Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jalur Selat Hormuz Masih Macet meski Ada Gencatan Senjata AS-Iran, Kapal-kapal Ragu Lewat

Kompas.com, 9 April 2026, 08:20 WIB
Irawan Sapto Adhi

Penulis

Sumber Reuters

KOMPAS.com - Kapal-kapal pengangkut minyak tampak ragu-ragu melintasi Selat Hormuz, meski gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sudah diumumkan.

Para pelaku industri sedang menunggu kejelasan prosedur pelayaran dan jadwal pemuatan minyak baru.

Data LSEG menunjukkan, sebagian besar kapal masih terjebak di Teluk pada Selasa (7/4/2026) waktu setempat.

Hal ini terjadi beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dua minggu dan menyatakan AS akan membantu mengatasi kemacetan lalu lintas kapal.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun di Bawah 100 Dollar AS di Tengah Harapan Pembukaan Selat Hormuz

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya menyampaikan jika serangan terhadap Iran berhenti, pihaknya akan menghentikan serangan balasan dan menyediakan jalur aman bagi kapal.

Semua dilakukan bekerja sama dengan angkatan bersenjata Iran, tetapi tetap mempertimbangkan keterbatasan teknis.

Sebagaimana dilansir Reuters, menurut Kpler, per Selasa, ada sekitar 187 kapal berbobot muatan penuh membawa 172 juta barel minyak mentah dan produk olahan berada di Selat Hormuz.

Daejin Lee, Kepala Riset Global di Fertmax FZCO, mengatakan, dengan lebih dari 1.000 kapal besar terjebak di Teluk, kemungkinan untuk membersihkan backlog lebih dari dua minggu, bahkan dalam kondisi normal, sangat sulit.

“Ada jendela 14 hari, tapi itu terlalu singkat untuk mengembalikan kepercayaan yang hilang,” ujar Lee.

Ia menambahkan, detail teknis masih belum jelas, termasuk tindakan apa yang harus dilakukan kapal dan pemilik charter untuk bisa melintas.

Jakob Larsen, Kepala Keselamatan dan Keamanan di asosiasi pelayaran Bimco, menekankan, industri menunggu detail teknis dari AS dan Iran.

“Meninggalkan Teluk tanpa koordinasi sebelumnya dengan AS dan Iran berisiko tinggi dan tidak disarankan,” ujarnya.

Baca juga: Kabar Terkini Terkait Kapal Pertamina di Selat Hormuz: Masih Tertahan, Pemerintah Terus Lobi Iran

Penundaan masih terjadi

Iran memblokade Selat Hormuz sebagai respons atas serangan AS dan Israel sejak 28 Februari. Selat ini merupakan jalur transit 20 persen minyak dan gas cair dunia.

Penutupan menyebabkan harga energi melambung dan mengguncang ekonomi global.

Gencatan senjata diumumkan 90 menit sebelum batas waktu Trump untuk membuka kembali selat. Pengumuman ini langsung menekan harga minyak dunia.

Halaman:


Terkini Lainnya
Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel dan Hizbullah, Selamatkan Negosiasi dengan Iran?
Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel dan Hizbullah, Selamatkan Negosiasi dengan Iran?
Internasional
Iran Setop Sementara Perundingan dengan AS, Salahkan Israel
Iran Setop Sementara Perundingan dengan AS, Salahkan Israel
Internasional
Trump Sesumbar Negosiasi dengan Iran Makin Cepat, Teheran Malah Ancam Perluas Perang
Trump Sesumbar Negosiasi dengan Iran Makin Cepat, Teheran Malah Ancam Perluas Perang
Internasional
Netanyahu Bangga Israel Sangat Dicintai di India, Klaim Dapat Dukungan Besar-besaran
Netanyahu Bangga Israel Sangat Dicintai di India, Klaim Dapat Dukungan Besar-besaran
Internasional
Trump Minta Imbalan atas Bantuan Kesehatan, Negara Afrika Menolak
Trump Minta Imbalan atas Bantuan Kesehatan, Negara Afrika Menolak
Internasional
AS-Iran Jual-Beli Serangan Lagi, Situasi Kian Tak Terkendali
AS-Iran Jual-Beli Serangan Lagi, Situasi Kian Tak Terkendali
Internasional
Bukan AS atau Iran, Turkiye Justru Bisa Jadi Pemenang Perang Timur Tengah
Bukan AS atau Iran, Turkiye Justru Bisa Jadi Pemenang Perang Timur Tengah
Internasional
Presiden Iran Dilaporkan Ajukan Resign, Teheran Langsung Buka Suara
Presiden Iran Dilaporkan Ajukan Resign, Teheran Langsung Buka Suara
Internasional
AS-Iran Bentrok Lagi, Trump ke Warga Amerika: Santai, Semua Akan Baik-baik Saja
AS-Iran Bentrok Lagi, Trump ke Warga Amerika: Santai, Semua Akan Baik-baik Saja
Internasional
2 Negara ASEAN Bersatu Jaga Laut China Selatan, Teken Pakta Pertahanan
2 Negara ASEAN Bersatu Jaga Laut China Selatan, Teken Pakta Pertahanan
Internasional
Fans PSG Rusuh di Perancis, Hampir 900 Orang Ditangkap
Fans PSG Rusuh di Perancis, Hampir 900 Orang Ditangkap
Internasional
Iran Balas Serang Pangkalan AS, Kesepakatan Damai Kian Jauh
Iran Balas Serang Pangkalan AS, Kesepakatan Damai Kian Jauh
Internasional
AS Usulkan Deeskalasi di Lebanon, tapi Hizbullah Harus Setop Menyerang
AS Usulkan Deeskalasi di Lebanon, tapi Hizbullah Harus Setop Menyerang
Internasional
AS 'Lelah' Subsidi Pertahanan Sekutu Asia, Desak Penambahan Belanja Militer
AS "Lelah" Subsidi Pertahanan Sekutu Asia, Desak Penambahan Belanja Militer
Internasional
AS dan Iran Saling Serang, Radar hingga Pangkalan Militer Jadi Sasaran
AS dan Iran Saling Serang, Radar hingga Pangkalan Militer Jadi Sasaran
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau