Penulis
KOMPAS.com - Siapa sangka insiden sepele di dapur bisa membuka wawasan baru soal evolusi hewan? Seekor sleepy lizard (Tiliqua rugosus), kadal mungil berekor pendek khas Australia, ternyata punya kemampuan luar biasa: mereka langsung waspada ketika mencium bau asap.
Penelitian dari Macquarie University yang dipublikasikan di jurnal Biology Letters menemukan bahwa kadal ini secara naluriah mengenali asap sebagai tanda bahaya kebakaran. “Penelitian kami menunjukkan bahwa beberapa kadal secara bawaan mengenali asap sebagai sinyal mendekatnya api dan merespons dengan melarikan diri,” jelas Chris Jolly, ahli perilaku hewan dari Macquarie University.
Baca juga: Panas Bisa Ubah Jenis Kelamin Kadal Bearded Dragon, Ini Penjelasannya
Fenomena ini pertama kali teramati secara kebetulan di Audubon Zoo, New Orleans. Ketika staf kebun binatang tak sengaja membuat makan siang mereka gosong, para kadal mendadak gelisah, menjulurkan lidah untuk mencicipi udara, bahkan mencoba melarikan diri dari kandangnya.
Menariknya, kebanyakan kadal ini dibesarkan di penangkaran. Artinya, respons mereka bukanlah hasil pengalaman sebelumnya, melainkan bawaan lahir. Hewan reptil lain di sekitar kandang justru tetap tenang meski bau asap menyebar.
Baca juga: Bagaimana Kadal Bisa Terhindar dari Kematian Akibat Ular Berbisa ?
Untuk menguji fenomena ini, Jolly dan timnya melakukan percobaan terkontrol. Mereka memaparkan kelompok sleepy lizard pada tiga kondisi: hanya bau asap, hanya suara api, dan kombinasi keduanya. Hasilnya mengejutkan: kadal hanya bereaksi ketika mencium bau asap, bukan saat mendengar suara api.
Penemuan ini memperkuat teori bahwa evolusi telah “mengajarkan” hewan-hewan dari wilayah rawan kebakaran untuk melarikan diri ketika mendeteksi asap.
Baca juga: Mengenal Monster Gila, Kadal Berbisa yang Tewaskan Pria di Colorado
Dengan semakin seringnya kebakaran hutan akibat perubahan iklim, pengetahuan ini menjadi sangat penting. “Banyak hewan dari daerah rawan kebakaran, seperti Australia, memiliki kemampuan luar biasa untuk bertahan hidup ketika habitat mereka terbakar,” kata Jolly.
Namun, ini bukan berarti satwa liar sudah siap menghadapi krisis iklim. “Seiring kebakaran menjadi lebih sering, intens, dan tak terduga—bahkan di habitat yang jarang terbakar sebelumnya seperti hutan hujan—kita perlu tahu spesies mana yang bisa merespons sinyal kebakaran, dan mana yang paling rentan,” tambahnya.
Penelitian ini memberi harapan bahwa beberapa spesies memiliki strategi bertahan hidup bawaan. Namun, ia juga mengingatkan kita akan pentingnya konservasi dan perlindungan habitat, karena tidak semua hewan memiliki “kepekaan” yang sama terhadap bahaya.
Bagi para ilmuwan, ini adalah langkah penting untuk memahami bagaimana hewan merespons ancaman alami dan bagaimana kita bisa membantu mereka beradaptasi di masa depan.
Baca juga: Spesies Kadal Baru Berlidah Oranye Ditemukan di China
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang