Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemerintah Masuk Mode Survival, Ekonom: Bukan Krisis, tapi Waspada Tekanan Global

Kompas.com, 24 April 2026, 14:36 WIB
Debrinata Rizky,
Erlangga Djumena

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah mengubah pendekatan dalam mengelola ekonomi di tengah tekanan global yang meningkat.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut, arah kebijakan kini tidak lagi berjalan seperti biasa, melainkan masuk dalam “mode bertahan” atau survival mode.

“Saya mau jelaskan, di kepala Presiden, kita sekarang berada dalam kondisi survival, jadi bukan business as usual," ujarnya dalam Simposium PT SMI 2026 di Jakarta.

Istilah ini memicu perhatian publik karena kerap dikaitkan dengan kondisi krisis.

Baca juga: Purbaya Sebut Pemerintah Masuk Mode Survival, Apa Itu? Simak Penjelasan Ekonom

Namun, para ekonom menilai survival mode yang dimaksud pemerintah lebih merupakan strategi untuk menjaga stabilitas, bukan tanda ekonomi sedang runtuh.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menjelaskan, survival mode mencerminkan pergeseran kebijakan dari ekspansi ke stabilisasi.

“Yang saya fahami, "survival mode” yang dimaksud adalah cerminan dilakukan pergeseran orientasi kebijakan dari ekspansi ke stabilisasi.

Pemerintah tidak lagi mengejar akselerasi pertumbuhan secara agresif, tetapi fokus menjaga ekonomi tetap tumbuh di tengah tekanan,” ujar Rizal kepada Kompas.com pada Jumat (24/4/2026).

Kata Rizal Artinya, pemerintah kini lebih memprioritaskan menjaga daya beli minimum masyarakat, stabilitas fiskal, dan mengurangi risiko, ketimbang mendorong pertumbuhan tinggi.

Rizal menilai, langkah ini diambil karena tekanan eksternal yang semakin kuat, seperti gejolak global yang memengaruhi ekspor, arus modal, hingga nilai tukar.

Di sisi lain, ruang fiskal di dalam negeri juga semakin terbatas, sementara kebutuhan belanja negara meningkat.

Kombinasi tersebut membuat pemerintah harus lebih berhati-hati agar stabilitas ekonomi tetap terjaga tanpa mengambil risiko fiskal berlebihan.

Ia menegaskan, kondisi ini tidak berarti Indonesia sedang krisis, melainkan fase antisipatif agar ekonomi tidak memburuk.

“Implikasinya ke masyarakat bukan krisis, tetapi perlambatan peningkatan kesejahteraan,” kata Rizal.

Menurut dia, dalam situasi ini stimulus ekonomi tidak lagi agresif, subsidi menjadi lebih selektif, dan dorongan terhadap daya beli masyarakat menjadi terbatas.

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau