Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Purbaya Tolak Pinjaman IMF hingga Bank Dunia, Klaim Fiskal RI Masih Kuat Hadapi Gejolak Global

Kompas.com, 21 April 2026, 16:55 WIB
Debrinata Rizky,
Teuku Muhammad Valdy Arief

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Usai lawatannya ke Amerika Serikat (AS) Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah mendapat tawaran pinjaman dari International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia senilai 20 miliar dollar AS hingga 30 miliar dollar AS.

Tawaran itu muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global akibat konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran di Timur Tengah.

Namun, tawaran yang disampaikan dalam rangkaian Spring Meeting IMF dan Bank Dunia di Washington D.C. pekan lalu tersebut ditolak Purbaya.

"Saya bilang sama dia (IMF dan bank dunia) sekarang saya belum butuh (pinjaman) karena saya sendiri punya persediaan hampir 25 miliar dollar AS atau sekitar Rp 428,55 triliun (kurs Rp 17.142 per dollar AS) untuk negara kita sendiri, jadi aman," kata Purbaya kepada awak media di Kementerian Keuangan, Jakarta pada Selasa (21/4/2026).

Baca juga: Beda Gaya Dua Menkeu, Purbaya dan Sri Mulyani, Hadapi Cukai Hasil Tembakau

Purbaya mengatakan, kondisi fiskal Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan global tanpa tambahan utang.

Cadangan tersebut dinilai cukup untuk meredam potensi gejolak eksternal, termasuk dampak konflik geopolitik terhadap perekonomian domestik.

Dalam pertemuan tersebut, Purbaya juga menuturkan respons dari pihak IMF dan Bank Dunia saat mengetahui Indonesia menolak tawaran pinjaman tersebut. Ia menyebut ekspresi pimpinan kedua lembaga itu berubah setelah mengetahui keputusan tersebut.

"Wah mukanya (World Bank & IMF) asem, karena dia gak bisa minjemin duit, gak bisa dapet bunga tuh mereka tuh. Tapi itu dalam keadaan apapun kondisi yang kita punyai harus kita jadikan senjata yang paling optimal," ungkap Purbaya.

Ia menegaskan, kebijakan fiskal pemerintah dirancang secara hati-hati dengan mempertimbangkan berbagai skenario, baik dalam kondisi tekanan maupun peluang ekonomi.

Penggunaan instrumen fiskal, termasuk pembiayaan, dilakukan secara terukur agar tidak menimbulkan risiko jangka panjang.

"Kalau lebih kita pakai, kalau kurang juga kita pakai, pokoknya kita enggak pernah rugi. Jadi kita desain kebijakan dengan baik, kita hitung dampaknya bukan kira-kira," tegasnya.

Baca juga: Purbaya Optimistis Ekonomi 2026 Tumbuh 5,6 Persen, Ini Faktor Pendorongnya

Menurutnya penolakan terhadap tawaran pinjaman ini sekaligus mencerminkan keyakinan pemerintah terhadap ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Di tengah dinamika global yang tidak menentu, pemerintah memilih mengoptimalkan sumber daya internal dan menjaga disiplin fiskal.

Langkah tersebut juga kata Purbaya menjadi sinyal kepada investor bahwa Indonesia masih memiliki ruang fiskal yang cukup dan tidak bergantung pada pembiayaan eksternal dalam jangka pendek.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau