Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Aluminium Melesat, Emiten-emiten Ini Berpotensi Diuntungkan

Kompas.com, 25 Mei 2026, 20:47 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Editor

Sumber

JAKARTA, KOMPAS.com - Harga aluminium yang tengah melambung dalam beberapa waktu terakhir menjadi berkah bagi sejumlah emiten yang sedang menggarap proyek hilirisasi berbasis komoditas tersebut.

Mengutip situs Trading Economics, harga aluminium global telah melesat 47,67 persen year on year (yoy) atau dalam satu tahun terakhir ke level 3.650 dollar AS per ton hingga Jumat (22/5/2026). Sedangkan sejak awal tahun atau year to date (ytd), harga aluminium tumbuh 20,77 persen.

Peningkatan harga yang signifikan ini tak lepas dari faktor gangguan pasokan yang berkepanjangan di Timur Tengah di tengah konflik geopolitik.

Baca juga: Ekspor RI Kuartal I 2026 Naik Tipis: Nikel, Timah, dan Aluminium Jadi Penopang

Ilustrasi aluminiumshutterstock Ilustrasi aluminium

Selain itu, harga aluminium juga melejit seiring pembatasan kapasitas produksi di China yang makin memperketat pasokan komoditas tersebut secara global.

Salah satu emiten, yakni PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menggarap smelter aluminium melalui anak usahanya PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) yang semestinya sudah beroperasi secara bertahap sejak akhir 2025.

Pada fase pertama, smelter ini diproyeksikan akan memiliki kapasitas produksi sampai 500.000 ton aluminium ingot per tahun.

Di sini, ADMR tidak sendiri. Sebab, sebanyak 12,5 persen saham KAI turut dimiliki oleh PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA). Sebagai mitra strategis, CITA ikut memasok kebutuhan alumina sebagai bahan baku smelter aluminium ADMR.

Baca juga: Pabrik Aluminium di UEA Terdampak Perang, Pemulihan Butuh Hingga 1 Tahun

Selain itu, ada PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang juga memiliki proyek hilirisasi mineral bauksit menjadi aluminium. Setelah membangun fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, Kalimantan Barat, yang berkolaborasi dengan Inalum, selanjutnya ANTM juga akan mengembangkan SGAR Fase II.

Ilustrasi pasar saham.PIXABAY/PETE LINFORTH Ilustrasi pasar saham.

ANTM kembali berkongsi dengan Inalum dalam proyek tersebut yang ditargetkan akan selesai pada akhir 2028 atau awal 2029 mendatang.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyampaikan, lonjakan harga aluminium tentu akan berdampak signifikan bagi emiten-emiten yang terlibat dalam hilirisasi komoditas tersebut.

Dia menyebut, kenaikan harga aluminium yang terjadi saat ini jauh di atas asumsi keekonomian proyek smelter ADMR, sehingga margin laba bisa meningkat drastis dan Internal Rate of Return (IRR) proyek menjadi lebih atraktif.

Baca juga: Bukan Cuma Minyak, Harga Aluminium Juga Naik Akibat Perang Iran

Dengan begitu, ADMR berpeluang merasakan manfaat atas kontribusi pendapatan dan laba dari segmen aluminium terutama saat ramp-up produksi mulai akhir 2026.

"CITA sebagai produsen bauksit yang jadi bahan baku smelter juga dapat windfall dari kenaikan permintaan di hulu," kata dia, Senin (25/5/2026).

Manfaat yang sama bakal dirasakan oleh ANTM yang sudah merealisasikan pembangunan SGAR Fase I sejak akhir 2025, di mana mereka langsung menikmati efek kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP).

Dalam kondisi seperti ini, emiten-emiten yang terlibat di rantai pasok aluminium perlu mempercepat peningkatan kapasitas produksi. Mereka juga perlu mengamankan kontrak penjualan produk hilir aluminium dalam jangka panjang dengan pembeli global agar dapat mengunci margin di tengah harga yang tinggi.

Baca juga: Trump Berencana Pangkas Tarif Baja dan Aluminium Jelang Pemilu

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau