Penulis
KOMPAS.com - Selama ini, banyak orang mengira semakin sering minum kopi, semakin tinggi pula kadar kafein di dalam tubuh. Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak selalu benar. Kuncinya bukan terletak pada jumlah cangkir kopi, melainkan pada bagaimana tubuh memproses kafein setelah masuk ke aliran darah.
Sebuah penelitian yang dipimpin oleh para peneliti dari Karolinska Institutet (KI), Swedia, menemukan bahwa perbedaan genetik kecil dalam metabolisme kafein dapat memengaruhi risiko diabetes tipe 2—bahkan lebih besar daripada kebiasaan minum kopi itu sendiri.
Penelitian ini menunjukkan bahwa orang dengan variasi gen tertentu yang membuat tubuh memecah kafein lebih lambat memiliki sekitar 19 persen risiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2, terlepas dari seberapa banyak kopi yang mereka minum.
Alih-alih mengandalkan data konsumsi kopi, tim peneliti menggunakan pendekatan genetik untuk memperkirakan kadar kafein yang bertahan di dalam darah. Pendekatan ini dipimpin oleh Dr. Susanna C. Larsson, peneliti KI yang memang fokus mengkaji hubungan antara pola makan, genetika, serta risiko penyakit metabolik dan jantung dalam jangka panjang.
Hasilnya menggeser fokus diskusi dari “berapa banyak kopi diminum” menjadi apa yang terjadi pada kafein di dalam tubuh.
Baca juga: Kafein dalam Darah Bisa Pengaruhi Lemak Tubuh dan Risiko Diabetes
Berbagai studi jangka panjang sebelumnya memang mengaitkan konsumsi kopi dengan penurunan risiko diabetes tipe 2. Namun, hasilnya tidak selalu konsisten jika dilihat dari kandungan kafeinnya.
Salah satu alasannya adalah metode penyeduhan kopi. Cara menyeduh memengaruhi senyawa lain dalam kopi—di luar kafein—yang masuk ke tubuh. Beberapa senyawa ini bahkan dapat berdampak negatif.
“Dalam penelitian sebelumnya, kopi diketahui dapat meningkatkan lipid darah yang buruk, yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular,” ujar Larsson.
Artinya, kopi bisa terlihat bermanfaat atau justru merugikan, meski kadar kafein yang dikonsumsi sebenarnya sama.
Kadar kafein dalam darah ditentukan oleh dua faktor utama: berapa banyak yang dikonsumsi dan seberapa cepat hati memecahnya. Kafein diukur dalam plasma darah—bagian cair dari darah—dan akan bertahan lebih lama jika proses metabolisme berjalan lambat.
Studi genetik sebelumnya menemukan bahwa orang dengan metabolisme kafein lambat justru cenderung minum kopi lebih sedikit. Inilah sebabnya minum kopi lebih banyak tidak selalu berarti kadar kafein lebih tinggi dalam tubuh selama berjam-jam.
Untuk menghindari bias gaya hidup, para peneliti menggunakan metode Mendelian randomization, yaitu teknik analisis sebab-akibat berbasis genetika. Mereka memfokuskan pada dua varian gen yang berperan dalam metabolisme kafein.
Karena gen bersifat tetap seumur hidup, pendekatan ini membantu mengurangi pengaruh faktor lain seperti pola makan atau kebiasaan olahraga. Meski begitu, metode ini tidak bisa sepenuhnya menjawab apa yang akan terjadi jika seseorang secara sengaja mengubah dosis atau sumber kafeinnya.
Baca juga: Ini Batas Aman Konsumsi Kafein Harian Menurut Ahli Gizi IPB
Sinyal paling jelas dari penelitian ini terlihat pada jumlah lemak tubuh (adipositas). Kadar kafein yang secara genetik diprediksi lebih tinggi dikaitkan dengan penurunan indeks massa tubuh (BMI) sekitar 0,38 poin.
Selain itu, terdapat pengurangan massa lemak sekitar 0,57 kilogram, sementara massa bebas lemak hampir tidak berubah. Temuan ini sejalan dengan uji klinis jangka pendek yang menunjukkan bahwa kafein dapat sedikit membantu penurunan berat badan dan lemak tubuh.