Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BERITA FOTO: Rangkaian Waisak 2026 di Borobudur, dari Api Dharma hingga Pelepasan Ribuan Lampion

Kompas.com, 1 Juni 2026, 08:00 WIB
Intan Maharani

Penulis

h (KOMPAS.com/Intan Maharani)
h (KOMPAS.com/Intan Maharani)
h (KOMPAS.com/Intan Maharani)
h (KOMPAS.com/Intan Maharani)
h (KOMPAS.com/Intan Maharani)
0/0
h (KOMPAS.com/Intan Maharani)
h (KOMPAS.com/Intan Maharani)
h (KOMPAS.com/Intan Maharani)
h (KOMPAS.com/Intan Maharani)
h (KOMPAS.com/Intan Maharani)

MAGELANG, KOMPAS.com - Perayaan Waisak Nasional 2570 B.E/2026 di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, berlangsung melalui serangkaian prosesi keagamaan yang dimulai sejak beberapa hari sebelum puncak perayaan.

Rangkaian tersebut meliputi pengambilan dan pensakralan Api Dharma dari Mrapen, pengambilan air berkah dari Umbul Jumprit, kirab Waisak dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, puja bakti menyambut detik-detik Waisak, hingga festival lampion perdamaian yang menjadi penutup perayaan.

Berikut rangkaian Waisak 2570 B.E/2026 di Borobudur.

Baca juga: Langit Borobudur Bermandikan Cahaya, Drone Show dan Ribuan Lampion Tutup Rangkaian Waisak 2026

Pensakralan api suci sebagai awal dari rangkaian perayaan Hari Trisuci Waisak, di Candi Mendut, Kabupaten Magelang, Jumat (29/5/2026).KOMPAS.com/Intan Maharani Pensakralan api suci sebagai awal dari rangkaian perayaan Hari Trisuci Waisak, di Candi Mendut, Kabupaten Magelang, Jumat (29/5/2026).

Api Dharma Disemayamkan di Candi Mendut

Rangkaian Waisak diawali dengan pengambilan Api Dharma dari sumber api abadi Mrapen di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Api suci tersebut kemudian dibawa menuju Candi Mendut, Kabupaten Magelang, dan tiba pada Jumat (29/5/2026) sore.

Setibanya di lokasi, api diserahkan kepada para Bhikkhu untuk disemayamkan di altar utama Candi Mendut. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyalaan obor dan ritual pensakralan.

Ketua DPD Walubi Jawa Tengah Tanto Soegito Harsono mengatakan, penempatan api suci tahun ini sedikit berbeda karena bagian dalam Candi Mendut sedang menjalani renovasi.

"Kalau api memang dari dulu kan nggak boleh disemayamkan di dalam. Hanya air di kendi, tapi kali ini adalah di altar, karena di dalam sendiri sedang renovasi (candinya)," kata Tanto kepada wartawan. 

Suasana semakin khidmat ketika para Bhante menyalakan lilin di altar sebagai bagian dari ritual pensakralan Api Dharma.

Lilin yang digunakan merupakan lilin pancawarna yang memiliki makna simbolis dalam ajaran Buddha. 

Warna biru melambangkan bakti dan kesetiaan, kuning melambangkan kebijaksanaan, merah melambangkan cinta kasih, putih melambangkan kemurnian, sedangkan jingga melambangkan pencerahan spiritual.

Setelah seluruh lilin menyala, para Bhikkhu, Bhante, dan umat Buddha membacakan doa-doa paritta dan sutra secara khusyuk.

Selain Api Dharma, rangkaian Waisak juga diawali dengan pengambilan air berkah dari Umbul Jumprit di Kabupaten Temanggung pada Sabtu (31/5/2026). 

Air yang diambil dari mata air tersebut kemudian dibawa menuju Candi Mendut untuk disakralkan sebelum digunakan dalam rangkaian perayaan Waisak.

Bagi umat Buddha, air berkah melambangkan kesucian, kejernihan batin, serta harapan akan kedamaian bagi seluruh makhluk.

Baca juga: Hadiri Acara Waisak 2026 di Candi Borobudur, Gibran Beri Pesan Perdamaian

Para biksu berjalan dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, Magelang saat kirab menjelang puncak perayaan Waisak 2026, Minggu (31/5/2026).KOMPAS.com/Inten Esti Pratiwi Para biksu berjalan dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, Magelang saat kirab menjelang puncak perayaan Waisak 2026, Minggu (31/5/2026).

Halaman:
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
BERITA FOTO: Rangkaian Waisak 2026 di Borobudur, dari Api Dharma hingga Pelepasan Ribuan Lampion
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat