dengan paruhnya. Namun, beberapa studi pada kerabatnya menunjukkan bahwa rahang bawah kelompok shuvosaurid relatif lemah. Kemungkinan mereka adalah pengunyah spesialis tanaman atau vegetasi yang lunak,” kata Nathan Smith, salah satu penulis penelitian dari Natural History Museum of Los Angeles County.

Masa Lalu Buaya yang Penuh Warna

Bagi manusia modern, membayangkan buaya berjalan dengan dua kaki mungkin terdengar sangat aneh. Namun di zaman Trias (era fajar dinosaurus), nenek moyang buaya ternyata mengeksplorasi banyak gaya hidup.

Sebelum akhirnya berevolusi menjadi predator air berkaki empat seperti sekarang, beberapa leluhur buaya ada yang menjadi pelari cepat, ada yang tinggal di atas pepohonan, dan ada pula yang berjalan bipedal (dua kaki) seperti Labrujasuchus.

Alan Turner, penulis utama penelitian dari Stony Brook University di New York, menjelaskan bahwa strategi bertahan hidup ini sebenarnya sangat sukses pada zamannya.

Baca juga: Tersimpan 75 Tahun di Gudang Museum, Spesies Baru Nenek Moyang Buaya Akhirnya Terungkap

“Berjalan dengan dua kaki (bipedalism) memang jalur yang unik untuk kerabat buaya. Namun, jalur ini juga sukses diambil oleh dinosaurus dan kemudian burung. Strategi ini terbukti berhasil untuk hewan-hewan tersebut,” ungkap Alan Turner dalam sebuah pernyataan resmi.

Penelitian komprehensif mengenai si "Buaya Penyihir" yang unik ini telah resmi diterbitkan dalam Journal of Vertebrate Paleontology.

Penemuan ini menjadi tonggak sejarah penting setelah tim peneliti menghabiskan waktu selama 20 tahun melakukan investigasi di Ghost Ranch. Para ilmuwan yakin, masih banyak "makhluk aneh" lainnya yang terkubur di peternakan penyihir tersebut dan menunggu untuk ditemukan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau