JAKARTA, KOMPAS.com - Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga hampir 30 persen sepanjang tahun berjalan (YTD) mulai membuka peluang masuknya aksi beli selektif dari investor domestik.
Setelah tekanan jual besar-besaran dan derasnya arus dana asing keluar dari pasar saham Indonesia, sejumlah saham kini dinilai sudah berada di level valuasi yang sangat murah atau deeply undervalued.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai IHSG sudah berada dalam kondisi extremely oversold atau jenuh jual ekstrem setelah mengalami tekanan tajam dalam beberapa waktu terakhir.
Baca juga: IHSG Jumat (22/5/ Diprediksi Rawan Koreksi, Ritel Bisa Cermati Saham TLKM, CPIN Hingga HMSP
Selain itu, indikator Relative Strength Index (RSI) mulai menunjukkan positive divergence sesudah indeks berhasil menguji target “wave 5/A alt”. Kondisi tersebut mengindikasikan tekanan pelemahan mulai terbatas dan peluang terjadinya technical rebound secara bertahap mulai terbuka.
“IHSG sudah dalam kondisi extremely oversold dan menunjukkan positive divergence berdasarkan indikator RSI setelah berhasil menguji target “wave 5 / A alt.”. Diharapkan fase pelemahan terbatas mulai terjadi,” ujar Nafan, Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, setelah kejatuhan IHSG pada perdagangan sebelumnya, banyak saham kini diperdagangkan pada level valuasi yang sangat murah atau deeply undervalued.
Baca juga: IHSG Dibayangi Isu BUMN Ekspor, Bagaimana Pergerakan Bursa Jumat (22/5)?
Situasi itu dinilai berpotensi memicu minat beli selektif dari investor institusi domestik seperti dana pensiun dan perusahaan asuransi untuk melakukan akumulasi bertahap atau bottom fishing dengan memanfaatkan harga saham yang sudah terdiskon akibat aksi panic selling di pasar.
“Berbagai saham yang berada di level valuasi yang sangat murah atau deeply undervalued, sehingga kondisi ini berpotensi memicu minat beli selektif dari investor institusi domestic, baik dana pensiun dan Asuransi, untuk melakukan akumulasi bertahap atau bottom fishing, dengan memanfaatkan harga diskon pasca-panic selling,” paparnya.
Baca juga: Penyebab IHSG Ambruk Saat Bursa Asia Hijau: Sentimen BUMN Ekspor dan Suku Bunga BI