Penulis
Keberhasilan pengembangan Mandau ini merupakan wujud sinergi kuat dari berbagai pihak, mulai dari Dinas Perdagangan/Pangan Daerah, Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Pangan Nasional (Bapanas), Badan Usaha Logistik (Bulog), Distributor, hingga Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan PT Pos Indonesia/Pelayanan Nasional Indonesia (Pelni).
Meskipun BI Kaltim tidak memiliki kontrol langsung atas kebijakan supply-side, langkah-langkah strategis untuk memperkuat pasokan terus dilakukan melalui GNPIP.
Di antaranya dengan pengembangan klaster pangan, penerapan teknologi pertanian modern seperti Drone Sprayer dan Digital Farming, serta demplot padi dalam konsep pertanian berkelanjutar atau Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas hingga 72,2 persen.
Baca juga: Merajut Nusantara Lewat Wastra, Upaya BI Mengawinkan 2 Pakem Berbeda
BI Kaltim juga aktif melaksanakan lebih dari 28 kegiatan publikasi dan imbauan untuk menjaga ekspektasi harga masyarakat tetap stabil, dan mencegah panic buying yang dapat menekan pasokan.
Intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM), yang tercatat sebanyak 716 kali di wilayah kerja BI Kaltim, serta Operasi Pasar menjelang HBKN, juga dilakukan.
Senyampang dengan itu, untuk memastikan keberlanjutan pertumbuhan yang tidak lagi didominasi sektor ekstraktif, BI Kaltim proaktif mendorong diversifikasi.
Bersama akademisi dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), BI Kaltim mengidentifikasi komoditas non-ekstraktif potensial seperti biodiesel, oleokimia, dan biomassa.
Hasil kajian memproyeksikan ketergantungan pada sektor tambang akan menurun bertahap hingga 8 persen pada tahun 2045.
Baca juga: BI Rate Turun, Sektor Properti dan Otomotif Balikpapan Kian Menggeliat
Melalui Regional Investor Relation Unit (RIRU) dan Peningkatan Pforiling Investasi Kalimantan Timur (Pikat), BI Kaltim berhasil menjaring 17 Letter of Intent (LoI) dan 1 MoU senilai sekitar 901 juta dollar AS atau ekuivalen Rp 15,4 triliun pada tahun 2025, yang mayoritas didominasi proyek non-ekstraktif.
Tak hanya itu, penyaluran Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), tercatat mencapai Rp 106,87 triliun per September 2025, yang fokus pada sektor unggulan berkelanjutan seperti pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan.
Kembali pada pembangunan IKN, Budi berpendapat, telah memberikan efek tular yang terukur di daerah penyangga.
Di sektor ketenagakerjaan, misalnya, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Balikpapan mengalami penurunan signifikan dari 6,90 persen (2022) menjadi 5,22 persen (2024), diikuti tren serupa di Samarinda dan Provinsi Kaltim.
Sektor Konstruksi mencatat peningkatan penyerapan pekerja tertinggi sebanyak lebih dari 29.078 orang yang didorong oleh akselerasi IKN.
Baca juga: Financial Center IKN Dipercepat, BI: Fungsi Pembiayaan Paling Penting
Sementara di sektor UMKM, terjadi peningkatan aktivitas ekonomi akibat IKN. Program onboarding digital yang didukung BI mencatat peningkatan omzet rata-rata UMKM hingga 72 persen, serta peningkatan pendapatan kelompok subsisten mencapai 100 persen hingga 500 persen.
BI Kaltim juga bersinergi dengan Otorita IKN melalui Mahakam Investment Forum (MIF) untuk mempromosikan 80 persen pendanaan IKN yang berasal dari swasta/KPBU, serta memetakan potensi investasi kawasan penyangga Balikpapan, Samarinda, Penajam Paser Utara (PPU), dan Kutai Kartanegara (Kukar).