
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
DALAM setiap diskusi tentang kemajuan negara, selalu muncul pertanyaan klise, mana yang lebih penting, ideologi atau institusi?
Jawaban idealnya tentu mudah. Keduanya. Ideologi memberi arah, institusi memberi mesin.
Ideologi menunjukkan ke mana kapal akan berlayar, institusi memastikan kapal itu benar-benar bergerak. Tanpa arah, kapal tersesat. Tanpa mesin, kapal hanya menjadi monumen yang mengapung.
Namun, masalahnya, kita tidak hidup di dunia ideal. Kita hidup di dunia nyata. Dan dunia nyata sering kali memaksa kita memilih mana yang lebih menentukan ketika keduanya tidak hadir secara bersamaan.
Sejarah menunjukkan bahwa negara dengan ideologi yang sangat kuat belum tentu berhasil. Sebaliknya, negara dengan institusi yang kuat sering tetap mampu bertahan meskipun ideologinya biasa-biasa saja.
Kenyataan yang sederhana begini. Tidak ada warga yang bangun pagi lalu berkata, "Hari ini saya akan bekerja keras karena saya mencintai sosialisme."
Tidak ada pedagang yang membuka toko karena terinspirasi oleh buku filsafat Karl Marx. Tidak ada investor yang menanamkan modal miliaran rupiah karena terpesona oleh slogan ideologis.
Orang bekerja, berdagang, dan berinvestasi karena hukum berjalan, kontrak dihormati, keamanan terjamin, birokrat dapat dipercaya, dan birokrasi dapat diprediksi. Dengan kata lain, yang menggerakkan kehidupan sehari-hari bukanlah ideologi, melainkan kualitas institusi.
Institusi adalah sesuatu yang sering tidak terlihat, tetapi dampaknya dirasakan setiap hari.
Baca juga: Jalan Lebar Preman Menuju Kekuasaan
Polisi yang profesional adalah institusi. Pengadilan yang adil adalah institusi. Universitas yang menghasilkan ilmu adalah institusi. Sistem perpajakan yang tertib adalah institusi. Birokrasi yang melayani adalah institusi.
Jika institusi bekerja, masyarakat dapat hidup tenang meskipun tidak semua orang memahami ideologi. Sebaliknya, ideologi sehebat apa pun akan kehilangan makna jika institusinya rusak.
Bayangkan sebuah negara yang setiap hari berbicara tentang keadilan, tetapi pengadilannya dapat dibeli. Setiap hari berbicara tentang kesejahteraan rakyat, tetapi anggarannya dikorupsi. Setiap hari berbicara tentang persatuan, tetapi hukum diterapkan tebang pilih.
Di atas kertas, ideologinya mungkin tampak mulia. Dalam kenyataan, karena institusi tidak berfungsi, rakyat tidak merasakan apa pun selain penderitaan.
Kita sama-sama tahu, masyarakat modern semakin pragmatis. Mereka tidak lagi bertanya seberapa indah ideologi yang ditawarkan.
Mereka bertanya apakah jalan diperbaiki, sekolah berjalan, rumah sakit berfungsi, pekerjaan tersedia, dan harga minyak goreng stabil.
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.