Warisan Nilai Sang Ibu, Fitri Menjadikan Emas Penopang Hidup

Kompas.com - 23/09/2025, 22:16 WIB
Suci Rahayu,
Icha Rastika

Tim Redaksi

MALANG, KOMPAS.com - Di tengah padatnya pekerjaan yang digeluti, Fitri Wulansari, seorang ibu asal Kota Malang, Jawa Timur, memiliki cara sederhana tetapi penuh makna untuk menjaga masa depan keluarganya.

Ia menabung emas. Bukan sekadar membeli perhiasan atau simpanan.

Baginya, emas merupakan penopang hidup, pengingat akan ajaran masa kecil, sekaligus jaring pengaman di masa tua.

“Ya enak, bisa untuk jangka panjang, harganya tidak pernah turun. Kalau butuh uang cepat, tidak perlu susah cari utangan, tinggal digadaikan atau dijual. Jadi untung terus,” ucapnya kepada Kompas.com.

Warisan nilai dari ibu 

Sejak kecil, ia tumbuh di desa dengan didikan sederhana untuk menyisihkan uang demi membeli emas.

Sebagaimana sang ibu mengajarkannya bahwa emas bisa jadi penyelamat di kala genting.

“Terbukti bisa untuk kebutuhan sekolah, beli motor, sampai kebutuhan lain. Sekarang, setelah suami pensiun, yang bisa diputar ya emas, bukan TV atau kulkas,” kata perempuan yang biasa disapa Fitri itu sambil tersenyum.

Baca juga: Kisah Dedi Gantungkan Mimpi Punya Rumah pada Tabungan Emas Pegadaian

Ajaran masa kecil yang terus menjadi kebiasaannya meskipun sudah berkeluarga dan dikaruniai dua anak yang tumbuh dewasa.

Ia terbiasa menyisihkan pendapatan untuk emas dan bukan belanja konsumtif.

“Kalau ditabung di bank, lihat saldo malah pengen beli-beli. Kalau emas, enggak bisa. Jadi tetap jadi tabungan sampai benar-benar butuh,” kata dia.

Apalagi, saat ini, dengan perkembangan zaman, ia mendapatkan banyak kemudahan untuk mendapatkan sebatang emas.

Ia pun mengenal Tabungan Emas Pegadaian yang cukup menarik dan tepercaya.

“Kalau di Pegadaian bisa nyicil dulu, nanti kalau lunas dapat fisiknya. Apalagi Pegadaian aman karena milik pemerintah. Kalau saham saya enggak terlalu, belum paham. Lebih senang emas, lebih nyata hasilnya,” ujar perempuan yang memiliki usaha salon dan kuliner itu.

Penopang masa pensiun

Kini, dengan perkembangan zaman, akses terhadap emas semakin mudah.

Fitri Wulansari mengenal Tabungan Emas Pegadaian, yang memberinya kesempatan menabung sedikit demi sedikit hingga terkumpul sejumlah emas batangan.

“Kalau di Pegadaian bisa nyicil dulu, nanti kalau lunas dapat fisiknya. Apalagi Pegadaian aman karena milik pemerintah. Kalau saham saya nggak terlalu, belum paham. Lebih senang emas, lebih nyata hasilnya,” tutur perempuan berusia 47 tahun itu.

Dulu, ia hanya bisa membeli perhiasan kecil yang rawan hilang.

Setelah itu, ia memilih tabungan emas batangan, mulai 2 gram sesuai keadaan keuangannya.

“Yang penting sesuai kemampuan dan konsisten. Biarpun kecil, kalau rutin, hasilnya tetap terasa,” ujarnya.

Baca juga: Cerita Purnomo Berinvestasi Emas di Pegadaian, Terinspirasi dari Kisah Gen-Z

Apalagi, sejak suaminya pensiun, ia merasakan hasilnya.

Emas menjadi sandaran utama bagi keluarga.

Melalui cicilan emas yang telah dilakukan selama ini di Pegadaian, ia merasa lebih ringan menata masa depan.

“Kalau kerjaan lagi turun, penopangnya ya tabungan emas ini. Kalau enggak dijual, ya digadaikan sesuai kebutuhan. Kalau emas Antam sayang, biasanya yang saya gadaikan cincin atau gelang. Kalau kebutuhan besar baru jual Antam,” ujar Fitri Wulansari.

“Kalau nabung kadang kelamaan. Kalau cicilan jelas tiap bulan harus ada berapa, dan berapa lama sudah dapat emasnya. Apalagi emak-emak kaya saya ini, uang receh sering kepakai buat kebutuhan sehari-hari,” katanya sambil tertawa.

MengEMASkan Indonesia, menguatkan asa

Gerakan “Pegadaian MengEMASkan Indonesia” membuktikan bahwa emas bukan lagi sekadar simbol kemewahan.

Ia telah menjadi sarana pemberdayaan, modal keberanian, dan penyemai mimpi bagi jutaan keluarga di Indonesia yang terus berjuang menyulam masa depan dengan butir-butir emas yang disimpan dengan penuh kesabaran.

“Saya sih nggak takut, emas ini bisa buat urip (hidup). Pokoknya kalau ada pemasukan, tetap sisihkan untuk emas. Daripada beli barang atau kendaraan yang nilainya turun, mending emas. Walau nyicil, nilainya naik terus,” ucapnya. 

Copyright 2008 - 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com