Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Prof. Dr. Prudensius Maring
Dosen Tetap Universitas Budi Luhur

Guru Besar bidang Antropologi dengan fokus kajian tentang konflik dan kolaborasi pengusaaan sumber daya ekologi, perubahan iklim, dan hubungan kekuasaan

Menjaga Kejernihan di Tengah Gorengan Isu Jusuf Kalla

Kompas.com, 15 April 2026, 10:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DI TENGAH derasnya peredaran informasi, menjaga kejernihan menjadi penting. Publik tidak hanya menerima informasi, tetapi juga didorong untuk segera meresponsnya.

Nama-nama besar disebut, potongan pernyataan beredar, lalu dalam waktu singkat muncul dorongan untuk mengambil posisi. Jarak antara mengetahui dan menilai semakin pendek.

Isu yang beredar terkait Jusuf Kalla menunjukkan bagaimana sebuah isu dapat bergeser dari konteks awalnya.

Pernyataan yang semula disampaikan dalam satu rangkaian utuh berubah menjadi potongan yang berdiri sendiri. Ketika potongan itu beredar tanpa penjelasan yang memadai, maknanya ikut berubah.

Bagian dari narasi pengalaman dibaca sebagai pernyataan yang berdiri sendiri. Di titik ini, persepsi publik mulai terbentuk sebelum pemahaman yang utuh tersedia.

Baca juga: Pesan Paskah: Sarungkan Pedangmu di Ruang Publik yang Mengeras

Pola ini mengikuti cara kerja ruang publik yang lebih menekankan kecepatan daripada ketepatan. Informasi yang terus berulang cenderung dianggap mewakili kenyataan.

Dalam proses itu, konteks mudah terlepas, sementara kesimpulan justru muncul lebih cepat. Dampaknya terlihat pada cara publik merespons.

Potongan pengalaman masa lalu, terutama yang berkaitan dengan konflik, muncul kembali tanpa kerangka yang jelas.

Publik dihadapkan pada informasi yang tidak utuh, tetapi tetap didorong untuk segera mengambil posisi. Dalam situasi seperti ini, polarisasi mudah terbentuk.

Keadaan ini menunjukkan perubahan dalam cara pengetahuan sosial dibentuk. Kebenaran tidak lagi ditentukan oleh proses yang berlapis, tetapi oleh cepatnya peredaran informasi.

Apa yang tersebar luas mudah dianggap sebagai kenyataan, meskipun belum tentu kuat dasarnya.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan reaksi yang lebih cepat, tetapi kemampuan untuk menahan diri. Menunda penilaian bukan berarti mengabaikan, tetapi memberi ruang agar pemahaman dibangun secara lebih utuh.

Informasi perlu dikumpulkan, disusun kembali, dan dibaca dalam konteks yang memadai. Percakapan publik juga perlu dijaga agar tidak segera berubah menjadi pertentangan.

Dalam situasi seperti ini, penting menegaskan posisi. Publik bukan objek yang bisa didorong mengikuti arus isu. Publik memiliki nalar untuk menimbang.

Ketika informasi dipotong, diulang, lalu diarahkan untuk membentuk kesimpulan tertentu, yang terjadi bukan lagi pertukaran gagasan, tetapi penggiringan.

Kita tidak perlu membiarkan diri didikte oleh arus yang dibentuk oleh kepentingan di balik isu ini.

Sebuah isu jarang berdiri di atas satu motif. Berbagai kepentingan beririsan—politik, opini, hingga upaya memengaruhi cara publik melihat peristiwa.

Tidak semuanya tampak, dan tidak semuanya bisa langsung dibaca. Jika diabaikan, realitas mudah disederhanakan. Penyederhanaan ini merugikan ruang publik.

Ketika isu ditarik ke dua posisi yang berseberangan, yang hilang bukan hanya ketepatan makna, tetapi juga kemampuan untuk memahami. Kehidupan sosial tidak sesederhana itu.

Baca juga: Menjelaskan Pernyataan Jusuf Kalla, Meluruskan Peristiwa

Dalam kondisi seperti ini, menjaga kejernihan bukan sekadar sikap pribadi, tetapi kebutuhan bersama. Tidak semua hal harus segera disimpulkan.

Tidak semua informasi layak langsung dipercaya. Ada kebutuhan untuk menimbang sebelum menentukan sikap, terutama ketika situasi nasional dan global memang tidak sedang stabil.

Pada akhirnya, kualitas kehidupan bersama sangat ditentukan oleh cara kita mengelola informasi.

Kebebasan berbicara tetap penting, tetapi perlu diimbangi dengan kedewasaan dalam memahami.

Jika itu dijaga, ruang publik masih dapat berfungsi sebagai tempat membangun pemahaman, bukan sekadar membentuk opini. 

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

Bahas berita ini dengan KARIN
KARIN
KARIN
Hai
KARIN siap bantu kamu menemukan jawaban lebih cepat.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS

Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.



Terkini Lainnya
Anggota Dewan Ungkap Alasan Dukung RUU Pemilu Atur Sanksi bagi Pelaku Politik Uang
Anggota Dewan Ungkap Alasan Dukung RUU Pemilu Atur Sanksi bagi Pelaku Politik Uang
Nasional
Hingga Akhir Mei, Kerugian Korban Penipuan Haji Capai Rp 21,7 Miliar
Hingga Akhir Mei, Kerugian Korban Penipuan Haji Capai Rp 21,7 Miliar
Nasional
Satgas Haji Polri Ungkap 550 Calon Jemaah Jadi Korban Penipuan dan Haji Nonprosedural
Satgas Haji Polri Ungkap 550 Calon Jemaah Jadi Korban Penipuan dan Haji Nonprosedural
Nasional
BGN Gandeng Sekolah hingga Pemda Perkuat Validasi Data Penerima MBG
BGN Gandeng Sekolah hingga Pemda Perkuat Validasi Data Penerima MBG
Nasional
Rencana MBG Meluncur ke Luar Negeri, Anak PMI di Jeddah Jadi Sasaran
Rencana MBG Meluncur ke Luar Negeri, Anak PMI di Jeddah Jadi Sasaran
Nasional
Putusan MK Dinilai Memaksa Parpol Ubah Strategi Rekrutmen untuk Pemilu 2029
Putusan MK Dinilai Memaksa Parpol Ubah Strategi Rekrutmen untuk Pemilu 2029
Nasional
Kewajiban Kuota 30 Persen Caleg Perempuan Kian Perkuat Politik Afirmasi
Kewajiban Kuota 30 Persen Caleg Perempuan Kian Perkuat Politik Afirmasi
Nasional
Mengapa Jemaah Haji Indonesia Dilarang Membawa Air Zam-zam Saat Penerbangan Pulang?
Mengapa Jemaah Haji Indonesia Dilarang Membawa Air Zam-zam Saat Penerbangan Pulang?
Nasional
Selamat Jalan Ryamizard: Jenderal Garang, Sederhana, namun Humanis
Selamat Jalan Ryamizard: Jenderal Garang, Sederhana, namun Humanis
Nasional
Dugaan Ekspor Tanah Jarang dan Radioaktif: Aparat vs Swasta Saling Tepis
Dugaan Ekspor Tanah Jarang dan Radioaktif: Aparat vs Swasta Saling Tepis
Nasional
Kondisi Ekonomi Kita
Kondisi Ekonomi Kita
Nasional
Hari Ini, Nadiem Makarim Bacakan Nota Pembelaan Kasus Chromebook
Hari Ini, Nadiem Makarim Bacakan Nota Pembelaan Kasus Chromebook
Nasional
Pernah Terjadi 2025, Momen Prabowo Megawati Bergandengan Kembali Terulang 2026
Pernah Terjadi 2025, Momen Prabowo Megawati Bergandengan Kembali Terulang 2026
Nasional
Prabowo Sering ke Luar Negeri, Seskab Teddy: Investasi Masuk Rp 2.430 Triliun ke RI
Prabowo Sering ke Luar Negeri, Seskab Teddy: Investasi Masuk Rp 2.430 Triliun ke RI
Nasional
Dino Sebut Presiden Negara Lain Tak Direspons Prabowo Saat Mau Bertemu, Seskab Beri Klarifikasi
Dino Sebut Presiden Negara Lain Tak Direspons Prabowo Saat Mau Bertemu, Seskab Beri Klarifikasi
Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau