JAKARTA, KOMPAS.com- Pergerakan saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) di awal sesi satu perdagangan Kamis (30/4/2026) terpantau mengalami konsolidasi dengan bias melemah, setelah ada tekanan jual di awal perdagangan.
Harga BMRI dibuka di kisaran Rp 4.430 dan sempat menguat hingga menyentuh level tertinggi di Rp 4.450. Namun, tekanan jual langsung mendominasi, mendorong harga turun tajam hingga menyentuh level terendah di Rp 4.380.
Setelah mencapai titik terendah, BMRI sempat mengalami rebound teknikal ke area Rp 4.420. Meski demikian, penguatan tersebut tidak berlanjut dan harga kembali bergerak sideways di rentang sempit Rp 4.400- Rp 4.420.
Untuk diketahui, BMRI memutuskan untuk membagikan dividen tunai sebesar Rp 44,47 triliun kepada pemegang saham. Dengan demikian, per lembar saham BMRI mendapatkan dividen sebesar Rp 476,95.
Angka ini lebih besar dibandingkan tahun buku 2024 sebesar Rp 466,18 per lembar saham.
Baca juga: Dividen BMRI 2026 Tembus Rp 44,47 Triliun, Yield Capai 8,51 Persen
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan mengatakan, dari total dividen tersebut, sebesar Rp 9,3 triliun telah dibayarkan lebih awal sebagai dividen interim pada 14 Januari 2026.
Sementara sisanya sebesar Rp 35,17 triliun akan didistribusikan kepada pemegang saham setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar hari ini, Rabu (29/4/2026).
“Ini mencerminkan komitmen Perseroan dalam menghadirkan nilai optimal bagi negara dan seluruh pemegang saham," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (29/4/2026).
Dia mengungkapkan, dividen tersebut setara 79 persen dari laba bersih konsolidasi perseroan tahun buku 2025 sebesar Rp 56,3 triliun. Sementara 21 persennya menjadi saldo laba ditahan.
Baca juga: IHSG Rabu Hijau, Asing Jual BMRI, BBCA, hingga BBRI
Laba bersih tersebut ditopang fundamental kuat dengan penyaluran kredit tumbuh 13,4 persen year on year (yoy) menjadi Rp 1.895 triliun dan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 23,9 persen (yoy) menjadi Rp 2.106 triliun.
Di samping itu, dengan harga saham penutupan pada hari ini mencapai Rp 4.430 per lembar saham, capaian ini setara dengan dividend yield di 10,77 persen, salah satu yang tertinggi di antara emiten perbankan Tanah Air.
"Keputusan pemegang saham hari ini mencerminkan kepercayaan atas fundamental yang kami jaga dan arah pertumbuhan yang kami bangun," ucapnya.
Dalam RUPST, para pemegang saham juga menyepakati rencana pembelian kembali saham perseroan (buyback) dengan nilai sebanyak-banyaknya Rp 1,17 triliun yang akan dilakukan hingga 29 April 2027.
Adapun saham hasil buyback akan disimpan sebagai saham treasuri dan dialihkan melalui Program Kepemilikan Saham bagi karyawan, Direksi, dan anggota Dewan Komisaris Non-Independen, sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Langkah ini ditempuh untuk menjaga kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang perseroan yang ditopang fundamental solid," tuturnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang