Krisis Air Bersih di Aceh Tamiang, Warga Terpaksa Ambil Air Sungai Meski Takut Buaya

Kompas.com - 14/03/2026, 08:20 WIB
DWN

Penulis

KOMPAS.com – Warga Desa Sulum, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, masih menghadapi krisis air bersih setelah banjir besar melanda wilayah tersebut pada akhir 2025.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebagian warga terpaksa mengambil air dari Sungai Tamiang meski harus menghadapi risiko ancaman buaya.

“Bagaimana kami bisa bertahan? Meski takut ada buaya, terpaksalah kami pergi ke sungai,” ujar Rohani (40), warga Dusun Masjid, Desa Sulum.

Rohani kini tinggal bersama suami, dua anak, dan satu cucunya. Mereka menetap di rumah panggung yang dibangun dari papan-papan kayu. Di bagian belakang rumah sederhana itu terdapat dapur tempat Rohani memasak dan mencuci perkakas makan.

Ia menuturkan, banjir membuat sumur-sumur warga dipenuhi lumpur sehingga tidak lagi bisa digunakan. Hingga berbulan-bulan setelah banjir, kondisi tersebut belum juga pulih.

Akibatnya, warga terpaksa memanfaatkan air sungai untuk mandi dan mencuci pakaian. Sementara untuk kebutuhan minum dan memasak, mereka mengambil air dari parit kecil di area kebun sawit yang jaraknya cukup jauh dari permukiman.

Baca juga: Penyintas Banjir Bertahan di Kebun Sawit, Butuh Air Bersih hingga Bahan Pangan

“Di sungai kami hanya mandi dan mencuci pakaian, tidak untuk minum karena airnya keruh. Untuk minum kami mencari air jauh di kebun sawit orang. Di sana ada parit-parit kecil. Kami ambil air itu dua jeriken, lalu kami endapkan dulu sebelum dimasak. Air itulah yang kami minum,” kata Rohani.

Namun, air dari parit tersebut juga tidak selalu tersedia. Saat musim kering, air bisa menghilang, sementara pada waktu lain kualitasnya keruh dan berbau.

“Kadang airnya bau karena banyak kotoran monyet. Tidak enak, kan?” ucap Rohani.

Kondisi tersebut semakin menyulitkan warga, terutama selama Ramadhan, ketika kebutuhan air untuk memasak dan beribadah meningkat.

Rohani mengaku sering meminta anggota keluarga laki-laki mengambil air dari parit di kebun saat malam hari agar tersedia air untuk memasak sahur dan berwudhu.

“Kalau malam atau sahur saya minta mereka ambil air di parit supaya bisa untuk masak dan wudhu subuh. Kalau saya takutlah malam-malam, maka diambil sama mereka,” ujarnya.

Baca juga: Sepekan Jelang Lebaran, Pembangunan 2.418 Huntara Korban Banjir Aceh Tamiang Dikebut

Aceh Tamiang yang berada di ujung timur Provinsi Aceh menjadi salah satu wilayah yang terdampak bencana ekologis pada akhir 2025.

Lebih dari tiga bulan setelah banjir, sebagian warga masih harus bergantung pada air sungai dan parit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Untuk membantu mengatasi persoalan tersebut, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa membangun sumur bor di beberapa titik wilayah terdampak, termasuk di Dusun Masjid, Desa Sulum.

Sumur bor tersebut diharapkan dapat menyediakan akses air bersih bagi warga, terutama untuk memasak, mandi, dan beribadah selama Ramadhan.

Terkini Lainnya
Aroma Kebaikan HMNS dalam Tebar Hewan Kurban untuk Warga di Maluku dan Jawa Timur

Aroma Kebaikan HMNS dalam Tebar Hewan Kurban untuk Warga di Maluku dan Jawa Timur

Inspirasi
Warga Desa Jepang Terima 70 Hewan Kurban Dompet Dhuafa

Warga Desa Jepang Terima 70 Hewan Kurban Dompet Dhuafa

Inspirasi
Warga Desa Waspait Antusias Sambut Kedatangan Sapi Kurban di Pulau Buru

Warga Desa Waspait Antusias Sambut Kedatangan Sapi Kurban di Pulau Buru

Inspirasi
Mengintip Berkah Zakat di Balik Perbaikan Rumah Karyawan PT Adev Melalui Dompet Dhuafa

Mengintip Berkah Zakat di Balik Perbaikan Rumah Karyawan PT Adev Melalui Dompet Dhuafa

Inspirasi
Dompet Dhuafa Raih Penghargaan

Dompet Dhuafa Raih Penghargaan "Marcomm & Corcomm Dream Team 2026"

Inspirasi
Dompet Dhuafa Terima Donasi Infak Pelanggan PT MDS Retailing Tbk untuk Beasiswa Pendidikan

Dompet Dhuafa Terima Donasi Infak Pelanggan PT MDS Retailing Tbk untuk Beasiswa Pendidikan

Inspirasi
Cerita dari Sudut Desa Ampuah Lumpo: Merawat Sapi, Menyekolahkan Mimpi

Cerita dari Sudut Desa Ampuah Lumpo: Merawat Sapi, Menyekolahkan Mimpi

Inspirasi
Dompet Dhuafa Dorong Kurban Tepat Sasaran, Distribusi Menjangkau Wilayah Pascabencana

Dompet Dhuafa Dorong Kurban Tepat Sasaran, Distribusi Menjangkau Wilayah Pascabencana

Inspirasi
Bangkitkan Ekonomi Pascabencana, Dompet Dhuafa dan Pemprov Sumbar Perkuat Sinergi Pengentasan Kemiskinan

Bangkitkan Ekonomi Pascabencana, Dompet Dhuafa dan Pemprov Sumbar Perkuat Sinergi Pengentasan Kemiskinan

Inspirasi
Borong 3 Penghargaan PFI 2026, Dompet Dhuafa Tegaskan Komitmen di Ekosistem Filantropi Nasional

Borong 3 Penghargaan PFI 2026, Dompet Dhuafa Tegaskan Komitmen di Ekosistem Filantropi Nasional

Inspirasi
Kartini Tangguh dari Sukabumi, Kisah Peternak Perempuan Sekolahkan Anak hingga Perguruan Tinggi

Kartini Tangguh dari Sukabumi, Kisah Peternak Perempuan Sekolahkan Anak hingga Perguruan Tinggi

Inspirasi
Kongres Parlemen GSF 2026 Cetuskan Deklarasi Brussels, Delegasi Indonesia Desak Dunia Bertindak untuk Palestina

Kongres Parlemen GSF 2026 Cetuskan Deklarasi Brussels, Delegasi Indonesia Desak Dunia Bertindak untuk Palestina

Inspirasi
Simulasi Gempa di Agam, Dompet Dhuafa Volunteer Sumbar Tingkatkan Kesiapsiagaan Siswa

Simulasi Gempa di Agam, Dompet Dhuafa Volunteer Sumbar Tingkatkan Kesiapsiagaan Siswa

Inspirasi
Kurban Bisa Jadi Solusi Krisis Iklim, Ini Cara Dompet Dhuafa

Kurban Bisa Jadi Solusi Krisis Iklim, Ini Cara Dompet Dhuafa

Inspirasi
2 Dekade Gempa Jogja, Dompet Dhuafa Yogyakarta Pupuk Budaya Siaga Warga lewat Simulasi HKB 2026

2 Dekade Gempa Jogja, Dompet Dhuafa Yogyakarta Pupuk Budaya Siaga Warga lewat Simulasi HKB 2026

Inspirasi
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com