Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

GIMNI Khawatir 2030 Sawit Indonesia Mati Semua, Ini Sebabnya

Kompas.com, 26 Februari 2026, 09:51 WIB
Syakirun Ni'am,
Erlangga Djumena

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga, mengaku khawatir semua tanaman sawit di tanah air akan mati pada 2030.

Menurut Sahat, kondisi itu mungkin terjadi jika perkebunan sawit hanya menggunakan pupuk kimia dan tidak menerapkan pertanian regeneratif (regenerative agriculture).

“Salah satu contoh adalah memang saya khawatir itu kalau kita tidak berbuat mungkin tahun 2030 sawit kita itu mati semua,” kata Sahat dalam buka puasa bersama di Kuningan, Jakarta, Rabu (25/2/2026).

Baca juga: Tenggat 24 Februari Lewat, RI Tagih Komitmen UE atas Sengketa Sawit

Adapun pertanian regeneratif merupakan pendekatan cara cocok tanam yang fokus memulihkan kesehatan tanah.

Ia mencontohkan, seorang ibu yang setiap tahun melahirkan bayi tubuhnya akan keropos.

Menurutnya, tanah perkebunan yang mineralnya diserap untuk sawit juga mengalami hal yang sama.

“Enggak ada bedanya dengan tanah jadi harus ada regeneratif,” ujar Sahat.

Regenerasi tanah bisa dilakukan dengan menggunakan kompos limbah organik (komposting bio-organik fertilizer).

Perkebunan sawit tidak bisa hanya mengandalkan pupuk kimia terus menerus.

Sahat menjelaskan, konsumsi pupuk kimia perkebunan sawit di Sabah, Malaysia bisa ditekan dari 10 kilogram menjadi 5 kilogram per pohon.

“Bagaimana caranya? Tanahnya disehatkan kembali remediasi dengan cara apa? Bio organik fertilizer dari mana? Dari biomassa diolah kembali komposting,” kata dia.

Ketua Umum Dewan Sawit Indonesia mengaku tidak perlu khawatir dengan luasan lahan perkebunan sawit di Indonesia.

Menurutnya, meningkatkan produktivitas sawit bisa dilakukan dengan intensifikasi (memaksimalkan lahan yang ada), alih-alih ekstensifikasi (menambah lahan).

Pihaknya juga telah menyusun rencana bersama China untuk menerapkan pertanian regeneratif.

Nantinya, sebanyak 42 persen dari biomassa akan diolah menjadi kompos organik.

Sahat memperkirakan, jika pertanian regeneratif ini diterapkan maka pada 2029 dengan 16 juta hektar luas lahan perkebunan sawit di Indonesia, maka bisa meningkatkan manfaat ekonomi dua kali lipat.

“Prediksi by the year 2029 kalau ini dijalankan dengan lahan yang sama kita punya bisa regenerasi bisa generate kira-kira 120 billion dollar sekarang 60-an dollar kan? Dengan tidak menambah luas lho,” ujar Sahat.

Baca juga: Tekstil hingga Sawit, Produk RI Dapat Tarif 0 Persen dari AS

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau