Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kadal Australia Belajar Mengendus Asap untuk Selamatkan Diri

Kompas.com, 18 September 2025, 19:54 WIB
Wisnubrata

Penulis

KOMPAS.com - Siapa sangka insiden sepele di dapur bisa membuka wawasan baru soal evolusi hewan? Seekor sleepy lizard (Tiliqua rugosus), kadal mungil berekor pendek khas Australia, ternyata punya kemampuan luar biasa: mereka langsung waspada ketika mencium bau asap.

Penelitian dari Macquarie University yang dipublikasikan di jurnal Biology Letters menemukan bahwa kadal ini secara naluriah mengenali asap sebagai tanda bahaya kebakaran. “Penelitian kami menunjukkan bahwa beberapa kadal secara bawaan mengenali asap sebagai sinyal mendekatnya api dan merespons dengan melarikan diri,” jelas Chris Jolly, ahli perilaku hewan dari Macquarie University.

Baca juga: Panas Bisa Ubah Jenis Kelamin Kadal Bearded Dragon, Ini Penjelasannya

Kisah Berawal dari Makan Siang yang Gosong

Fenomena ini pertama kali teramati secara kebetulan di Audubon Zoo, New Orleans. Ketika staf kebun binatang tak sengaja membuat makan siang mereka gosong, para kadal mendadak gelisah, menjulurkan lidah untuk mencicipi udara, bahkan mencoba melarikan diri dari kandangnya.

Menariknya, kebanyakan kadal ini dibesarkan di penangkaran. Artinya, respons mereka bukanlah hasil pengalaman sebelumnya, melainkan bawaan lahir. Hewan reptil lain di sekitar kandang justru tetap tenang meski bau asap menyebar.

Baca juga: Bagaimana Kadal Bisa Terhindar dari Kematian Akibat Ular Berbisa ?

Eksperimen: Asap vs. Suara Api

Untuk menguji fenomena ini, Jolly dan timnya melakukan percobaan terkontrol. Mereka memaparkan kelompok sleepy lizard pada tiga kondisi: hanya bau asap, hanya suara api, dan kombinasi keduanya. Hasilnya mengejutkan: kadal hanya bereaksi ketika mencium bau asap, bukan saat mendengar suara api.

Penemuan ini memperkuat teori bahwa evolusi telah “mengajarkan” hewan-hewan dari wilayah rawan kebakaran untuk melarikan diri ketika mendeteksi asap.

Baca juga: Mengenal Monster Gila, Kadal Berbisa yang Tewaskan Pria di Colorado

Pentingnya Penemuan Ini di Era Perubahan Iklim

Dengan semakin seringnya kebakaran hutan akibat perubahan iklim, pengetahuan ini menjadi sangat penting. “Banyak hewan dari daerah rawan kebakaran, seperti Australia, memiliki kemampuan luar biasa untuk bertahan hidup ketika habitat mereka terbakar,” kata Jolly.

Namun, ini bukan berarti satwa liar sudah siap menghadapi krisis iklim. “Seiring kebakaran menjadi lebih sering, intens, dan tak terduga—bahkan di habitat yang jarang terbakar sebelumnya seperti hutan hujan—kita perlu tahu spesies mana yang bisa merespons sinyal kebakaran, dan mana yang paling rentan,” tambahnya.

Penelitian ini memberi harapan bahwa beberapa spesies memiliki strategi bertahan hidup bawaan. Namun, ia juga mengingatkan kita akan pentingnya konservasi dan perlindungan habitat, karena tidak semua hewan memiliki “kepekaan” yang sama terhadap bahaya.

Bagi para ilmuwan, ini adalah langkah penting untuk memahami bagaimana hewan merespons ancaman alami dan bagaimana kita bisa membantu mereka beradaptasi di masa depan.

Baca juga: Spesies Kadal Baru Berlidah Oranye Ditemukan di China

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau