Penulis
KOMPAS.com - Berbeda dengan rusa yang memasuki musim birahi atau rubah yang aktif berkembang biak saat musim semi, manusia tidak memiliki musim kawin tertentu. Kita tidak menunggu datangnya musim semi atau perubahan cuaca untuk bereproduksi. Aktivitas seksual dan reproduksi pada manusia dapat terjadi sepanjang tahun.
Lalu, mengapa manusia tidak punya musim kawin seperti banyak hewan lain? Jawabannya terletak pada evolusi—yang secara unik “mengatur ulang” sistem reproduksi manusia dengan memadukan faktor biologi, budaya, dan struktur sosial.
Dalam biologi, istilah mating season atau musim kawin merujuk pada periode tertentu setiap tahun ketika hewan memasuki masa birahi, kawin, dan melahirkan anak pada waktu yang paling menguntungkan untuk bertahan hidup. Misalnya, anak domba yang lahir di musim semi atau anak rusa di musim panas, saat makanan melimpah dan cuaca mendukung.
Namun manusia tidak mengikuti pola ini.
Secara evolusioner, manusia termasuk “continuous breeders” atau spesies yang dapat bereproduksi sepanjang tahun. Perempuan mengalami ovulasi rata-rata setiap 28 hari selama masa subur, dan laki-laki memproduksi sperma secara terus-menerus. Tidak ada jendela waktu biologis tertentu yang membatasi kapan pembuahan bisa terjadi.
Salah satu alasan utama manusia tidak memiliki musim kawin adalah ovulasi yang tersembunyi (concealed ovulation). Pada banyak mamalia dengan musim kawin, betina menunjukkan tanda-tanda jelas saat masa subur—seperti perubahan bau, pembengkakan, atau perilaku tertentu—untuk memberi sinyal kepada jantan bahwa mereka siap kawin.
Sebaliknya, perempuan tidak memiliki tanda eksternal yang jelas saat sedang subur.
Meski terdengar tidak biasa, ini justru merupakan strategi evolusioner yang penting. Dengan ovulasi yang tidak terlihat, fokus reproduksi manusia bergeser dari kompetisi kawin jangka pendek menjadi ikatan pasangan jangka panjang dan kerja sama sosial.
Baca juga: Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
Meski manusia tidak memiliki musim kawin yang ketat, penelitian menunjukkan adanya variasi musiman dalam angka kelahiran.
Sebuah tinjauan klasik dalam The Quarterly Review of Biology menyebutkan bahwa hampir semua populasi manusia menunjukkan variasi musiman dalam kelahiran, terutama akibat perubahan frekuensi pembuahan. Faktor lingkungan seperti suhu, asupan nutrisi, dan panjang siang hari dapat sedikit memengaruhi hormon dan perilaku reproduksi.
Namun demikian, kapasitas untuk hamil tetap ada sepanjang tahun.
Yang menarik, para antropolog dan ahli biologi evolusi sepakat bahwa meskipun biologi menentukan kemampuan reproduksi, budaya dan lingkunganlah yang sering menentukan kapan reproduksi itu benar-benar terjadi.
Secara statistik, banyak kelahiran terjadi sekitar sembilan bulan setelah periode liburan besar seperti Natal, Tahun Baru, atau Hari Valentine. Alasannya sederhana: pada momen tersebut pasangan memiliki lebih banyak waktu luang dan kesempatan untuk berintimasi.
Studi tahun 2017 yang dipublikasikan dalam Scientific Reports memperkuat temuan ini. Dengan menganalisis perilaku pencarian daring terkait seks dan indikator suasana hati kolektif, para peneliti menemukan bahwa puncak minat seksual manusia lebih selaras dengan hari raya dan perayaan budaya dibandingkan dengan faktor biologis semata.
Dengan kata lain, siklus seksual manusia lebih banyak dipengaruhi budaya dan suasana sosial daripada “jam biologis musiman”.
Baca juga: Katak Betina Memangsa Katak Jantan saat Musim Kawin, Ini Alasannya