Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pria Neanderthal Lebih Sering Kawin dengan Wanita Homo Sapiens?

Kompas.com, 27 Februari 2026, 10:13 WIB
Wisnubrata

Penulis

KOMPAS.com - Selama puluhan tahun, para ilmuwan tahu bahwa manusia modern (Homo sapiens) dan Neanderthal pernah kawin silang. Namun, sebuah studi terbaru yang terbit di jurnal Science pada 26 Februari mengungkap detail yang lebih spesifik—dan cukup mengejutkan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa ketika kedua spesies manusia purba itu bertemu, pasangan yang paling sering terbentuk kemungkinan adalah pria Neanderthal dan perempuan manusia modern. Temuan ini membantu menjawab misteri lama tentang apa yang disebut sebagai “Neanderthal deserts” di dalam genom manusia saat ini.

Baca juga: Sejak Kapan Kawin Silang Manusia Modern dan Neanderthal Terjadi?

Warisan Gen Neanderthal dalam Tubuh Kita

Sekitar 600.000 tahun lalu, nenek moyang manusia modern dan Neanderthal berpisah dalam jalur evolusi yang berbeda. Namun, ketika Homo sapiens bermigrasi keluar dari Afrika dan bertemu Neanderthal di Eurasia, mereka kembali berinteraksi—dan kawin silang.

Akibatnya, sebagian besar populasi non-Afrika saat ini membawa rata-rata sekitar 2% DNA Neanderthal. Bahkan, beberapa kelompok di Afrika memiliki hingga 1,5% DNA Neanderthal, yang diwarisi dari manusia modern yang sebelumnya kawin silang di Eurasia lalu kembali ke Afrika.

Namun, para ilmuwan lama dibuat bingung oleh fenomena yang disebut “Neanderthal deserts”—wilayah tertentu dalam genom manusia modern yang hampir tidak memiliki jejak gen Neanderthal.

Yang paling mencolok, gen Neanderthal hampir tidak ditemukan pada kromosom X, kromosom seks yang dimiliki semua manusia (perempuan memiliki dua kromosom X, laki-laki memiliki satu kromosom X dan satu Y). Padahal, di kromosom lain, jejak Neanderthal tersebar lebih luas.

Mengapa bisa begitu?

Baca juga: Ilmuwan Temukan Gigi yang Mengungkap Kawin Silang Manusia Neanderthal

Dulu Diduga Karena “Gen Beracun”

Selama bertahun-tahun, penjelasan yang umum diterima adalah bahwa gen Neanderthal pada kromosom X mungkin tidak cocok secara biologis dengan manusia modern.

“Kami selama bertahun-tahun berasumsi bahwa ‘kekosongan’ ini ada karena gen Neanderthal tertentu secara biologis ‘beracun’ bagi manusia—seperti yang sering terjadi ketika dua spesies berpisah—jadi kami menduga gen-gen itu menimbulkan masalah kesehatan dan kemudian disingkirkan oleh seleksi alam,” ujar Alexander Platt, ahli genetika populasi dari University of Pennsylvania.

Artinya, gen-gen tersebut mungkin menyebabkan gangguan sehingga secara bertahap “dibersihkan” dari populasi manusia modern.

Namun, penelitian terbaru justru mengarah pada penjelasan yang berbeda.

Baca juga: Apakah Manusia Memusnahkan Neanderthal? Bukti Baru Ungkap Kisah yang Jauh Lebih Rumit

Petunjuk dari Kromosom X Neanderthal

Tim peneliti menganalisis genom 73 perempuan dari tiga populasi Afrika modern—!Xoo, Ju|'hoansi, dan Khoisan—yang diketahui tidak memiliki nenek moyang Neanderthal. Genom ini kemudian dibandingkan dengan genom beberapa Neanderthal.

Hasilnya mengejutkan.

Pada kromosom X Neanderthal, para peneliti menemukan lebih banyak jejak DNA manusia modern dibandingkan pada kromosom Neanderthal lainnya.

Jika benar ada ketidakcocokan biologis serius, seharusnya pola ini tidak muncul. Temuan ini justru menunjukkan bahwa kekosongan gen Neanderthal pada kromosom X manusia modern bukan karena ketidakcocokan genetik.

Halaman:


Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau