Penulis
KOMPAS.com - Masyarakat Punan Batu, suku pemburu dan peramu terakhir di Kalimantan, membutuhkan perbaikan layanan kesehatan dan pendidikan.
Hasil wawancara Kompas.com dengan sejumlah warga menunjukkan bahwa minat dan kebutuhan akan dua hal tersebut tinggi tetapi aksesnya hingga kini masih terbatas.
Samsul, salah satu warga Punan Batu, mengatakan, "Kalau mau ke dokter, harus keluar hutan. Sekali jalan bisa habis paling tidak Rp 200.000."
Suku Punan Batu tinggal di hunian sementara di tepi Sungai Sajau, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Rabu (31/5/2023). Suku Punan Batu menjadi suku terakhir di Kalimantan yang masih berburu dan meramu serta hidup berpindah-pindah tempat tinggal. Pemerintah Kabupaten Bulungan memberikan surat keputusan pengakuan Suku Punan Batu sebagai Masyarakat Hukum Adat.Baca juga: BERITA FOTO: Bergantung pada Hutan, Punan Batu Jadi Suku Pemburu dan Peramu Terakhir di Kalimantan
Baginya yang hidup di hutan, uang sebesar itu tergolong besar. Untuk mendapatkannya, mereka harus menukar dengan hasil hutan dan menjadi buruh pengangkut kayu. Itu pun, kesempatannya terbatas. Mayoritas warga tidak memegang uang karena mengandalkan hutan untuk penghidupan.
Ukib, salah seorang ibu rumah tangga Punan Batu, menuturkan bahwa dirinya membutuhkan obat-obatan. Selama ini, obat-obatan dibeli langsung lewat perantara.
Keluarga Akim Manik, Suku Punan Batu mencari umbi-umbian di Hutan Benau, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Rabu (31/5/2023). Suku Punan Batu menjadi suku terakhir di Kalimantan yang masih berburu dan meramu serta hidup berpindah-pindah tempat tinggal. Pemerintah Kabupaten Bulungan memberikan surat keputusan pengakuan Suku Punan Batu sebagai Masyarakat Hukum Adat."Kalau panas, minum paracetamol. Beli lewat Datuk (pendamping lokal masyarakat Punan Batu). Rp 8.000,00 harganya," jelasnya.
Akim Bodon, salah satu tetua adat setempat, mengungkapkan bahwa Punan Batu sebenarnya punya pengetahuan obat-obatan.
"Misalnya akar langsat untuk obati panas. Tetapi kami juga butuh obat. Paracetamol, CTM, itu kami butuh," ujarnya.
Supar, Ngaukop, dan Siti (kiri ke kanan), Suku Punan Batu mencari umbi-umbian di Hutan Benau, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Rabu (31/5/2023). Suku Punan Batu menjadi suku terakhir di Kalimantan yang masih berburu dan meramu serta hidup berpindah-pindah tempat tinggal. Pemerintah Kabupaten Bulungan memberikan surat keputusan pengakuan Suku Punan Batu sebagai Masyarakat Hukum Adat.Pelayanan kesehatan juga dibutuhkan karena sejumlah warga mengalami masalah kesehatan yang belum bisa dipenuhi oleh obat-obatan lokal.
Taufik Hidayat, Community Engagement and Protected Areas Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) yang dalam dua tahun terakhir melakukan pendampingan, menuturkan, "Ada beberapa kasus tuberculosis. Ada yang sampai meninggal karena sudah menyebar sampai jantung."
Akim Asut menunjukkan daun ''apa'' ya digunakan sebagai bahan obat di Hutan Benau, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Rabu (31/5/2023). Suku Punan Batu menjadi suku terakhir di Kalimantan yang masih hidup dari berburu, meramu, dan berpindah-pindah tempat tinggal. Pemerintah Kabupaten Bulungan memberikan surat keputusan pengakuan Suku Punan Batu sebagai Masyarakat Hukum AdatSelain tuberculosis, ada pula kasus bayi dan ibu yang meninggal karena proses kelahiran dan bayi sungsang.
Menurut Taufik, pelayanan kesehatan saat ini sebenarnya sudah meningkat daripada sebelumnya.
"Sekarang ada pelayanan kesehatan yang datang tiga bulan sekali. Tetapi ini perlu ditingkatkan frekuensinya," kata Taufik.
Akim Asut ditemui di Hutan Benau, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Rabu (31/5/2023). Suku Punan Batu menjadi suku terakhir di Kalimantan yang masih hidup dari berburu, meramu, dan berpindah-pindah tempat tinggal. Pemerintah Kabupaten Bulungan memberikan surat keputusan pengakuan Suku Punan Batu sebagai Masyarakat Hukum AdatTerkait pendidikan, salah seorang remaja Punan Batu, Layis, mengungkapkan bahwa di tengah keterbatasan, dirinya masih berminat untuk belajar.
"Saya punya handphone untuk belajar. Kalau mau belajar jalan dulu 3 jam biar dapat 4G. Buka Youtube, belajar berhitung, membaca," tuturnya saat ditemui Kompas.com di hunian sementaranya di Benau, Bulungan, Kalimantan Utara pada Jumat (2/6/2023).
Pradiptajati Kusuma, peneliti yang mengkaji Punan Batu secara genetik dan budaya, menuturkan bahwa meski kesehatan dan pendidikan perlu diupayakan, pendekatannya harus tepat.
Suku Punan Batu tinggal di hunian sementara Hutan Benau, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, Rabu (31/5/2023). Suku Punan Batu menjadi suku terakhir di Kalimantan yang masih hidup dari berburu dan meramu serta berpindah-pindah tempat tinggal. Pemerintah Kabupaten Bulungan memberikan surat keputusan pengakuan Suku Punan Batu sebagai Masyarakat Hukum Adat."Kalau tidak bisa meminta mereka ke kota, maka sebenarnya yang perlu kita lakukan adalah menghadirkan layanan kesehatan dan pendidikan langsung ke mereka," ujar peneliti yang kini berkarya di Mochtar Riady Institute ini.
Ia menambahkan, "Pendidikan yang diberikan juga tidak hanya asal baca tulis. Harus lebih dari itu sehingga Punan tidak menjad obrolaan negati di masyarakat."
(Penulis Yunanto Wiji Utomo | Editor Khairina)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang