Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ramai Hantavirus, Peneliti BRIN Pastikan Andes Virus Belum Ditemukan di Indonesia

Kompas.com, 13 Mei 2026, 17:51 WIB
Gloria Setyvani Putri

Penulis

Sumber BRIN

KOMPAS.com – Informasi mengenai hantavirus, khususnya jenis Andes virus, kembali menjadi perbincangan hangat di berbagai platform digital.

Menanggapi hal tersebut, para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan penjelasan komprehensif guna meluruskan persepsi publik terkait risiko dan penularannya.

Baca juga: Belajar dari Covid-19, Pengawasan Bandara Diperketat demi Cegah Penyebaran Hantavirus

Hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang ditularkan melalui hewan pengerat atau rodensia, terutama tikus liar.

Salah satu varian yang paling diwaspadai adalah Andes virus, yang dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), sebuah infeksi paru berat yang berpotensi memicu gagal napas akut.

Sumber Penularan dan Risiko HPS

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, menjelaskan bahwa reservoir utama virus ini adalah tikus liar, seperti tikus got (Rattus norvegicus), tikus rumah, hingga mencit liar.

“Reservoir utama Andes virus adalah tikus liar. Penularan umumnya terjadi ketika manusia menghirup partikel halus dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi,” ujar Ristiyanto dalam keterangan tertulisnya, Minggu (10/5/2026).

Infeksi ini memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi, yakni berkisar antara 20-35 persen. Gejala awalnya sering kali mengecoh karena menyerupai influenza, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, dan mual. Kondisi ini dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan serius yang memerlukan perawatan intensif.

Status di Indonesia: Belum Ada Kasus

Meskipun menjadi perhatian, Ristiyanto menegaskan bahwa hingga saat ini Indonesia belum pernah melaporkan kasus Andes virus.

Hasil riset vektor dan reservoir penyakit di Indonesia pada periode 2015–2018 juga menunjukkan tidak adanya temuan Andes virus pada kelompok tikus yang diteliti.

Penelitian mengenai hantavirus di Indonesia sendiri telah dilakukan sejak 1991, khususnya di wilayah Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur, sebagai bagian dari pemantauan penyakit zoonosis.

Terkait kekhawatiran penularan antarmanusia, peneliti BRIN Arief Mulyono meminta masyarakat untuk melihat informasi tersebut secara proporsional. Karakteristik penyebaran Andes virus sangat berbeda dengan virus yang mudah menular lewat udara seperti COVID-19 atau influenza.

“Penularan antarmanusia pada Andes virus sangat jarang terjadi dan umumnya hanya berlangsung melalui kontak erat dan intensif dalam waktu lama. Penyakit ini tidak menyebar cepat melalui udara di lingkungan masyarakat,” tegas Arief.

Arief juga meluruskan anggapan keliru mengenai penularan seksual. Menurutnya, temuan kasus pada pasangan intim lebih disebabkan oleh kedekatan fisik yang sangat intens, termasuk paparan air liur atau sekret pernapasan pada fase akut, bukan otomatis menjadikannya penyakit menular seksual.

Baca juga: Dokter yang Tangani Wabah Hantavirus di Yosemite Tahun 2012 Ungkap 5 Fakta Ini

Langkah Pencegahan di Rumah

Masyarakat, terutama pekerja pertanian, petugas kebersihan, dan penghuni wilayah pedesaan, diimbau untuk tetap waspada. Langkah pencegahan utama adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menutup akses masuk tikus ke dalam rumah.

Saat membersihkan area yang terkontaminasi kotoran tikus, masyarakat disarankan untuk tidak langsung menyapunya. Sebaiknya, area tersebut disemprot disinfektan terlebih dahulu agar partikel debu tidak terbang dan terhirup. Penggunaan masker dan sarung tangan juga sangat dianjurkan untuk meminimalkan risiko paparan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau