KOMPAS.com - PT Waskita Karya (Persero) Tbk bersama PT Jakarta Propertindo (Perseroda) mulai menjalankan rangkaian testing and commissioning (T&C) sistem perkeretaapian lintas raya terpadu (light rapid transit (LRT) Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai.
Salah satu tahapan yang telah dilakukan ialah tes jalur lintasan sepanjang 3,6 kilometer (km) yang menghubungkan Stasiun Velodrome dengan Stasiun Pramuka.
Direktur Utama Jakarta Propertindo (Jakpro) Iwan Takwin mengatakan, tahapan T&C dilakukan secara detail untuk memastikan seluruh sistem siap digunakan sebelum operasional komersial dimulai.
Pengujian tersebut mencakup seluruh komponen dan subsistem, mulai dari jalur, persinyalan, kelistrikan, komunikasi, hingga integrasi operasional.
Baca juga: Pramono Belum Tentukan Jalur LRT Jakarta, Dukuh Atas dan PIK 2 Masih Dikaji
"Setiap meter pada jalur layang LRT Jakarta Fase 1B adalah tanggung jawab kami kepada masyarakat DKI Jakarta yang akan mengandalkan LRT setiap harinya. Karena itu, tahapan T&C ini harus dipersiapkan sangat matang," ujar Iwan dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (20/5/2026).
Direktur Operasi II Waskita Karya Paulus Budi Kartiko mengatakan, keterlibatan Waskita dalam proyek LRT Jakarta Fase 1B bukan hanya terkait pekerjaan konstruksi, tetapi juga menjadi ajang menunjukkan kapabilitas perusahaan.
Menurutnyaa, proyek dengan tingkat visibilitas tinggi (high visibility) tersebut membuat kualitas pekerjaan berdampak langsung terhadap reputasi jangka panjang perusahaan.
Adapun lingkup pekerjaan Waskita Karya pada LRT Jakarta Fase 1B mencakup integrasi sipil, rel, sistem, dan operasi. Perseroan terus mempercepat pengerjaannya agar dapat segera dimanfaatkan publik.
Baca juga: Usai Temui Gubernur DKI, Wali Kota Ungkap Rencana LRT Tembus Bogor
Ilustrasi LRT Jakarta melakukan tes jalur lintasan Velodrome-Pramuka.Hingga kini, progres pembangunan proyek senilai Rp 4,1 triliun itu telah mencapai 92,76 persen.
Paulus mengatakan, salah satu tantangan utama dalam pengerjaan proyek adalah kondisi lalu lintas Jakarta yang padat serta keterbatasan ruang kerja di area konstruksi.
“Solusinya, kami mengoptimalkan pekerjaan pada malam hari yang menuntut fokus dan inovasi pada sistem keselamatan dan metode kerja. Kami melihat kondisi ini sebagai tantangan yang harus dikelola, bukan dihindari,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan tes jalur, salah satu lintasan yang dilalui berada di atas jalur aktif Tol Wiyoto Wiyono pada km 1+700 hingga 2+100.
Untuk menjaga kelancaran lalu lintas selama proses konstruksi, Waskita menggunakan metode balance cantilever dengan bentang sepanjang 120 meter (m).
Baca juga: 158 Kilometer Jalan Tol di China Diaspal Pakai AI
“Keselamatan konstruksi, baik dalam pengamanan konstruksi balance cantilever maupun pengguna jalan, harus diutamakan,” tegas Paulus.
Ia menambahkan, monitoring survei dan chamber dilakukan secara berkala setiap hari. Tim di lapangan juga memasang safety net di sekeliling segmen girder balance.
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.