Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Minum Kopi Lebih Banyak Tak Selalu Berarti Kafein Lebih Tinggi di Tubuh

Kompas.com, 27 Januari 2026, 05:00 WIB
Wisnubrata

Penulis

Sumber Earth.com

KOMPAS.com - Selama ini, banyak orang mengira semakin sering minum kopi, semakin tinggi pula kadar kafein di dalam tubuh. Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak selalu benar. Kuncinya bukan terletak pada jumlah cangkir kopi, melainkan pada bagaimana tubuh memproses kafein setelah masuk ke aliran darah.

Sebuah penelitian yang dipimpin oleh para peneliti dari Karolinska Institutet (KI), Swedia, menemukan bahwa perbedaan genetik kecil dalam metabolisme kafein dapat memengaruhi risiko diabetes tipe 2—bahkan lebih besar daripada kebiasaan minum kopi itu sendiri.

Penelitian ini menunjukkan bahwa orang dengan variasi gen tertentu yang membuat tubuh memecah kafein lebih lambat memiliki sekitar 19 persen risiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2, terlepas dari seberapa banyak kopi yang mereka minum.

Alih-alih mengandalkan data konsumsi kopi, tim peneliti menggunakan pendekatan genetik untuk memperkirakan kadar kafein yang bertahan di dalam darah. Pendekatan ini dipimpin oleh Dr. Susanna C. Larsson, peneliti KI yang memang fokus mengkaji hubungan antara pola makan, genetika, serta risiko penyakit metabolik dan jantung dalam jangka panjang.

Hasilnya menggeser fokus diskusi dari “berapa banyak kopi diminum” menjadi apa yang terjadi pada kafein di dalam tubuh.

Baca juga: Kafein dalam Darah Bisa Pengaruhi Lemak Tubuh dan Risiko Diabetes

Cara Seduh Kopi, Efeknya Bisa Berbeda

Berbagai studi jangka panjang sebelumnya memang mengaitkan konsumsi kopi dengan penurunan risiko diabetes tipe 2. Namun, hasilnya tidak selalu konsisten jika dilihat dari kandungan kafeinnya.

Salah satu alasannya adalah metode penyeduhan kopi. Cara menyeduh memengaruhi senyawa lain dalam kopi—di luar kafein—yang masuk ke tubuh. Beberapa senyawa ini bahkan dapat berdampak negatif.

“Dalam penelitian sebelumnya, kopi diketahui dapat meningkatkan lipid darah yang buruk, yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular,” ujar Larsson.

Artinya, kopi bisa terlihat bermanfaat atau justru merugikan, meski kadar kafein yang dikonsumsi sebenarnya sama.

Mengapa Kadar Kafein Bisa Bertahan Lama?

Kadar kafein dalam darah ditentukan oleh dua faktor utama: berapa banyak yang dikonsumsi dan seberapa cepat hati memecahnya. Kafein diukur dalam plasma darah—bagian cair dari darah—dan akan bertahan lebih lama jika proses metabolisme berjalan lambat.

Studi genetik sebelumnya menemukan bahwa orang dengan metabolisme kafein lambat justru cenderung minum kopi lebih sedikit. Inilah sebabnya minum kopi lebih banyak tidak selalu berarti kadar kafein lebih tinggi dalam tubuh selama berjam-jam.

Untuk menghindari bias gaya hidup, para peneliti menggunakan metode Mendelian randomization, yaitu teknik analisis sebab-akibat berbasis genetika. Mereka memfokuskan pada dua varian gen yang berperan dalam metabolisme kafein.

Karena gen bersifat tetap seumur hidup, pendekatan ini membantu mengurangi pengaruh faktor lain seperti pola makan atau kebiasaan olahraga. Meski begitu, metode ini tidak bisa sepenuhnya menjawab apa yang akan terjadi jika seseorang secara sengaja mengubah dosis atau sumber kafeinnya.

Baca juga: Ini Batas Aman Konsumsi Kafein Harian Menurut Ahli Gizi IPB 

Dampak Kecil tapi Konsisten pada Lemak Tubuh

Sinyal paling jelas dari penelitian ini terlihat pada jumlah lemak tubuh (adipositas). Kadar kafein yang secara genetik diprediksi lebih tinggi dikaitkan dengan penurunan indeks massa tubuh (BMI) sekitar 0,38 poin.

Selain itu, terdapat pengurangan massa lemak sekitar 0,57 kilogram, sementara massa bebas lemak hampir tidak berubah. Temuan ini sejalan dengan uji klinis jangka pendek yang menunjukkan bahwa kafein dapat sedikit membantu penurunan berat badan dan lemak tubuh.

Halaman:


Terkini Lainnya
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Waktu Terbaik Melihat Blue Moon dan Micromoon di Indonesia Malam Ini, Jam Berapa?
Fenomena
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Besok Malam Ada Blue Moon dan Micromoon, Fenomena Langit Apa Itu?
Oh Begitu
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Arkeolog Temukan Harta Karun Emas di Jalur Haji Kuno, Diperkirakan Berusia 1.200 Tahun
Oh Begitu
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Cara Unik Merpati Cari Jalan Pulang, Ternyata Hobi Ambil Jalan Tengah
Oh Begitu
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Lebih Tua dari Stonehenge, Pulau Buatan Kuno di Skotlandia Terungkap Lewat Kamera 3D
Oh Begitu
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Berusia 67.800 Tahun, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ungkap Jalur Migrasi Nenek Moyang Kita
Oh Begitu
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Kontroversi Lukisan Gua Tertua di Dunia, Peneliti BRIN Tantang Uji Lab Ulang
Oh Begitu
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
SpaceX Tunjuk Miliarder Kripto Pimpin Misi Pertama Manusia ke Mars, Siapa Dia?
Oh Begitu
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Bukan Meramal, Begini Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Gempa di Jepang
Oh Begitu
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Bagaimana Cara Ilmuwan Menghitung Umur Lukisan Gua Prasejarah?
Oh Begitu
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Ada Blue Moon dan Micromoon di 31 Mei 2026, Apa Itu?
Oh Begitu
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Cerita Peneliti BRIN Berburu Cap Tangan Tertua Dunia di Muna, Berawal dari Penasaran
Oh Begitu
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Diakui Guinness World Records, Lukisan Prasejarah 67.800 Tahun di Sulawesi Pecahkan Rekor Dunia
Oh Begitu
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Apakah Laba-laba termasuk Serangga?
Oh Begitu
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Foto Satelit: Guratan Emas Kepung 'Danau Jiwa' yang Sakral di Ghana
Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau