Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 2 Maret 2026, 13:06 WIB
Wisnubrata

Penulis

Sumber Forbes

KOMPAS.com - Berbeda dengan rusa yang memasuki musim birahi atau rubah yang aktif berkembang biak saat musim semi, manusia tidak memiliki musim kawin tertentu. Kita tidak menunggu datangnya musim semi atau perubahan cuaca untuk bereproduksi. Aktivitas seksual dan reproduksi pada manusia dapat terjadi sepanjang tahun.

Lalu, mengapa manusia tidak punya musim kawin seperti banyak hewan lain? Jawabannya terletak pada evolusi—yang secara unik “mengatur ulang” sistem reproduksi manusia dengan memadukan faktor biologi, budaya, dan struktur sosial.

Mitos tentang “Musim Kawin Manusia”

Dalam biologi, istilah mating season atau musim kawin merujuk pada periode tertentu setiap tahun ketika hewan memasuki masa birahi, kawin, dan melahirkan anak pada waktu yang paling menguntungkan untuk bertahan hidup. Misalnya, anak domba yang lahir di musim semi atau anak rusa di musim panas, saat makanan melimpah dan cuaca mendukung.

Namun manusia tidak mengikuti pola ini.

Secara evolusioner, manusia termasuk “continuous breeders” atau spesies yang dapat bereproduksi sepanjang tahun. Perempuan mengalami ovulasi rata-rata setiap 28 hari selama masa subur, dan laki-laki memproduksi sperma secara terus-menerus. Tidak ada jendela waktu biologis tertentu yang membatasi kapan pembuahan bisa terjadi.

Salah satu alasan utama manusia tidak memiliki musim kawin adalah ovulasi yang tersembunyi (concealed ovulation). Pada banyak mamalia dengan musim kawin, betina menunjukkan tanda-tanda jelas saat masa subur—seperti perubahan bau, pembengkakan, atau perilaku tertentu—untuk memberi sinyal kepada jantan bahwa mereka siap kawin.

Sebaliknya, perempuan tidak memiliki tanda eksternal yang jelas saat sedang subur.

Meski terdengar tidak biasa, ini justru merupakan strategi evolusioner yang penting. Dengan ovulasi yang tidak terlihat, fokus reproduksi manusia bergeser dari kompetisi kawin jangka pendek menjadi ikatan pasangan jangka panjang dan kerja sama sosial.

Baca juga: Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?

Apakah Benar Tidak Ada Pola Musiman Sama Sekali?

Meski manusia tidak memiliki musim kawin yang ketat, penelitian menunjukkan adanya variasi musiman dalam angka kelahiran.

Sebuah tinjauan klasik dalam The Quarterly Review of Biology menyebutkan bahwa hampir semua populasi manusia menunjukkan variasi musiman dalam kelahiran, terutama akibat perubahan frekuensi pembuahan. Faktor lingkungan seperti suhu, asupan nutrisi, dan panjang siang hari dapat sedikit memengaruhi hormon dan perilaku reproduksi.

Namun demikian, kapasitas untuk hamil tetap ada sepanjang tahun.

Yang menarik, para antropolog dan ahli biologi evolusi sepakat bahwa meskipun biologi menentukan kemampuan reproduksi, budaya dan lingkunganlah yang sering menentukan kapan reproduksi itu benar-benar terjadi.

Secara statistik, banyak kelahiran terjadi sekitar sembilan bulan setelah periode liburan besar seperti Natal, Tahun Baru, atau Hari Valentine. Alasannya sederhana: pada momen tersebut pasangan memiliki lebih banyak waktu luang dan kesempatan untuk berintimasi.

Studi tahun 2017 yang dipublikasikan dalam Scientific Reports memperkuat temuan ini. Dengan menganalisis perilaku pencarian daring terkait seks dan indikator suasana hati kolektif, para peneliti menemukan bahwa puncak minat seksual manusia lebih selaras dengan hari raya dan perayaan budaya dibandingkan dengan faktor biologis semata.

Dengan kata lain, siklus seksual manusia lebih banyak dipengaruhi budaya dan suasana sosial daripada “jam biologis musiman”.

Baca juga: Katak Betina Memangsa Katak Jantan saat Musim Kawin, Ini Alasannya

Halaman:


Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau