Penulis
KOMPAS.com - Kapal-kapal pengangkut minyak tampak ragu-ragu melintasi Selat Hormuz, meski gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sudah diumumkan.
Para pelaku industri sedang menunggu kejelasan prosedur pelayaran dan jadwal pemuatan minyak baru.
Data LSEG menunjukkan, sebagian besar kapal masih terjebak di Teluk pada Selasa (7/4/2026) waktu setempat.
Hal ini terjadi beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dua minggu dan menyatakan AS akan membantu mengatasi kemacetan lalu lintas kapal.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun di Bawah 100 Dollar AS di Tengah Harapan Pembukaan Selat Hormuz
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya menyampaikan jika serangan terhadap Iran berhenti, pihaknya akan menghentikan serangan balasan dan menyediakan jalur aman bagi kapal.
Semua dilakukan bekerja sama dengan angkatan bersenjata Iran, tetapi tetap mempertimbangkan keterbatasan teknis.
Sebagaimana dilansir Reuters, menurut Kpler, per Selasa, ada sekitar 187 kapal berbobot muatan penuh membawa 172 juta barel minyak mentah dan produk olahan berada di Selat Hormuz.
Daejin Lee, Kepala Riset Global di Fertmax FZCO, mengatakan, dengan lebih dari 1.000 kapal besar terjebak di Teluk, kemungkinan untuk membersihkan backlog lebih dari dua minggu, bahkan dalam kondisi normal, sangat sulit.
“Ada jendela 14 hari, tapi itu terlalu singkat untuk mengembalikan kepercayaan yang hilang,” ujar Lee.
Ia menambahkan, detail teknis masih belum jelas, termasuk tindakan apa yang harus dilakukan kapal dan pemilik charter untuk bisa melintas.
Jakob Larsen, Kepala Keselamatan dan Keamanan di asosiasi pelayaran Bimco, menekankan, industri menunggu detail teknis dari AS dan Iran.
“Meninggalkan Teluk tanpa koordinasi sebelumnya dengan AS dan Iran berisiko tinggi dan tidak disarankan,” ujarnya.
Baca juga: Kabar Terkini Terkait Kapal Pertamina di Selat Hormuz: Masih Tertahan, Pemerintah Terus Lobi Iran
Iran memblokade Selat Hormuz sebagai respons atas serangan AS dan Israel sejak 28 Februari. Selat ini merupakan jalur transit 20 persen minyak dan gas cair dunia.
Penutupan menyebabkan harga energi melambung dan mengguncang ekonomi global.
Gencatan senjata diumumkan 90 menit sebelum batas waktu Trump untuk membuka kembali selat. Pengumuman ini langsung menekan harga minyak dunia.