
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
DI TENGAH situasi ekonomi yang belum benar-benar stabil, efisiensi anggaran yang mulai diberlakukan di banyak sektor, serta meningkatnya tuntutan publik terhadap prestasi olahraga nasional, satu kenyataan perlahan mulai terlihat dengan terang.
Adalah bahwa sebagian besar organisasi cabang olahraga di Indonesia ternyata belum cukup siap berdiri secara mandiri.
Realitas ini bisa kita lihat atau saksikan gejalanya hampir setiap tahun.
Program pelatnas kerap tersendat karena anggaran belum turun. Kompetisi nasional tertunda karena sponsor tidak ada. Atlet berhenti berlatih karena dukungan daerah terhambat.
Bahkan beberapa cabang olahraga praktis hanya aktif atau mulai bergeliat menjelang multi event seperti SEA Games atau Asian Games, lalu kembali tenggelam dan meredup setelahnya.
Baca juga: Membaca Kehebatan Persib yang Berpeluang Hattrick Juara
Ironisnya, dan ini yang lebih mengkhawatirkan, situasi seperti itu dianggap normal atau lumrah.
Padahal, bila sebuah organisasi olahraga langsung goyah hanya karena bantuan berkurang atau pergantian kebijakan terjadi, itu berarti fondasi organisasinya memang belum kuat sejak awal.
Inilah problem paling mendasar dalam olahraga Indonesia hari ini. Yakni terlalu banyak cabang olahraga hidup dalam ketergantungan.
Ketergantungan pada bantuan pemerintah. Ketergantungan pada figur tertentu. Ketergantungan pada momentum politik.
Bahkan ketergantungan pada relasi personal elite organisasi, terutama dengan kekuasaan.
Akibatnya, organisasi olahraga kita sering kali tidak tumbuh sebagai institusi profesional, melainkan sekadar struktur administratif yang hidup dari siklus anggaran tahunan.
Kita terlalu lama membangun olahraga dengan mentalitas “menunggu”.
Menunggu bantuan cair. Menunggu perhatian pemerintah.
Menunggu sponsor datang sendiri. Menunggu atlet berbakat lahir secara alami.
Sementara dunia olahraga internasional sudah bergerak jauh melampaui cara berpikir seperti itu.
Kini olahraga global bukan lagi hanya soal pertandingan.
Karena sudah menjadi industri besar yang ditopang tata kelola modern, manajemen profesional, data, sport science, commercial ecosystem, media engagement, hingga kekuatan branding organisasi.
Dan harus diakui, pada titik inilah Indonesia tertinggal, bahkan dengan sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara.
Banyak cabang olahraga kita masih sibuk menyelesaikan konflik internal yang seharusnya tidak lagi menjadi isu di era modern: dualisme organisasi, perebutan kepengurusan, tarik menarik kepentingan, hingga budaya organisasi yang terlalu feodal dan tidak transparan.
Ironisnya, energi terbesar organisasi kadang habis bukan untuk membangun atlet, tetapi untuk mempertahankan kekuasaan.