JAKARTA, KOMPAS.com - Kecelakaan tunggal yang melibatkan jip wisata di jalur turunan ekstrem leter S, Desa Wonokitri, Gunung Bromo, Pasuruan, Jumat (29/5/2026), kembali menjadi alarm keras bagi dunia pariwisata dan keselamatan berkendara.
Insiden maut tersebut mengakibatkan dua orang meninggal dunia. Kedua korban dilaporkan terlempar keluar dari kabin kendaraan setelah jip kehilangan kendali dan menabrak tebing.
Menanggapi kejadian ini, Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), menegaskan bahwa pembenahan menyeluruh terhadap ekosistem jip wisata di kawasan alam ekstrem sudah tidak bisa ditunda-tunda lagi.
Baca juga: Jetour G700 Taklukkan Sungai Minjiang: Uji Ekstrem Jip Amfibi
Kendaraan jenis Hardtop mengalami kecelakaan tunggal menabrak tebing di jalur menurun leter S di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Akibat kejadian itu, seorang wisatawan asal Semarang dan sopir meninggal dunia, Jumat (29/5/2026). "Menurut saya, pengemudi-pengemudi di objek wisata sudah harus disertifikasi lagi dan kondisi kelengkapan safety kendaraannya harus dicek ulang," ujar Sony kepada Kompas.com, Sabtu (30/5/2026).
Sony menjelaskan, kelalaian dalam pengawasan aspek keselamatan ini taruhannya sangat besar. Bukan hanya soal nyawa, tetapi juga menyangkut reputasi destinasi wisata nasional itu sendiri.
"Karena dampaknya besar jika terjadi kecelakaan. Nama baik wisata tersebut bisa rusak dan mempengaruhi nilai kepercayaan turis untuk datang lagi. Terutama objek-objek wisata yang alamnya sedikit ekstrem," kata dia.
Baca juga: Review Harian Indomobil Emotor Sprinto: Rasa Berkendara Paling Natural
Kondisi Hardtop yang menabrak tebing di jalur menuju wisata Gunung Bromo, tepatnya di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur yang menewaskan 2 orang, sopir dan penumpang, Jumat (29/5 /2026). Lebih lanjut, Sony menyoroti adanya ketimpangan pemahaman antara wisatawan dan penyedia jasa. Wisatawan yang datang umumnya hanya memikirkan aspek hiburan tanpa menyadari risiko bahaya di jalur ekstrem.
"Wisatawan tahunya cuma aman-aman dan happy-happy saja, selebihnya tanggung jawab pengelola, karena jip-jip tersebut diakui oleh pihak internal," ucap Sony.
Faktor psikologis di lapangan juga kerap menjadi pemicu fatal. Suasana ceria atau euforia dari penumpang di dalam kabin sering kali memengaruhi gaya berkendara sang sopir di trek yang menantang.
"Aktivitas dan euforia dari penumpang yang kadang suka membuat suasana lebih, membuat pengemudi bersemangat dan agresif dalam mengemudinya. Ini bahaya!" tuturnya.
Oleh karena itu, Sony menekankan pentingnya pembinaan mental bagi para pelaku jasa jip wisata. Keterampilan menyetir yang mumpuni harus diimbangi dengan kedewasaan sikap saat membawa penumpang.
"Kembali lagi kepada kompetensi pengemudinya dalam mengontrol diri dan emosinya. Sudah harus dibenahin ulang sih," kata Sony.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang