Zhafira Wibawa Mukti, siswi berprestasi yang ciptakan tumbler cerdas untuk pantau kualitas air.
Parapuan.co - Tahukah Kawan Puan bahwa hampir 2 milyar orang di dunia ternyata belum memiliki akses air minum yang aman. Ironisnya, di saat yang bersamaan, pencemaran air sayangnya terus meningkat. Padahal, mendapatkan akses air bersih adalah hak setiap manusia.
Di tengah urgensi global untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam, sosok inovator perempuan muda Indonesia muncul membawa solusi nyata bagi krisis air bersih dunia. Semangat inilah yang mengantarkan seorang siswi berbakat tanah air, Zhafira Wibawa Mukti, untuk menembus kancah internasional.
Kehadirannya di Pacifichem 2025 bukan sekadar partisipasi, melainkan sebuah diseminasi riset yang membanggakan melalui inovasi BOTLND. Di forum ilmiah bergengsi tersebut, ia membuktikan bahwa generasi muda perempuan Indonesia mampu memimpin diskusi krusial mengenai kualitas air di mata dunia.
Di tengah hiruk-pikuk Hawaii Convention Center yang dipenuhi ribuan akademisi dunia, seorang gadis remaja asal Indonesia berdiri tegak di depan poster risetnya.
Zhafira Wibawa Mukti, siswi kelas XII Sekolah Kak Seto (Homeschooling), menjadi sorotan dalam konferensi kimia bergengsi Pacifichem 2025 di Honolulu, Hawaii.
Zhafira hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai salah satu presenter yang membawa solusi teknologi bernama BOTLND.
Di saat dunia bergelut dengan krisis 2 miliar orang tanpa akses air minum aman, Zhafira menawarkan inovasi praktis: sebuah tumbler berbasis Internet of Things (IoT) untuk memantau kualitas air secara real-time.
Memutus Rantai Ketidaktahuan Lewat Teknologi
Bagi Zhafira, riset ini bukan sekadar tugas sekolah, melainkan sebuah misi kemanusiaan. Ia menyadari bahwa ancaman kesehatan seringkali tersembunyi di balik jernihnya air yang kita konsumsi setiap hari.
Baca Juga: Menjaga Kehidupan Pascabencana, Pertamina Masifkan Penyediaan Air Bersih di Sumatra
“Selama ini air sering dianggap aman hanya dari tampilan fisiknya, padahal parameter kimia seperti pH dan TDS memiliki dampak jangka panjang terhadap kesehatan jika tidak diperhatikan,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Kekhawatiran itulah yang melahirkan BOTLND. Perangkat ini mampu mengukur parameter dasar seperti pH dan Total Dissolved Solids (TDS) melalui sensor cerdas yang terintegrasi pada tutup tumbler.
Dalam pengembangannya, Zhafira berkolaborasi dengan Yudi, General Manager PT Karya Multi Solution Indonesia, untuk memastikan rancangan akademiknya dapat berfungsi sebagai alat praktis yang mumpuni.
Menembus Standar Global
Pacifichem merupakan ajang lima tahunan dengan standar seleksi abstrak yang sangat ketat. Kehadiran seorang siswa sekolah menengah di tengah dominasi peneliti profesional dan profesor adalah sebuah anomali yang membanggakan.
Poster BOTLND milik Zhafira dinyatakan lolos seleksi komite ilmiah sejak Juni 2025, membuktikan bahwa kualitas risetnya sejajar dengan standar internasional.
Dalam simposium Challenges in Water: From Fundamental Chemistry to Technical Applications, Zhafira menjelaskan bahwa inovasinya adalah jembatan antara laboratorium dan gaya hidup sehat masyarakat modern.
“BOTLND dirancang sebagai alat pemantauan praktis berbasis IoT untuk meningkatkan kesadaran pengguna terhadap kualitas cairan sehari-hari, bukan untuk menggantikan fungsi alat ukur laboratorium,” tegasnya saat mempresentasikan riset tersebut.
Langkah berani Zhafira di Honolulu membuahkan hasil manis. Ia tidak hanya mendapatkan apresiasi, tetapi juga membuka pintu kolaborasi dengan peneliti dari Jepang, India, hingga Amerika Serikat yang tertarik pada aspek aplikatif BOTLND.
Bagi Zhafira, perjalanan ini barulah awal. Ia berkomitmen untuk terus mengembangkan risetnya agar dampak yang dihasilkan tidak hanya berhenti di atas kertas publikasi, tetapi mampu memberikan kontribusi nyata bagi kesehatan masyarakat global melalui akses air yang lebih aman.
(*)
Baca Juga: Warga Papua Kesulitan Akses Air Bersih, Shandy Purnamasari Lakukan Hal Ini