Penulis
KOMPAS.com – Informasi mengenai hantavirus, khususnya jenis Andes virus, kembali menjadi perbincangan hangat di berbagai platform digital.
Menanggapi hal tersebut, para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan penjelasan komprehensif guna meluruskan persepsi publik terkait risiko dan penularannya.
Baca juga: Belajar dari Covid-19, Pengawasan Bandara Diperketat demi Cegah Penyebaran Hantavirus
Hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang ditularkan melalui hewan pengerat atau rodensia, terutama tikus liar.
Salah satu varian yang paling diwaspadai adalah Andes virus, yang dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), sebuah infeksi paru berat yang berpotensi memicu gagal napas akut.
Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, menjelaskan bahwa reservoir utama virus ini adalah tikus liar, seperti tikus got (Rattus norvegicus), tikus rumah, hingga mencit liar.
“Reservoir utama Andes virus adalah tikus liar. Penularan umumnya terjadi ketika manusia menghirup partikel halus dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi,” ujar Ristiyanto dalam keterangan tertulisnya, Minggu (10/5/2026).
Infeksi ini memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi, yakni berkisar antara 20-35 persen. Gejala awalnya sering kali mengecoh karena menyerupai influenza, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, dan mual. Kondisi ini dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan serius yang memerlukan perawatan intensif.
Meskipun menjadi perhatian, Ristiyanto menegaskan bahwa hingga saat ini Indonesia belum pernah melaporkan kasus Andes virus.
Hasil riset vektor dan reservoir penyakit di Indonesia pada periode 2015–2018 juga menunjukkan tidak adanya temuan Andes virus pada kelompok tikus yang diteliti.
Penelitian mengenai hantavirus di Indonesia sendiri telah dilakukan sejak 1991, khususnya di wilayah Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur, sebagai bagian dari pemantauan penyakit zoonosis.
Terkait kekhawatiran penularan antarmanusia, peneliti BRIN Arief Mulyono meminta masyarakat untuk melihat informasi tersebut secara proporsional. Karakteristik penyebaran Andes virus sangat berbeda dengan virus yang mudah menular lewat udara seperti COVID-19 atau influenza.
“Penularan antarmanusia pada Andes virus sangat jarang terjadi dan umumnya hanya berlangsung melalui kontak erat dan intensif dalam waktu lama. Penyakit ini tidak menyebar cepat melalui udara di lingkungan masyarakat,” tegas Arief.
Arief juga meluruskan anggapan keliru mengenai penularan seksual. Menurutnya, temuan kasus pada pasangan intim lebih disebabkan oleh kedekatan fisik yang sangat intens, termasuk paparan air liur atau sekret pernapasan pada fase akut, bukan otomatis menjadikannya penyakit menular seksual.
Baca juga: Dokter yang Tangani Wabah Hantavirus di Yosemite Tahun 2012 Ungkap 5 Fakta Ini
Masyarakat, terutama pekerja pertanian, petugas kebersihan, dan penghuni wilayah pedesaan, diimbau untuk tetap waspada. Langkah pencegahan utama adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menutup akses masuk tikus ke dalam rumah.
Saat membersihkan area yang terkontaminasi kotoran tikus, masyarakat disarankan untuk tidak langsung menyapunya. Sebaiknya, area tersebut disemprot disinfektan terlebih dahulu agar partikel debu tidak terbang dan terhirup. Penggunaan masker dan sarung tangan juga sangat dianjurkan untuk meminimalkan risiko paparan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang