Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Strategi BI Kaltim Jaga Stabilitas Harga Pangan dan Tekan Ketergantungan Batubara

Kompas.com, 10 Desember 2025, 11:55 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

  • Pragnosa Neraca Pangan: Mendorong 10 kabupaten/kota membuat prediksi neraca pangan berdasarkan konsep BAPANAS.
  • Command Center: Mengolah data pragnosa untuk membantu perumusan kebijakan yang akurat (besaran intervensi, daerah pasokan, dan logistik).
  • EWS Otomasi: Menyajikan sistem EWS yang diotomasi menggunakan ML, meningkatkan efektivitas dan akurasi data harga.

Keberhasilan pengembangan Mandau ini merupakan wujud sinergi kuat dari berbagai pihak, mulai dari Dinas Perdagangan/Pangan Daerah, Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Pangan Nasional (Bapanas), Badan Usaha Logistik (Bulog), Distributor, hingga Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan PT Pos Indonesia/Pelayanan Nasional Indonesia (Pelni).

Strategi Jangka Panjang 

Meskipun BI Kaltim tidak memiliki kontrol langsung atas kebijakan supply-side, langkah-langkah strategis untuk memperkuat pasokan terus dilakukan melalui GNPIP.

Di antaranya dengan pengembangan klaster pangan, penerapan teknologi pertanian modern seperti Drone Sprayer dan Digital Farming, serta demplot padi dalam konsep pertanian berkelanjutar atau Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas hingga 72,2 persen.

Baca juga: Merajut Nusantara Lewat Wastra, Upaya BI Mengawinkan 2 Pakem Berbeda

BI Kaltim juga aktif melaksanakan lebih dari 28 kegiatan publikasi dan imbauan untuk menjaga ekspektasi harga masyarakat tetap stabil, dan mencegah panic buying yang dapat menekan pasokan.

Intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM), yang tercatat sebanyak 716 kali di wilayah kerja BI Kaltim, serta Operasi Pasar menjelang HBKN, juga dilakukan.

Senyampang dengan itu, untuk memastikan keberlanjutan pertumbuhan yang tidak lagi didominasi sektor ekstraktif, BI Kaltim proaktif mendorong diversifikasi.

Bersama akademisi dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), BI Kaltim mengidentifikasi komoditas non-ekstraktif potensial seperti biodiesel, oleokimia, dan biomassa.

Hasil kajian memproyeksikan ketergantungan pada sektor tambang akan menurun bertahap hingga 8 persen pada tahun 2045.

Baca juga: BI Rate Turun, Sektor Properti dan Otomotif Balikpapan Kian Menggeliat

Melalui Regional Investor Relation Unit (RIRU) dan Peningkatan Pforiling Investasi Kalimantan Timur (Pikat), BI Kaltim berhasil menjaring 17 Letter of Intent (LoI) dan 1 MoU senilai sekitar 901 juta dollar AS atau ekuivalen Rp 15,4 triliun pada tahun 2025, yang mayoritas didominasi proyek non-ekstraktif.

Tak hanya itu, penyaluran Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), tercatat mencapai Rp 106,87 triliun per September 2025, yang fokus pada sektor unggulan berkelanjutan seperti pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan.

Penurunan Pengangguran dan Kebangkitan UMKM

Kembali pada pembangunan IKN, Budi berpendapat, telah memberikan efek tular yang terukur di daerah penyangga.

Di sektor ketenagakerjaan, misalnya, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Balikpapan mengalami penurunan signifikan dari 6,90 persen (2022) menjadi 5,22 persen (2024), diikuti tren serupa di Samarinda dan Provinsi Kaltim.

Sektor Konstruksi mencatat peningkatan penyerapan pekerja tertinggi sebanyak lebih dari 29.078 orang yang didorong oleh akselerasi IKN.

Baca juga: Financial Center IKN Dipercepat, BI: Fungsi Pembiayaan Paling Penting

Sementara di sektor UMKM, terjadi peningkatan aktivitas ekonomi akibat IKN. Program onboarding digital yang didukung BI mencatat peningkatan omzet rata-rata UMKM hingga 72 persen, serta peningkatan pendapatan kelompok subsisten mencapai 100 persen hingga 500 persen.

BI Kaltim juga bersinergi dengan Otorita IKN melalui Mahakam Investment Forum (MIF) untuk mempromosikan 80 persen pendanaan IKN yang berasal dari swasta/KPBU, serta memetakan potensi investasi kawasan penyangga Balikpapan, Samarinda, Penajam Paser Utara (PPU), dan Kutai Kartanegara (Kukar).

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau