Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Suara Bisa Jadi Ancaman Privasi: Bagaimana Mencegah AI Mengeksploitasi?

Kompas.com, 27 Februari 2026, 08:54 WIB
Wisnubrata

Penulis

KOMPAS.com - Di era kecerdasan buatan (AI), jejak digital bukan lagi sekadar unggahan media sosial, riwayat pencarian, atau transaksi belanja online. Ada satu hal yang jauh lebih intim dan sering luput dari perhatian: suara kita sendiri.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa suara manusia menyimpan jauh lebih banyak informasi pribadi daripada yang kita sadari. Bahkan, teknologi AI berpotensi memanfaatkannya untuk praktik yang merugikan — mulai dari diskriminasi harga, profiling tidak adil, hingga pelecehan dan penguntitan (stalking).

Suara Mengungkap Lebih dari Sekadar Kata

Jika kita tahu cara mendengarkannya, suara seseorang bisa memberi petunjuk tentang tingkat pendidikan, kondisi emosional, bahkan profesi dan kondisi finansialnya. Manusia biasanya menangkap isyarat seperti gugup, lelah, atau bahagia. Namun komputer mampu melangkah jauh lebih dalam — dan jauh lebih cepat.

Sebuah studi yang dipublikasikan pada 19 November 2025 di jurnal Proceedings of the IEEE mengungkap bahwa pola intonasi dan pilihan kata seseorang dapat mengindikasikan pandangan politik pribadi hingga kondisi kesehatan tertentu.

Artinya, setiap kali kita berbicara — dalam panggilan layanan pelanggan, pesan suara, atau interaksi berbasis suara lainnya — kita mungkin sedang membagikan informasi sensitif tanpa sadar.

Tom Bäckström, profesor teknologi ucapan dan bahasa dari Aalto University sekaligus penulis utama studi tersebut, memperingatkan bahwa potensi penyalahgunaan teknologi ini sangat nyata.

Ia menjelaskan, jika perusahaan dapat memahami kondisi ekonomi atau kebutuhan kita hanya dari suara, maka terbuka peluang terjadinya praktik price gouging (menaikkan harga secara diskriminatif), seperti penetapan premi asuransi yang berbeda berdasarkan profil suara.

“Jika perusahaan asuransi besar menyadari bahwa mereka bisa meningkatkan keuntungan dengan menetapkan harga secara selektif berdasarkan informasi dari suara kita menggunakan AI, apa yang akan menghentikan mereka?” ujarnya.

Baca juga: Evolusi AI, Perlukah Payung Hukum?

Saat Nada Bicara Lebih Penting dari Kata-Kata

Suara bukan hanya soal kata. Nada, ritme, dan cara kita bernapas saat berbicara juga membawa informasi.

Jennalyn Ponraj, pendiri Delaire dan futuris yang meneliti regulasi sistem saraf manusia di tengah perkembangan teknologi, mengatakan: “Sangat sedikit perhatian diberikan pada fisiologi mendengarkan. Dalam situasi krisis, orang tidak terutama memproses bahasa. Mereka merespons nada, irama, prosodi, dan napas, sering kali sebelum kognisi sempat bekerja.”

Dengan kata lain, bahkan sebelum kita memahami isi pembicaraan, otak sudah merespons sinyal emosional dalam suara. Teknologi AI kini belajar melakukan hal yang sama — tetapi dengan kapasitas analisis yang jauh lebih besar.

Bäckström menambahkan bahwa teknologi untuk mendeteksi kemarahan atau toksisitas dalam gim online dan pusat panggilan memang sering dibicarakan dan memiliki tujuan yang etis. Namun ia melihat potensi penggunaan yang lebih meragukan.

Misalnya, sistem layanan otomatis yang menyesuaikan gaya bicara dengan gaya pelanggan. Sekilas terdengar inovatif, tetapi kemampuan adaptasi ini berarti sistem menganalisis informasi pribadi pengguna secara mendalam.

“Saya melihat banyak alat pembelajaran mesin untuk analisis yang melanggar privasi sudah tersedia, dan penggunaannya untuk tujuan jahat bukanlah hal yang mustahil,” kata Bäckström.

“Jika seseorang sudah menyadarinya, mereka bisa memiliki keunggulan yang sangat besar.”

Baca juga: Makin Cerdas, AI Ungkap Keganjilan di Lukisan Karya Raphael

Halaman:


Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau