Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Belajar dari Kecelakaan di Bromo: Pentingnya Pakai Sabuk Pengaman

Kompas.com, 30 Mei 2026, 17:49 WIB
Muhammad Fathan Radityasani,
Aditya Maulana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Insiden kecelakaan tunggal jip wisata yang menabrak tebing di jalur ekstrem Gunung Bromo, Pasuruan, menjadi pukulan telak bagi aspek keselamatan transportasi wisata.

Terlebih lagi, dua korban jiwa dalam kejadian tersebut dilaporkan meninggal dunia setelah terlempar keluar dari kabin kendaraan.

Kejadian fatal ini memperlihatkan masih rendahnya kesadaran atau pengawasan terkait penggunaan sabuk pengaman pada jip wisata, baik untuk pengemudi maupun penumpang.

Baca juga: Kecelakaan di Bromo: Pemda Diminta Benahi Kelayakan Jip Wisata Tua

Kondisi kendaraan jip Hardtop usai menabrak tebing di jalir turunan yang ekstrem di jalur wisata Gunung Bromo, tepatnya di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (29/5/2026). Dok. Humas Polres Pasuruan Kondisi kendaraan jip Hardtop usai menabrak tebing di jalir turunan yang ekstrem di jalur wisata Gunung Bromo, tepatnya di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (29/5/2026).

Marcell Kurniawan, Training Director The Real Driving Center (RDC), menjelaskan bahwa sabuk pengaman merupakan fitur keselamatan pasif paling krusial untuk mencegah fatalitas saat terjadi benturan keras.

"Salah satu keuntungan menggunakan safety belt adalah penumpang terikat, sehingga tidak terlempar keluar dan atau tubuh tidak menabrak interior mobil saat tabrakan terjadi," ujar Marcell kepada Kompas.com, Sabtu (30/5/2026).

Melihat karakteristik jip wisata yang kerap melewati medan terjal dan turunan curam, potensi guncangan dan benturan sangatlah besar. Marcell menegaskan, kewajiban memakai sabuk pengaman tidak hanya berlaku untuk orang yang duduk di baris depan.

Baca juga: Jangan Salah, Busi Mobil Hybrid Berbeda dengan Model Konvensional

"Maka penting sekali untuk seluruh penumpang, baik di depan atau belakang, selalu menggunakan safety belt," kata dia.

Mengenai fenomena korban yang sampai terlempar keluar dari mobil saat jip menghantam tebing, Marcell memaparkan adanya faktor hukum fisika yang bekerja saat kendaraan berhenti mendadak akibat tabrakan.

"Namanya gaya inersia. Jadi tubuh akan meluncur dengan kecepatan terakhir sebelum tabrakan. Misalnya mobil melaju 70 km per jam (kpj), maka tubuh terlempar dalam kecepatan 70 kpj juga," ucap Marcell.

Ilustrasi sabuk pengaman di mobil.KOMPAS.COM/(PIXABAY @cfarnsworth) Ilustrasi sabuk pengaman di mobil.

Tanpa adanya sabuk pengaman yang menahan tubuh tetap di posisinya, gaya inersia ini akan melemparkan penumpang ke arah depan atau keluar jendela dengan kekuatan yang setara dengan kecepatan mobil.

Tragedi di Bromo ini diharapkan menjadi momentum bagi para pengelola jip wisata dan wisatawan untuk tidak lagi menyepelekan sabuk pengaman, demi menikmati liburan yang aman dan selamat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau