KOMPAS.com - Penyerang veteran asal Spanyol, Pedro Rodriguez, resmi mengakhiri perjalanan kariernya bersama klub Liga Italia (Serie A), Lazio.
Laga melawan Pisa di Stadion Olimpico, Sabtu (23/5/2026) waktu setempat atau Minggu dini hari WIB menjadi momen perpisahan yang emosional bagi Pedro Rodriguez.
Di mana Pedro Rodriguez sukses mencetak sebuah gol dalam kemenangan comeback yang sekaligus menutup petualangannya di kancah sepak bola Negeri Piza.
Sebelum melakoni partai pamungkasnya di kompetisi Serie A bersama Lazio, Pedro menyempatkan diri berbicara kepada saluran resmi klub.
Melansir dari TuttoMercatoWeb, Pedro Rodriguez membagikan cerita hangat dan jujur mengenai ikatan batinnya dengan para suporter.
Baca juga: Hasil Inter Miami Vs Portland Timbers 2-0: Messi Gemilang dengan 1 Gol dan 1 Assist
Termasuk kisah mengejutkan soal upayanya membujuk beberapa mantan rekan setimnya untuk berlabuh di Stadion Olimpico.
Salah satu pengakuan paling menarik adalah ketika ia membeberkan usaha luar biasanya untuk merekrut pemain-pemain top ke ibu kota Italia.
Tidak tanggung-tanggung, nama-nama besar seperti Lionel Messi, David de Gea, hingga Jordi Alba sempat ia dekati secara personal.
“Saya selalu berusaha,” kata Pedro ketika ditanya apakah dia pernah hampir berhasil meyakinkan mantan rekan setimnya untuk bergabung, dikutip dari Football Italia.
“Bahkan dengan Messi, jelas itu tidak mudah (tertawa). Lalu Jordi Alba dan De Gea ketika mereka berstatus bebas transfer."
"Saya juga ingat berbicara tentang Bartra dengan Sarri. Dan David Luiz. Saya ingin sekali membiarkan mereka merasakan gairah para penggemar kami.”
Baca juga: Lionel Messi Masih Lebih Baik dari Cristiano Ronaldo Saat Tampil di Laga Final
Dalam wawancara tersebut, pemain berusia 36 tahun ini juga menyinggung kendala berat yang dihadapi tim sepanjang musim ini.
Megabintang Barcelona, Lionel Messi, merayakan golnya ke gawang Alaves, Minggu (14/2/2021) dini hari WIB di Camp Nou.Salah satunya adalah periode panjang ketika Stadion Olimpico sepi penonton akibat adanya aksi boikot dari para pendukung setia.
“Bermain tanpa dukungan mereka itu sulit,” katanya.
“Bermain bagus di stadion kosong itu mustahil. Kami melewati masa-masa sulit dan tidak mudah menyaksikan situasi yang berkembang antara para penggemar, skuad, dan klub.”